Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang IV Ditunda

Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang IV Ditunda
Pendaftaran calon peserta prograam Kartu Prakerja. (Foto: Antara / Moch Asim)
Herman / YUD Senin, 8 Juni 2020 | 18:44 WIB

Jakarta, Beritasatu,com - Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari memastikan bahwa pendaftaran Kartu Prakerja gelombang IV belum akan dibuka setelah Lebaran seperti yang sebelumnya dijanjikan. Menurut Denni, manajamen Kartu Prakerja hingga saat ini masih melakukan kajian mengenai keberlangsungan dari program tersebut.

Baca juga: 300.000 Peserta Kartu Prakerja Terima Insentif Rp 600.000 Per Bulan

"Saya minta maaf, dengan segala kerendahan hati meminta maaf bahwa saya janji-jani surga. Waktu itu saya mengatakan setelah Lebaran, tetapi saya harus mengatakan bahwa komite saat ini sedang melakukan review bersama dengan lembaga-lembaga pengawas," kata Denni dalam konferensi pers virtual Hasil Survei Penerima Manfaat Kartu Prakerja, Senin (8/6/2020).

Denni menambahkan, manajemen Kartu Prakerja betul-betul ingin memastikan program Kartu Prakerja menjadi seperti apa yang diharapkan oleh publik dan juga seluruh institusi. Untuk itu, manajemen masih ingin memperbaiki segala proses yang terkait dengan Kartu Prakerja.

"Jadi sabar bahwa ini sedang berproses, tetapi insyaallah tidak lama lagi program Kartu Prakerja gelombang IV akan dirilis," kata Denni.

Baca juga: Pemerintah Telah Pastikan Penunjukan Provider Kartu Prakerja Sesuai Prosedur

Pada tahun ini, anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk program Kartu Prakerja sebesar Rp 20 triliun untuk 5,6 juta peserta. Sedangkan yang sudah diterima sebagai peserta Kartu Prakerja gelombang pertama hingga ketiga sebanyak 680.000 orang.

Direktur Komunikasi, Kemitraan dan Pengembangan Ekosistem Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja, Panji W. Ruky menambahkan, saat ini sebanyak 400.000 peserta sudah menuntaskan pelatihan dan berhak menerima insentif Rp 600.000 per bulan selama empat bulan. Insentif tersebut saat ini sudah diterima oleh sekitar 360.000 peserta.

“Untuk peserta yang sudah menuntaskan pelatihan dan kemudian bisa bekerja kembali atau usaha sendiri, saat ini kami belum memiliki datanya. Tetapi ke depan kami akan melakukan survei untuk melihat hal tersebut,” kata Panji.

Baca juga: Menkeu soal Kartu Prakerja: Pemerintah Tak Pernah Teken Tender dengan 8 Platform

Menurut Panji, manajemen Kartu Prakerja juga telah melakukan diskusi dengan banyak asosiasi atau organisasi perdagangan untuk melihat kebutuhan yang muncul saat nantinya ekonomi mulai pulih. Dari hasil diskusi tersebut, manajemen Kartu Prakerja akan melakukan pemetaan terhadap jenis pelatihan yang memang paling dibutuhkan oleh sektor-sektor yang nantinya paling pertama pulih. Hal ini juga merupakan bagian dari proses review yang tengah dilakukan.

“Memang tidak ada jaminan peserta yang telah mengikuti Kartu Prakerja akan mendapatkan pekerjaan. Bahkan yang lulus dari Universitas Indonesia juga tidak ada jaminan. Tetapi kita berusaha dengan memastikan bahwa pelatihan yang diberikan dapat meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja,” kata Panji.

Mayoritas Terdampak Covid-19

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga telah melakukan survei Penerima Manfaat Kartu Prakerja. Sampel dari survei ini diperoleh secara random dari daftar penerima manfaat Kartu Prakerja yang sudah menerima insentif tunainya sebanyak 202.000 peserta per 16 Mei 2020. Untuk dapat merepresentasikan parameter pada tingkat nasional, jumlah sampel yang digunakan sekitar 4.700 sampel.

Ekonom TNP2K Elan Satriawan menyampaikan, mayoritas penerima manfaat Kartu Prakerja atau 80,8% adalah yang menganggur saat melamar Kartu Prakerja. Sebagian besar melaporkan sebagai yang terdampak Covid-19 seperti di-PHK, dirumahkan, sulit mencari pekerjaan, dan lainnya.

“Pada Januari 2020, sebanyak 55,4% responden mengaku bekerja sebagai pegawai, buruh atau karyawan. Namun pada saat mendaftar program Kartu Prakerja, 80,8% statusnya tidak bekerja atau tidak sedang berusaha,” kata Elan Satriawan.

Dalam memilih jenis pelatihan, mayoritasnya atau 2.327 responden memilih pelatiahn yang cepat dan mudah, sedangakan 1.547 responden beralasan pelatihan tersebut sesuai dengan kebutuhan kerja saat ini. 47% responden menyelesaikan pelatihan pertama kurang dari empat jam, 26,8% antara empat sampai delapan jam, 16,2% lebih dari satu hari, dan 9,9% antara delapan jam sampai satu hari.

Sementara itu untuk pemanfaatan dana insentif, mayoritasnya atau 4.105 responden mengaku menggunakan insentif untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan 1.228 respon mengaku menggunakan dana insentif untuk modal usaha.

Terkait harapan setelah mengikuti program Kartu Prakerja, di mana responden boleh memilih lebih dari satu pilihan, mayoritasnya atau sebanyak 3.185 responden berharap pelatihan tersebut dapat menambah keterampilan, 3.177 responden berharap dapat meningkatkan keterampilan, 2.796 responden berharap mendapatkan sertifikat, 2.577 responden berharap menerima insentif, dan 1.969 berharap bisa berwirausaha.



Sumber: BeritaSatu.com