Mahasiswa Masuk ke Sleman Wajib Rapid Test

Mahasiswa Masuk ke Sleman Wajib Rapid Test
Ilustrasi tes cepat Covid-19. (Foto: Antara)
Fuska Sani Evani / LES Senin, 8 Juni 2020 | 16:11 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Seluruh mahasiswa dan calon mahasiswa yang akan kembali ke Kabupaten Sleman DI Yogyakarta, wajib rapid diagnostic test (RDT) Covid-19 minimal satu pekan sebelum masuk.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sleman Shavitri Nurmaladewi, Senin (8/6/2020) mengatakan, ketentuan itu berlaku untuk semua mahasiswa dan mahasiswa baru yang akan mulai perkuliahan di perguruan tinggi yang ada di Sleman.

“Ini merupakan antisipasi lonjakan penularan Covid-19, karena saat ini masih terjadi transmisi impor di Sleman. Lebih-lebih jika OTG (Orang Tanpa Gejala) yang biasanya adalah anak muda,” katanya.

Pemkab Sleman juga telah melakukan koordinasi dengan semua pimpinan perguruan tinggi yang ada di Sleman untuk membahas persiapan masuknya kembali mahasiswa.

“Termasuk juga koordinasi dengan kepala desa, dukuh, RT/RW dan pemilik pondokan untuk memastikan bahwa mahasiswa bersangkutan telah melakukan tes cepat Covid-19 dan membawa surat keterangannya,” katanya.

Shavitri juga menegaskan, wajib rapid test ini juga merupakan antisipasi penolakan dari para pemilik kos dan masyarakat setempat.

Sementara itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mulai mempersiapkan rencana penerapan new normal dalam perkuliahan. Meski masih menerapkan kuliah daring pada semester ganjil yang dimulai September mendatang, UGM juga menerapkan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) secara daring.

Dikatakan Wakil Rektor Bidang Pendidikan Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM, Profr Djagal Wiseso Marseno, ospek di UGM yang disebut Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) diselenggarakan pada 7-12 September 2020 secara daring, juga perkuliahan yang dimulai September-Oktober 2020.

“Kuliah tatap muka, baru akan diterapkan pada November-Desember mendatang,” katanya.

Pada Juni-Agustus 2020, UGM akan membuka kampus hanya untuk mahasiswa yang menjalankan riset dan tugas akhir. “Saat beraktivitas di kampus, mahasiswa harus mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, cuci tangan, jaga jarak, serta tidak berkerumun,” ujarnya.

Menurutnya, hanya sekitar 25 persen mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan riset dan tugas akhir di kampus UGM dari populasi mahasiswa S1, 50 persen populasi mahasiswa S2, dan 30 persen mahasiswa S3.

Djagal Wiseso Marseno juga mengungkapkan, sebelum kembali ke UGM, mahasiswa diminta untuk melakukan tes bebas Covid-19 dari daerah asal. Surat keterangan sehat bebas Covid-19 tersebut dibawa untuk keamanan dalam perjalanan.

 



Sumber: BeritaSatu.com