Boni Hargen: Hati-hati Ada Kelompok Rancang Kudeta di Tengah Pandemi

Boni Hargen: Hati-hati Ada Kelompok Rancang Kudeta di Tengah Pandemi
Boni Hargens. (Foto: Antara)
Yustinus Paat / RSAT Kamis, 4 Juni 2020 | 22:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Analis Politik Senior sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens, mengaku sudah mengantongi nama-nama para tokoh oposisi yang ingin merancang kudeta terhadap pemerintahan yang sah di tengah pandemi corona saat ini. Menurut Boni, kelompok ini ingin memakai sejumlah isu sebagai materi provokasi dan propaganda politik.

“Isu tersebut di antaranya isu komunisme dan isu rasisme Papua menyusul gejolak akibat kematian warga kulit hitam George Floyd di Minneapolis, Amerika Serikat. Isu lain yang mereka gunakan adalah potensi krisis ekonomi sebagai dampak inevitable dari pandemi Covid-19. Kelompok ini juga membongkar kembali diskursus soal Pancasila sebagai ideologi negara,” ujar Boni dalam keterangannya, Kamis (4/6/2020).

Apapun isu yang mereka gunakan, kata Boni, itu hanyalah instrumen untuk melancarkan serangan-serangan politik dalam rangka mendelegitimasi pemerintahan yang sah saat ini. Boni menilai, kelompok ini tak bisa disebut sebagai “barisan sakit hati” semata karena ini bukan lagi dendam politik semata. Mereka adalah “laskar pengacau negara” dan “pemburu rente”.

“Mereka adalah gabungan, pertama kelompok politik yang ingin memenangkan pemilihan presiden 2024, kedua, kelompok bisnis hitam yang menderita kerugian karena kebijakan yang benar selama pemerintahan Jokowi. Ketiga, ormas keagamaan terlarang seperti HTI yang jelas-jelas ingin mendirikan negara syariah, dan keempat, barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang,” terang Boni.

Untuk itu, Boni lebih suka menyebut mereka sebagai “laskar pengacau negara” ketimbang “barisan sakit hati”. Disebut pengacau, kata Boni, karena kelompok tersebut ingin merusak tatanan demokrasi dengan berusaha menjatuhkan pemerintahan sah hasil pemilu demokratis, dan karena ingin mempertanyakan kembali Pancasila sebagai ideologi negara. Ada intensi untuk menuduh Pancasila sebagai bukan ideologi.

“Mereka juga “pemburu rente” karena memiliki orientasi mencari keuntungan finansial. Ada bandar di balik gerakan mereka, mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas. Bandar menengah misalnya oknum pengusaha pom bensin dan perkebunan asal Bengkulu, dan bandar papan atas ya tak perlu saya sebutkan di sini,” ujar doktor filsafat yang pernah studi di Jerman dan Amerika Serikat itu.

Boni juga mengaku sangat menyayangkan pernyataan dari Guru besar Pemikiran Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin terkait pemakzulan terhadap pemimpin.

“Beliau kan panutan umat, tokoh yang didengar banyak orang. Tak bijak jika ikut berkecimpung memperkeruh kolam yang bersih. Negara ini butuh negarawan dari segala lapisan, supaya bisa menjadi bangsa besar. Tokoh agama dan intelektual adalah panutan masyarakat. Maka, harus ada keteladanan moral dalam bertindak dan berbicara di ruang publik,” tekan mantan inisiator relawan Jokowi tersebut.

“Saya juga heran dengan bung Refly Harun. Kenapa menjadi begitu galak setelah tidak menjadi komisaris? Kan jadinya ada kesan tidak baik seolah-olah ada vested interest di balik sikap kritisis beliau terhadap pemerintah. Banyak cara kok untuk memberi masukan pada pemerintah, tanpa harus membuat gelombang keresahan yang merugikan masa depan bangsa dan negara,” kata Boni.



Sumber: BeritaSatu.com