Pariwisata Anjlok, Pertumbuhan Sektor Akomodasi dan Mamin di DIY Negatif

Pariwisata Anjlok, Pertumbuhan Sektor Akomodasi dan Mamin di DIY Negatif
Deputir Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DI Yogyakarta, Miyono. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Kamis, 21 Mei 2020 | 11:14 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com – Pertumbuhan sektor akomodasi dan penyediaan makan minum (mamin) di DI Yogyakarta tumbuh negatif. Hal tersebut dikarenakan kampus dan objek wisata ditutup sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

“Pertumbuhan yang negatif itu mengakibatkan perekonomian DIY selama triwulan I 2020 terjadi kontraksi 0,17%,” ujar Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Miyono dalam webinar bertema “Perekonomian dan Bisnis DIY Terkini” di Yogyakarta, Rabu (20/5/2020).

Webinar tersebut digelar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY. Selain Miyono, pembicara lain adalah Wakil Ketua FBE Universitas Gadjah Mada (UGM) Amirullah Setya Hardi dan Sekretaris ISEI Yogyakarta yang juga dosen FBE UAJY, Y Sri Susilo. Bertindak selaku moderator adalah Samiaji Sarosa (dosen FBE UAJY). Acara dibuka oleh Budi Suprapto (dekan FBE UAJY).

Menurut Miyono, kontraksi sebesar 0,17% (yoy) berlawanan arah dibandingkan pertumbuhan ekonomi periode yang sama pada 2019 sebesar 7,51% . Jika dibanding triwulan IV 2019, perekonomian DIY mengalami kontraksi sebesar 5,48%.

Selain sektor akomodasi dann mamin, industri pengolahan mengalami kontraksi yang cukup dalam. Kontraksi terbesar tejadi pada industri kayu dan industri furnitur akibat berkurangnya ekspor luar negeri.

Penyebab lain adalah sektor pertanian mengalami kontraksi yang disebabkan mundurnya musim hujan 2019 sehingga panen tanaman padi masih rendah. Dimungkinkan, pada triwulan II-2020 kontraksi bisa meningkat dikarenakan dampak pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Amilrullah Setya Hardi menambahkan, pelaku usaha di DIY sudah merasakan dampak pandemi Covid-19 dan telah menyesuaikan diri dengan melakukan perubahan perilaku agar usahanya tetap bertahan. Dikatakan, strategi yang ditelakukan pelaku usaha di DIY pada umumnya dengan melakukan penutupan usaha sementara, merumahkan karyawan sementara, membuka usaha disertai pengurangan jam kerja, mencari peluang usaha baru, dan kombinasi dari hal tersebut.

Menurut Amirullah, pelaku usaha di DIY sebagian sudah mempunyai rencana terkait usahanya setelah pandemi Covid-19 atau yang disebut sebaga era “new normal”. Rencana itu termasuk dengan penguasatan pemasaran, revitalisasi bisnis, dan efisiensi operasional usaha.

Sekretaris ISEI Yogyakarta, Y Sri Susilo mengatakan, sektor pariwisata di DIY merupakan sektor yang paling awal dan paling terdampak pandemi Covid-19. Dampak terhadap sektor pariwisata tersebut dapat dilihat dari 97 hotel tutup sementara per April 2020.

Kemudian, tempat wisata, seperti candi, pantai, museum, desa wisata, kawasan wisata, kraton, dan kebun binatang, tutup sementara. Kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) juga berhenti total. Dikatakan, total pekerja sektor pariwisata 24.885 orang, dirumahkan 21.531 orang (86,52%), PHK 499 orang (2,01%), dan 2.825 pegawai (11,35%) masih bekerja (data April 2020). Sebagian besar hotel dan restoran menyatakan mampu bertahan sampai Juni 2020.

“Kontribusi sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada 2019 mencapai 17,46%,” tegas Y Sri Susilo. Jika kondisi tersebut berkepanjangan maka akan semakin menekan sektor pariwisata dan perekonomian DIY.

Webinar yang diselenggrakan oleh FBE UAJY, BI DIY, dan ISEI DIY tersebut diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri atas perwakilan akademisi, pelaku usaha, dan birokrasi. “Webinar terkait kondisi perekonomian dan bisnis DIY terkini akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan,” kata Y Sri Susilo.



Sumber: BeritaSatu.com