Pembelajaran Jarak Jauh Sebaiknya Diterapkan Bertahap

Pembelajaran Jarak Jauh Sebaiknya Diterapkan Bertahap
Seorang ibu merekam video anaknya ujian hafalan sekolah untuk dikirim ke guru dengan gawai dari rumah, karena sekolah terhenti selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa 28 April 2020. (Foto: Antara Foto)
Maria Fatima Bona / IDS Kamis, 14 Mei 2020 | 18:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 memaksa semua pihak untuk belajar hal baru. Khusus bidang pendidikan, sudah saatnya untuk mencoba hal-hal baru di masa mendatang termasuk memperkenalkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Namun menurut anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Doni Koesoema, di masa pandemi ini, pemerintah sebaiknya tidak langsung menerapkan PJJ berbasis daring. Prosesnya harus dilakukan bertahap.

Salah satu alternatifnya adalah memperkenalkan pembelajaran blended learning atau penggabungan sistem pembelajaran daring dan luring. Ini penting karena mempertimbangkan ekonomi orang tua maupun guru di tengah pandemi.

“PJJ daring itu sesuatu yang bagus. Namun berita buruknya adalah, di tengah pandemi Covid-19, ekonomi turun kemudian orang tua dan guru banyak terdampak Covid-19. Biaya kuota untuk PJJ mahal dan memberatkan orang tua, siswa, dan guru,” kata Doni kepada Beritasatu, Kamis (14/5/2020).

Doni menyebutkan, beberapa sekolah yang ingin terlihat maju malah menjadikan PJJ dengan jadwal pelajaran normal di tengah pandemi. Ini tentu memberatkan guru, orang tua, dan siswa karena mereka terpaksa harus memakai berbagai platform dengan biaya sangat mahal bila dilakukan setiap hari.

“Kalau dilakukan kadang-kadang enggak masalah, tapi ini rata-rata guru menghabiskan lima gigabyte per hari untuk PJJ. Ini tentu memberatkan orang tua juga,” ujarnya.

Untuk itu, Doni mengharapkan pemerintah mau mempertimbangkan blended learning karena tidak semua daerah bisa mengakses internet. Bahkan, masih ada daerah yang tidak dialiri listrik.

"Jadi harus ada solusi untuk mereka. Indonesia bukan Jakarta saja. Di Jakarta saja guru-gurunya mengeluhkan masalah kuota internet. Apalagi di daerah lain," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 mendorong siswa, guru, dan orang tua melakukan berbagai inovasi dalam sistem PJJ. Untuk itu, pihaknya akan mengkaji dan mengadopsi sistem pembelajaran kreatif selama masa pandemi ini untuk diperkuat dengan teknologi memadai di masa mendatang.

Dalam telekonferensi tentang "Adaptasi Sistem Pendidikan Selama Covid-19" di Jakarta, Nadiem mengatakan, meski terdapat banyak kendala seperti masih ada daerah belum terjangkau jaringan internet, tetapi PJJ selama pandemi ini memberi dampak positif. Guru semakin kreatif melakukan berbagai upaya agar siswa dapat tetap belajar.

“Teknologi adalah bagian inti dari rencana di Kemdikbud untuk mendukung guru dan orang tua dalam meningkatkan kemampuan mereka untuk lebih pembelajaran, mengajar di tingkat yang tepat, dan benar-benar berfokus pada kompetensi daripada konten,” kata Nadiem.

Untuk memperkuat teknologi ini, Nadiem menyebutkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan menjalin kerja sama lintas kementerian. Misalnya, untuk jaringan internet, karena terkait dengan infrastruktur, maka perlu kerja sama dengan semua pihak.



Sumber: BeritaSatu.com