Satelit Nusantara Dua Gagal Mengorbit, Layanan Lembaga Penyiaran Terancam Terganggu

Satelit Nusantara Dua Gagal Mengorbit, Layanan Lembaga Penyiaran Terancam Terganggu
Persiapan pembuatan Satelit Nusantara Dua. (Foto: Dokumen PSN)
Herman / JAS Jumat, 10 April 2020 | 15:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Satelit Nusantara Dua senilai sekitar US$ 200 juta yang meluncur dari Xichang Satelllite Launch Center (XLSC) di Xichang, Tiongkok, Kamis (9/4/2020) malam waktu setempat gagal mengorbit.

Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Adi Rahman Adiwoso menjelaskan, setelah proses lift off berjalan dengan baik, terjadi anomali ketika memasuki tahap pelepasan roket tingkat tiga, sehingga satelit tidak bisa mencapai orbit yang ditetapkan.

“Satelit tersebut jatuh ke lautan dan tidak bisa diselamatkan. Namun sudah diasuransikan secara penuh,” terang Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, di acara konferensi pers online yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jumat (10/4/2020).

Satelit Nusantara Dua yang tadinya akan dioperasikan oleh PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera atau (PSNS), perusahaan joint venture antara PSN bersama Indosat Ooredoo dan PT Pintar Nusantara Sejahtera, disiapkan untuk menggantikan satelit Palapa-D milik Indosat Ooredoo yang berada di 113 Bujur Timur (BT) yang akan berakhir masa operasinya paling lambat akhir Juli 2020.

Dijelaskan Menkominfo, Johnny G Plate, satelit Palapa-D saat ini tengah melayani 23 lembaga penyiaran televisi dan delapan radio. Atas kegagalan satelit Nusantara Dua mengorbit yang harusnya menggantikan satelit Palapa-D, Kemkominfo saat ini tengah mengupayakan beberapa langkah lanjutan. Pasalnya sebagian besar televisi nasional menggunakan layanan satelit Palapa-D, dan juga terkait pemanfaatan slot orbit 113 Bujur Timur (BT) untuk satelit Indonesia.

“Permasalahan ini tentu akan diantisipasi oleh Kominfo ke International Telecommunication Union (ITU). Kementerian Kominfo akan bekerja sama dengan operator satelit untuk memastikan bahwa layanan penyiaran televisi dan radio yang selama ini dilakukan oleh satelit Palapa-D akan tetap dijamin dan tetap memberikan layanan kepada seluruh masyarakat Indonesia,” kata Jhonny.

Di dalam forum ITU, Jhonny mengatakan Kementerian Kominfo juga akan menyampaikan agar kegagalan peluncuran satelit Nusantara Dua tidak menimbulkan efek yang merugikan bagi penggunakan filing satelit Indonesia, sehingga Indonesia dapat mempertahankan hak penggunaan satelit di slot orbit 113 Bujur Timur tersebut.

“Kami telah melakukan pembicaraan, baik dengan Indosat maupun bersama mitranya, disampaikan kepada kami bahwa akan dilakukan berbagai kebijakan untuk memastikan tidak terjadi interupsi pelayanan satelit kepada perusahaan atau lembaga penyiaran. Satelit Palapa-D saat ini hampir melayani seluruh lembaga penyiaran Indonesia. Karenanya, jaminan dan usaha akan dilakukan sebagai backup plan untuk menggantikan Palapa-D yang sebentar lagi akan berhenti beroperasi,” terang Jhonny.

Chief Business Officer (CBO) Indosat Oooredoo, Bayu Hanantasena menambahkan, untuk memastikan layanan yang selama ini diberikan satelit Palapa-D tetap berjalan dengan baik dan tidak mengalami gangguan, langkah jangka pendek yang telah disiapkan adalah dengan mencari satelit pengganti.

“Kami akan terus memastikan layanan yang diberikan kepada pelanggan, khususnya pelanggan broadcaster, penyiaran maupun pelanggan untuk komunikasi bisa kami layani dengan baik dan tidak terganggu layanannya,” ujar Bayu.

Satelit Nusantara Dua yang dibuat oleh China Great Wall Industry Corporation memiliki berat pada saat diluncurkan 5.550 kilogram dan bobot roket peluncurnya mencapai 425.800 kilogram. Dengan kapasitas 20x36 MHz transponder C-band FSS dan 9.5 gigabits per second (Gbps) HTS, satelit dapat mencakup wilayah seluruh Indonesia, Asia Pasifik, hingga Australia untuk transponder C-band dan seluruh Indonesia untuk HTS.



Sumber: BeritaSatu.com