Peringatan Jumat Agung Singgung Keagungan Sikap Pekerja Medis Covid-19

Peringatan Jumat Agung Singgung Keagungan Sikap Pekerja Medis Covid-19
Pdt Dr Albertus Patty menyampaikan khotbah peringatan Jumat Agung di GKI Maulana Yusuf, Bandung. (Foto: istimewa)
Dwi Argo Santosa / DAS Jumat, 10 April 2020 | 13:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah wabah corona, hari raya Jumat Agung umat Kristiani diperingati jemaat di rumah. Sebagian gereja melakukan siaran langsung melalui sambungan internet atau live streaming, Jumat (10/4/2020) dengan materi khotbah yang tidak jauh dari masa sekarang, Covid-19. Salah satunya adalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) Maulana Yusuf, Bandung.

GKI Maulana Yusuf mengambil tema besar Paskah 2020, "Joy Over Fear". Sedangkan pada peringatan Jumat Agung tema khotbah adalah "Keagungan Sebuah Kematian".

Ketua Persekutuan Gereja-gereja lndonesa (PGI) 2014-2019, Pdt Dr Albertus Patty, memimpin ibadah yang dimulai pukul 10.00 WIB. Bacaan Alkitab diambil dari Kitab Yohanes 19: 28-38, yakni salah satu bagian proses kematian Yesus.

Patty mengangkat keagungan Yesus pada saat Yesus merespons kematian-Nya. Patty membukanya dengan pertanyaan mengelitik. Bila Yesus adalah penyelamat manusia, sosok yang membebaskan umat dari dosa, dan pribadi yang baik, bukankah mestinya Ia tidak mati dan disalib? Nyatanya Yesus mati dengan cara tragis. Mengerikan.

Pertanyaan soal cara kematian, menurut Patty, muncul dari mitos bahwa cara mati orang saleh dan baik pasti agung karena ia dicintai Tuhan. Sebaliknya, penjahat, para koruptor, atau penipu, bakal mati secara tragis dan mengerikan sebagai cara Tuhan memberikan hukuman.

Menggambarkan mitos dalam konteks kekinian, Patty menyebut, saat ini ada juga pendeta yang menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan bentuk hukuman Allah kepada manusia. “Ini mitos,” tegas Patty.

Ditambahkan, siapa pun bisa terjangkit Covid-19. Buktinya, ada orang baik ada juga orang jahat yang terpapar. Ada rakyat biasa ada juga pejabat tinggi yang terjangkit corona. “Covid-19 menghantam siapa saja. Anda ke gereja atau Anda tidak ke gereja (bisa terpapar), Anda suka berdoa atau tidak, Covid-19 menghantam siapa pun,” katanya.

Kepada mereka yang saat ini terpapar corona, Patty memberikan pesan, jangan percaya bila ada yang mengatakan bahwa ini semua karena dosa. “Tetap tenang dan tetap berdoa, karena Allah mengasihi Anda,” katanya.

Mitos-mitos tersebut menurut Patty membawa orang pada pertanyaan mengapa Yesus mati dengan cara tragis. Patty kemudian mengutip 1 Korintus 1:18 yang menyebutkan bahwa pemberitaan tentang kematian Yesus adalah kebodohan bagi mereka yang tidak percaya. Namun demikian, pemberitaan itu adalah kekuatan Allah bagi mereka yang percaya dan diselamatkan. “Karena justru pada peristiwa salib itu Yesus menunjukkan cinta-Nya kepada manusia dan kepada dunia,” katanya.

Yesus rela mati untuk menanggung dosa manusia. Pada peristiwa penyaliban, Yesus rela menderita dan mati bagi umat manusia. Dalam peristiwa ini umat diajak melihat keagungan Yesus merespons kematian. Ia taat pada kehendak Bapa di surga.

Kondisi ini mengingatkan Patty pada para tenaga medis yang tengah berjuang menolong pasien Covid-19 menuju kesembuhan. Mereka rela memberikan dirinya merawat pasien meski tahu risiko besar ada di depan mata, yakni terpapar dan bahkan mati karena corona. Sejumlah tenaga medis terbukti meninggal karena terpapar Covid-19. Namun, para tenaga medis ini maju terus karena mereka ingin melayani banyak orang, ingin memberikan yang terbaik dan mempersembahkan profesinya bagi kemanusiaan.

“Inilah letak keagungan para perawat, dokter, pegawai rumah sakit dan banyak orang lainnya yang rela memberikan diri untuk melawan Covid-19 melalui pelayanan kepada banyak orang,” kata Patty.

Selain taat, keagungan tampak ketika Yesus menjeput kematian sendirian. Tidak ada murid yang mengiringi-Nya. Mungkin murid-muridnya takut ditangkap dan ikut disalibkan. Mungkin juga murid-muridnya malu karena sosok yang diharapkan menjadi penyelamat justru mati.

Pada poin ini, Patty mengajak umat untuk mengoreksi diri. Apakah umat akan memilih besikap seperti murid Yesus yang malu memiliki Juruselamat yang mati secara tragis, lantas meninggalkan peristiwa penyaliban padahal Yesus sendirian menghadapinya demi menebus dosa umat manusia?

Kagungan dalam kematianNya juga bisa dilihat ketika Yesus menyikapi kondisi di sekitarnya. Di tengah orang yang menista, mengambil baju, dan menganiaya-Nya, bukan makian, kata-kata kebencian, atau kemarahan melainkan kata-kata emas dari mulut Yesus, “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat....”

Pada penutup khotbah, Patty menyerukan agar di dalam situasi apa pun umat tetap beriman kepada Yesus, sumber kekuatan orang percaya. Di tengah situasi apa pun jangan dikuasai oleh ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, tetapi sebaliknya dikuasai oleh spirit Yesus Kristus sehingga umat dimampukan menjadi manusia yang berintegritas mampu melayani dan menolong siapa pun.



Sumber: BeritaSatu.com