Pemberlakuan PSBB, Banten Siapkan Jaring Pengaman Sosial

Pemberlakuan PSBB, Banten Siapkan Jaring Pengaman Sosial
Bupati Tangerang Zaki Iskandar (kiri), Gubernur Banten Wahidin Halim (tengah), Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi (kanan) memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi terkait COVID-19 di Pendopo Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Minggu, 15 Maret 2020. (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/aww.)
Laurens Dami / JAS Jumat, 3 April 2020 | 16:35 WIB

Serang, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menyiapkan jaring pengaman sosial untuk memberikan perhatian terhadap masyarakat yang terdampak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan di Provinsi Banten terdapat 16.730 industri baik besar, menengah maupun kecil. Penekanan pemerintah agar memberikan perhatian terhadap warga yang terdampak, tim sudah menghitung termasuk di dalamnya Badan Pusat Statistik (BPS) Banten.

"Bahwa 40 persen dari 11 juta penduduk Banten yang terkena dampak ekonomi. Pemprov Banten sudah melakukan simulasi dan mencoba menghitung berapa dana yang dibutuhkan dan menghitung juga proyek-proyek pemerintah yang kita geser atau relokasi anggarannya. Perhatian pemerintah juga terhadap hajat hidup masyarakat yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya," ujar Wahidin Halim, Jumat (3/4/2020).

Menurut Wahidin, PSBB di Banten sudah dilaksanakan secara baik misalnya para aparatur sipil negara (ASN) bekerja dari rumah atau work from home (WFH), sekolah diliburkan (belajar dari rumah), guru juga mengajar dari rumah dengan sistem daring/online.

“Kebijakan dari Pemerintah Pusat untuk bekerja dari rumah sudah dilaksanakan di Provinsi Banten. Termasuk imbauan terkait kegiatan keagamaan, imbauan tidak berkumpul dan menghindari keramaian/kerumunan sudah dilaksanakan. Kebijakan PSBB akan berjalan baik di Banten karena didukung penuh oleh TNI dan Polri,” ujarnya.

ODP Meningkat

Menurut Wahidin, dalam keseharian masyarakat Banten melakukan aktivitas hilir mudik Banten-Jakarta dan sebaliknya. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Provinsi Banten.

Sampai hari ini, Jumat (3/4/2020) jumlah ODP di Provinsi Banten sudah mencapai 3.077 orang. Sebanyak 2.634 orang masih dalam pemantauan, dan sebanyak 443 orang dinyatakan sembuh. ODP ini termasuk di dalamnya para TKI yang baru datang dari Malaysia.

Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP), sebanyak 419 orang,  sebanyak 360 orang masih dirawat, 38 orang sembuh dan 21 orang meninggal.

Sementara yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Banten, sebanyak 107 orang. Sebanyak 84 orang masih dirawat, 7 orang sembuh dan 16 orang lainnya meninggal dunia.

"Kami kesulitan dalam rangka karantina meski sudah menyiapkan hingga 250 tempat tidur di RSUD Banten yang telah disiapkan menjadi rumah sakit khusus pasien Covid-19 namun dalam perkembangannya masih belum tercukupi," kata Wahidin Halim.

Wahidin juga mengimbau kepada masyarakat Banten agar dalam kondisi seperti ini jangan saling cari kelemahan. Dia mengakui bahwa, tidak hanya di Banten semua daerah juga gagap dan panik dalam menghadapai Covid-19.

“Jangan jadikan suasana menjadi tidak kondusif, kurangi komentar-komentar yang tidak perlu. Dan harus selektif dalam menginformasikan sesuatu," pungkas Wahidin.



Sumber: BeritaSatu.com