Sasar Risiko Tinggi, DKI Gelar Rapid Test Covid-19 dengan Serum

Sasar Risiko Tinggi, DKI Gelar Rapid Test Covid-19 dengan Serum
Petugas Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan tes cepat atau rapid test Covid-19 di GOR Padjajaran, Kota Bogor, Sabtu (28/3/2020). (Foto: Ist)
Yustinus Paat / HS Rabu, 1 April 2020 | 13:06 WIB

Jakarta, Bertasatu.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih terus melakukan rapid test Covid-19 sebagai proses screening (deteksi dini) massal dengan memprioritaskan orang yang berisiko tinggi tertular. Rapid test tersebut dengan menggunakan serum, yakni cairan di atas bekuan darah sebagai antibodi atau sistem pertahanan tubuh.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan proses rapid test Covid-19 dengan serum maka kemungkinan hasil positif akan lebih tinggi. Cara menggunakan alat rapid test pun berbeda-beda tergantung pada mereknya. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memiliki alat rapid test yang penggunaannya memakai darah lipat siku (whole blood) atau serum.

“Proses yang kami terapkan dalam rapid test adalah pengambilan darah dari lipatan siku. Darah tersebut perlu diputar di dalam tabung centrifuge dengan menunggu selama 15 menit sehingga menghasilkan serum. Kemungkinan positif terhadap penyakit pun lebih tinggi daripada darah yang diteteskan langsung,” ujar Widyastuti dalam keterangannya, Rabu (1/4/2020).

Hingga Selasa (31/3), tercatat 18.077 orang telah menjalani rapid test, dengan persentase positif Covid-19 sebesar 1,7 persen. Sebanyak 299 orang dinyatakan positif Covid-19 dan 17.778 orang negatif.

Dia menjabarkan sasaran dan prioritas rapid test adalah orang yang berisiko tinggi menularkan ataupun tertular Covid-19, seperti tenaga medis dan orang-orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus pasien dalam pengawasan (PDP) dan yang memiliki kontak dengan kasus pasien konfirmasi atau probabel Covid-19.

"Selain itu, rapid test dilakukan terhadap orang dalam pemantauan (ODP), yakni seseorang yang mengalami demam >38°C atau riwayat demam, gejala gangguan sistem pernapasan seperti pilek/sakit tenggorokan/batuk, serta memiliki riwayat tinggal di luar negeri dan melakukan perjalanan di area terdampak Covid-19," terang dia.

Ada dua prosedur pelaksanaan rapid test, yaitu aktif oleh Puskesmas kepada orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi Covid-19 dan pasif oleh Puskesmas yang mana pasien datang berobat ke Puskesmas. Namun kriteria pasien untuk dapat rapid test ditentukan petugas sehingga tidak semua orang dapat melakukan rapid test.

Apabila hasil tes tersebut positif, maka selanjutnya dilakukan pengambilan swab, isolasi mandiri atau dirujuk ke shelter (sesuai kriteria) selama menunggu hasil polymerase chain reaction (PCR). Bila kondisi memburuk sebelum hasil PCR diperoleh, maka pasien akan dirujuk ke RS.

Sedangkan, jika hasilnya negatif, pasien diinformasikan untuk melakukan isolasi mandiri 14 hari. Bila kondisi memburuk, dirujuk ke RS dan dilakukan pemeriksaan PCR. Selain itu, memeriksa ulang rapid test (satu kali) pada hari ke 7-10 setelah tes awal. Pemprov DKI Jakarta pun akan tetap memprioritaskan peningkatan kapasitas laboratorium untuk PCR test, yaitu metode tes yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnostik apakah seseorang terpapar Covid-19 atau tidak.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah mendistribusikan sekitar 164.000 alat rapid test Covid-19 ke lebih dari 100 fasilitas kesehatan dan Rumah Sakit di seluruh DKI Jakarta. Alat rapid test ini diberikan oleh Gugus Tugas Nasional Covid-19 ke Balai Kota Jakarta pada 23 Maret 2020.



Sumber: BeritaSatu.com