Ketua KPU Arief Budiman Akui Pernah Bertemu Harun Masiku

Ketua KPU Arief Budiman Akui Pernah Bertemu Harun Masiku
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman tiba di Gedung KPK guna menjalani pemeriksaan, di Jakarta, Jumat (28/2/2020). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / FMB Jumat, 28 Februari 2020 | 17:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman rampung diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (28/2/2020). Arief diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap proses PAW caleg PDIP, Harun Masiku.

Usai diperiksa, Arief mengklaim tak mengenal Harun. Namun, Arief mengakui, Harun pernah menemuinya di Kantor KPU.

"Saya nggak kenal siapa Harun Masiku ya, tapi dia pernah datang ke kantor," kata Arief usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Dalam pertemuan itu, Arief mengatakan, Harun membawa surat uji materi atau judical review terkait peratutan KPU soal penetapan anggota DPR terpilih. Kepada Harun, Arief mengklaim pihaknya tetap berpegang teguh terhadap peraturan KPU. Dalam hal ini Harun Masiku tak bisa menggantikan anggota DPR terpilih Nazaruddin Kiemas yang meninggal dunia.

"Saya sampaikan ini nggak bisa ditindaklanjuti karena tidak sesuai dengan ketentuan UU Pemilu," katanya.

KPU berpandangan, yang pantas menggantikan Nazaruddin Kiemas adalah Riezky Aprilia sebagai calon legislatif dari PDIP yang meraih suara terbanyak setelah Nazaruddin. Namun PDIP berdasarkan fatwa MA berkeras mengajukan Harun untuk menggantikan Nazaruddin. Menurut PDIP, sesuai surat uji materi tersebut, MA menyatakan bahwa suara caleg yang meninggal adalah milik partai. Jadi PDIP mengalokasikan suara Nazaruddin Kiemas untuk Harun Masiku dan ditolak KPU.

Saat bertemu Arief, Harun meminta KPU menjalankan fatwa MA. Namun, Arief menekankan KPU telah memutuskan menetapkan Riezky Aprilia sebagai anggota DPR terpilih. Arief menyatakan surat yang dilayangkan PDIP mengenai hal tersebut pun telah direspon oleh KPU.

"Saya sudah sampaikan, kami sudah pernah menjawab surat itu," katanya.

Arief mengklaim tidak ada yang aneh mengenai pertemuannya dengan Harun di Kantor KPU. Dikatakan, setiap orang dapat datang ke KPU untuk berkonsultasi. Arief menegaskan, sebelum dan sesudah pertemuan tersebut, tidak pernah lagi bertemu dengan Harun.

"Kan setiap orang banyak yang datang ke kantor berkonsultasi, ya biasa saja itu. Saya juga nggak berpikir apa-apa waktu itu. Setelah itu ditanya (penyidik) apa ada pertemuan lagi. Ya, saya jawab nggak ada. Sekali itu saja. Saya sudah tegaskan memang tidak bisa ditindaklanjuti," katanya.

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan kedua yang dijalani Arief terkait kasus PAW anggota DPR. Pada pemeriksaan sebelumnya, 28 Januari 2020, Arief dicecar sekitar 22 pertanyaan. Menurut Arief, pemeriksaan kali ini hanya melengkapi pemeriksaan sebelumnya. Arief mengaku terdapat sekitar 10 pertanyaan yang dilontarkan penyidik. Sebagian besar mengenai hubungannya dengan Harun dan Wahyu Setiawan, mantan Komisioner KPU yang juga telah menyandang status tersangka.

"Hari ini 10 pertanyaan. Tetapi lebih mendalami terkait apakah saya punya hubungan antara saya, Wahyu, dan Harun Masiku," katanya.

 

 



Sumber: BeritaSatu.com