Menkes: Tidak Ada yang Ditutupi soal Virus Corona di Indonesia

Menkes: Tidak Ada yang Ditutupi soal Virus Corona di Indonesia
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (27/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Lenny Tristia Tambun )
Dina Manafe / JAS Jumat, 28 Februari 2020 | 07:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan, tidak ada yang ditutupi-tutupi pemerintah Indonesia soal virus corona (Covid-19). Pemerintah sejauh ini sudah transparan melaporkan atau menginformasikan soal jumlah kasus suspect (dicurigai) penyakit ini maupun prosedur penanganan yang dilakukan kepada publik maupun Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Kalau enggak transparan enggak mungkin tiap hari saya hadapi. Saya sangat transparan. Tidak ada yang tersembunyi, kita ungkapkan apa adanya. Kalau untuk yang negatif sampai saat ini itu berkah dari Maha Kuasa, tidak bisa dimungkiri. Kalau orang menyangsikan, loh memang hasilnya begitu,” kata Menkes di Kantor Kemenko PMK, Kamis (27/2/2020).

Sampai hari ini di Indonesia belum ditemukan satu pun kasus positif virus corona (Covid-19). Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat dari pemeriksaan terhadap 134 spesimen orang yang suspect (dicurigai) virus corona Covid-19) semuanya menunjukkan hasil negatif.

Tidak adanya kasus positif ini mengundang kesangsian sejumlah pihak terhadap prosedur penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia sampai sekarang. Salah satunya soal penemuan kasus yang dianggap tidak sesuai prosedur karena spesimen yang dilakukan pemeriksaan terlalu sedikit bila dibandingkan dengan negara lain.

Menkes menjelaskan, tidak semua orang yang batuk pilek harus dilakukan pemeriksaan spesimen. Yang dilakukan pemeriksaan spesimen hanya mereka yang terindikasi atau mengarah ke virus corona (Covid-19), seperti demam, pilek, batuk, dan sulit bernapas serta ada riwayat datang dari negara terinfeksi atau kontak erat dengan mereka yang datang dari negara terinfeksi.

Apabila ada gejala seperti ini, dokter atau rumah sakit yang merawat akan mengirimkan spesimen pasien ke laboratorium Badan Litbangkes Kemenkes untuk dilakukan pemeriksaan guna memastikan positif atau negatif virus corona (Covid-19). Tidak efisien dan kurang tepat sasaran apabila semua orang dilakukan pemeriksaan.

“Coba bayangkan kalau setiap orang batuk pilek diperiksa, ada jutaan orang yang diperiksa. Kita harus efektif, mana yang harus diperiksa. Kalau semua diperiksa bayangkan waktu tidak mencukupi, dan sasarannya menjadi tidak tepat,” kata Menkes.

Menkes mengatakan, yang sudah dilakukan pemeriksaan spesimen oleh Badan Litbangkes saat ini bukan hanya 134 spesimen suspect Covid-19, tetapi juga 188 anak buah kapal World Dream. Spesimen ABK ini masih dalam perjalanan dengan Kapal Rumah Sakit dr Soeharso ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium Badan Litbangkes Kemenkes.

Pemerintah juga akan melakukan pemeriksaan spesimen terhadap 68 ABK kapal pesiar Diamond Princess di Jepang yang juga akan segera dipulangkan ke Tanah Air. Jika ditotalkan jumlah spesimen yang diperiksa mendekati 400 orang.

Menkes juga mengatakan, pemerintah juga sudah proaktif untuk deteksi dan penemuan kasus. Kapasitas laboratorium Badan Litbangkes bisa melakukan pemeriksaan 1,000 spesimen dalam sehari. Tetapi memeriksa banyak orang tanpa indikasi yang jelas juga tidak efisien. 



Sumber: BeritaSatu.com