Digunduli dan Pakai Baju Oranye, Ini Pengakuan Tersangka Kasus Siswa Hanyut

Digunduli dan Pakai Baju Oranye, Ini Pengakuan Tersangka Kasus Siswa Hanyut
Tiga tersangka tragedi susur sungai yang memakan 10 korban jiwa siswa SMPN 1 Turi Sleman, yakni IYA (37) seorang guru PNS, DDS (58) pembina Pramuka dari unsur masyarakat umum dan R (58) guru PNS, dikawal polisi saat diperiksa di Mapolres, Sleman. (Foto: Beritasatu Photo / Fuska Sani Evani)
Fuska Sani Evani / CAH Kamis, 27 Februari 2020 | 07:42 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Ada pemandangan berbeda ketika ketiga tersangka yang menyebabkan ratusan siswa hanyut saat mengikuti kegiatan pramuka SMPN 1 Turi, Sleman, Yogyakarta diperlihatkan ke media dalam jumpa pers, Rabu (26/2/2020). Para pembina pramuka tersebut terlihat memakai baju oranye khas tahanan dan berkepala pelontos. 

Penampilan ketiga tersangka layaknya seperti tahanan lainya sempat menimbulkan polemik. Namun salah satu tersangka yakni Isvan Yoppy Andrian mengungkapkan kalau penampilan mereka dengan menggunduli kepala atas insiatif sendiri. 

Menjadi tersangka atas tewasnya 10 siswa SMPN 1 Turi, Sleman, dalam susur Sungai Sempor, Jumat (21/2/2020) lalu, bukan hal yang mudah. Meminta maaf saja tidak cukup dan Isvan mengaku meminta digunduli agar merasa aman.

“Ini atas inisiatif kami sendiri, bukan dari Polisi. Kami ingin merasa sama dengan tahanan lain, kalau gundul gini kan tidak terlalu mengundang perhatian dari tahanan lain. Lebih aman,” ujar Isvan.

Baca JugaTersangka Kasus Siswa Hanyut Saat Susur Sungai Belum Diberhentikan

Isvan mengatakan ia dan Riyanto serta Danang tetap diperlakukan baik oleh Polisi, sering dikunjungi oleh Polisi yang ingin memberikan dukungan. “Kami juga semakin kuat dalam menjalani proses hukuman yang kami lewati,” ujar dia.

Kepada pelaksana Kepala Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono, Penjabat Sekda Sleman Hardo Kiswoyo, Ketua LKBH PB PGRI DIY Sukirno, serta Kepala Biro dan Advokasi Perlindungan Hukum dan Penegakan Kode Etik PGRI Andar Rujito di Aula Mapolres Sleman, Ivfan, Danang, dan Riyanto mengatakan, agar berita-berita yang simpang siur diluruskan. Penggundulan memang permintaan mereka sendiri, demi keamanan dan ketenangan dalam menjalankan proses hukum.

Kepala Biro dan Advokasi Perlindungan Hukum dan Penegakan Kode Etik PGRI DIY Andar Rujito mengatakan para tersangka menyebut guru tidak harus diistimewakan.

Baca JugaTiga Tersangka Kasus Siswa Hanyut Saat Susur Sungai Punya Sertifikat Mahir

“Hari ini, saya mendengar langsung dan tahu persis bahwa mereka sangat memahami dan bisa mengerti serta menerima dan menjalani proses hukum dengan baik,” ucap dia.

Namun, kata dia, harkat dan martabat guru juga harus tetap ditegakkan. Jangan sampai guru dilecehkan.

Sedang Kapolres Sleman AKBP Rizki Ferdiansyah mengatakan penyidik Satreskrim Polres Sleman sangat hati-hati dan tidak mungkin bertindak semena-mena. Propam Polda DIY juga sudah memeriksa anggota Polres Sleman untuk memastikan ada atau tidaknya pelanggaran dalam penggundulan tiga tersangka.

“Pemeriksaan sudah berjalan, nanti kita lihat hasilnya apa. Namun yang terpenting, yang ingin saya sampaikan, saya bisa seperti ini karena guru. Tidak mungkin kami memperlukan seorang guru tidak manusiawi,” ujar dia.

Rizki Ferdiansyah menekankan bahwa proses penyidikan tetap pada koridor aturan yang ada.

Terkait dengan perundungan yang dialami oleh keluarga tersangka, Rizki Ferdiansyah mengatakan agar masyarakat dapat menahan diri dan menghentikan segala bentuk perundungan terlebih pengancaman. 



Sumber: BeritaSatu.com