Berpantun di Pasar Terapung Lok Baintan

Berpantun di Pasar Terapung Lok Baintan
Pasar Terapung Lok Baintan, Banjar, Kalimantan Selatan di pagi hari (8/2/2020. (Foto: Beritasatu.com / Winda Ayu Larasati)
Winda Ayu Larasati / WIN Kamis, 20 Februari 2020 | 20:38 WIB

Banjar, Beritasatu.com - Menjejaki kaki di Bumi Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang terlintas di kepala penulis adalah pasar terapung.

Tim Beritasatu berkesempatan merasakan pengalaman berbelanja di atas jukung atau sampan dalam bahasa Banjar sambil menikmati udara segar di pagi hari.

Hari pertama di Banjarmasin, kami langsung mencari informasi tentang Pasar Terapung Lok Baintan yang terletak di Kabupaten Banjar. Setelah mendapatkan banyak informasi, besok harinya (8/2/2020) kami berangkat pukul 5.30 Wita dari Kota Banjarmasin menggunakan mobil lalu menyambung kapal kelotok. Memakan waktu kurang lebih satu jam perjalanan untuk sampai ke lokasi.

Saat menyambung kapal klotok, kami naik di bagian atap agar leluasa melihat indahnya nuansa pagi di Sungai Martapura yang membentang di Borneo bagian selatan. Segarnya udara pagi dan indahnya matahari terbit dari Sungai Martapura seolah menyambut kedatangan kami selama di Sungai Martapura.

Selain jalur darat, Anda juga bisa menempuh perjalanan jalur Sungai Martapura dari Taman Siring, Kota Banjarmasin dengan waktu jarak tempuh yang sama yakni kurang lebih satu jam untuk tiba di sana.

Suasana pagi di Pasar Lok Baintan, Banjar, Kalimantan Selatan.

Setibanya di Pasar Lok Baintan, para acil-acil atau bibi-bibi dalam bahasa Banjar menyambangi kapal kelotok kami dengan jukung. Mereka menawarkan dagangannya mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, kue tradisional hingga suvenir khas Banjarmasin.

Saat membeli makanan, tidak lupa sang bibi memberikan pantun untuk kami. Salah satunya Ibu Lamia. Dia menyambut kami dengan pantun. "Rambai padi, rambai Palembang. Buahnya lebat, tangkainya panjang. Tidak lupa aku ucapkan selamat datang ke Pasar Lok Baintan," demikian pantun Ibu Lamia yang kami sambut dengan senyum lebar.

Ia juga mengatakan kalau salah satu daya tarik di pasar ini adalah para penjualnya yang jago berpantun.

"Orang Banjar jago berpantun," kata Lamia sambil menawarkan dagangannya di atas jukung.

Selama di pasar terapung, kami membeli rambutan, pisang dan udang galah yang digoreng langsung di atas jukung penjual. Kami menikmati hasil buruan sambil menikmati indahnya pagi di Sungai Martapura dan bercengkrama dengan acil-acil di atas kelotok.

Ibu Lamia kembali berpantun saat kami melihat-lihat dagangannya,"kalau ada lampu jangan nyalain lilin, kalau ada aku, jangan cari yang lain". Begitulah katanya hahaha sangat menghibur.

Adapun hal unik di pasar terapung ini pada saat transaksi. Penjual mengucapkan jual atau dijual dan sang pembeli menjawab tukar atau ditukar yang artinya membeli. Hal tersebut sudah sah sebagai akad bertransaksi di pasar terapung ini.

Selain itu, sistem barter antara barang dengan barang dan barang dengan uang masih dilakukan. Namun hanya antar-pedagang saja.

Bagi Anda yang ingin mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan, pastikan Anda untuk bangun pagi-pagi. Karena, pasar terapung ini buka selama tiga jam saja dari pukul 6.00 hingga 9.00 Wita. Biasanya ramai saat akhir pekan.

Berbelanja dan menikmati hasil buruan di Sungai Martapura menjadi pengalaman baru yang menyenangkan bagi kami. Jika ada kesempatan ke Banjarmasin, mungkin kami akan menjumpai kembali para acil-acil Pasar Terapung Lok Baintan. Bagi Anda yang ingin ke sana, pastikan belanja yang banyak ya!



Sumber: BeritaSatu.com