Kampanye Toilet Bersih Dukung Zero BABS di Indonesia

Kampanye Toilet Bersih Dukung Zero BABS di Indonesia
Ilustrasi sanitasi (Foto: Istimewa)
Fuska Sani Evani / JEM Senin, 3 Februari 2020 | 14:26 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Menurut laporan World Bank’s Water and Sanitation Program (WSP) dalam Economic Impact of Sanitation in Indonesia, sanitasi buruk menjadi penyumbang meningkatnya penyakit diare, juga tifus serta polio, dan anak-anak menjadi korban terbanyak.

Operations Director Water.org Indonesia, Don Johnston melalui keterangan tertulisnya, Minggu (2/2/2020) menyatakan bahwa berdasarkan data terkini dari situs monitor Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Kementerian Kesehatan masih ada 8,64 juta rumah tangga yang anggota keluarganya masih mempraktikkan BABS per Januari 2020 dengan persentase akses jamban di angka 78,73%.

Bahkan data WHO/UNICEF pada tahun 2012 menyebutkan, Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia dimana penduduknya masih mempraktekan buang air besar sembarangan (BABS). Keadaan ini menyebabkan sekitar 150.000 anak Indonesia meninggal setiap tahunnya karena diare dan penyakit lain yang disebabkan sanitasi yang buruk.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tergolong paling baik dari 34 provinsi di Indonesia di mana akses jamban sudah 100% dan tidak ada anggota keluarga yang mempraktikkan BABS alias di angka 0. Dari jumlah itu ada 926.010 KK di DIY yang memiliki akses jamban sehat permanen, 108.431 KK akses jamban sehat semi permanen. Namun masih ada sebanyak 54.758 KK di DIY yang masih menumpang ke jamban sehat sesuai data STBM Kemenkes tersebut.

Hal ini mendorong Harpic, pembersih toilet yang diproduksi dan dipasarkan oleh Reckitt Benckiser untuk berpartisipasi mengentaskan permasalahan BABS di Pulau Jawa. Untuk merealisasikan komitmen tersebut, Harpic menggandeng Water.org, SATO, dan Koperasi Simpan Pinjam Mitra Dhuafa (KOMIDA) untuk bekerja sama mengedukasi tentang pentingnya hidup bersih dengan dan memiliki toilet dan sanitasi layak.

“Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia di mana hampir 28 juta orang Indonesia kekurangan air bersih, dan 71 juta orang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik. Dan bagi jutaan keluarga Indonesia yang berpenghasilan rendah, sambungan atau sumur air baru dan toilet yang lebih baik tidak dapat dijangkau sehingga dibutuhkan bantuan investasi. Harpic yang menunjukkan komitmen dan misinya untuk memberikan akses toilet dan air bersih kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Don Johnston.

Sejumlah instansi swasta pun menginisiasi Aksi Toilet Bersih kepada masyarakat dengan mengedukasi tentang pentingnya hidup bersih dengan dan memiliki toilet dan sanitasi layak. menjelaskan Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia, hampir 28 juta orang Indonesia kekurangan air bersih dan 71 juta orang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik. Selain itu masih ada jutaan keluarga Indonesia yang berpenghasilan rendah, mereka butuh bantuan investasi seperti sumur baru dan toilet dari berbagai pihak agar akses air bersih dan sanitasi yang baik dapat dijangkau banyak masyarakat.

Ditambahkan General Manager Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia, Karim Kamel, masih banyaknya masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak sehingga buang air besar di ruang terbuka menjadi permasalahan global yang harus segera diatasi. Berbekal pengalaman 100 tahun memberikan akses terhadap toilet bersih dan higienis, pihaknya berkomitmen untuk menjadi bagian dalam mengatasi krisis kebersihan dan sanitasi global tersebut.

Kampanye ini dimulai dengan ide yang sederhana, dengan membeli dua produk Harpic untuk membersihkan toilet rumah melalui e-commerce Shopee dan Lazada, pembeli berkesempatan untuk menyumbangkan 1 produk Harpic bagi mereka yang membutuhkan akses terhadap toilet bersih. Kampanye ini dimulai sejak 27 November sampai dengan 30 Desember 2019 dan berlangsung di seluruh Indonesia. 



Sumber: Suara Pembaruan