Bandara Internasional Yogyakarta Dorong Pertumbuhan Ekonomi DIY

Bandara Internasional Yogyakarta Dorong Pertumbuhan Ekonomi DIY
Dari kiri ke kanan, Hilman Tisnawan (Kepala KPwBI DIY), Muchlas (Rektor UAD), R Kadarmanta Baskara Aji (Sekda DIY), Untung Nugroho (Kepala OJK DIY), dan Y Sri Susilo (Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta) berfoto bersama di sela-sela acara semintar "Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020" di Jakarta, Rabu, 29 Januari 2020. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 30 Januari 2020 | 19:30 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com – Keberadaan Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport/YIA) akan menjadi salah satu faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun ini. Selain YIA, pertumbuhan ekonomi DIY juga disokong oleh berbagai proyek infrastruktur lainnya.

Hal itu dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan dalam seminar “Outlook Perekonomian dan Keuangan 2020” yang digelar Perwakilan BI DIY bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) cabang Yogykarta dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Rabu (29/1/2020).

Hilman menjelaskan, pertumbuhan ekonomi DIY disokong secara nyata oleh pembangunan YIA, pembangunan underpass di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) dan di jalan Kaliurang. “Ke depan pembangunan jalan tol Bawen-Yogyakarta dan Yogyakarta-Solo juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi DIY,” ujar Hilman.

Pada kesempatan itu, Hilman juga memberikan gambaran adanya disrupsi, baik di bidang transportasi, teknologi digital, dan energi yang terjadi secara kontinyu. Disrupsi tersebut, kata dia, akan mengubah kondisi pasar dan ekonomi di masa depan, termasuk di Indonesia dan DIY.

“Terkait dengan hal tersebut, BI telah menyiapkan Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025,” ujarnya.

Sementara, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY R Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, perekonomian nasional dan DIY akan menghadapi tantangan kondisi perekonomian dunia yang tetap masih lesu. Apalagi, kata dia, dampak dari perang dagang AS dan Tiongkok yang belum juga mereda.

Sekda DIY mengharapkan ISEI cabang Yogyakarta ikut berkontribusi untuk menurunkan persentase jumlah penduduk miskin di DIY. “Saya bertharap ISEI cabang Yogyakarta beserta perguruan tinggi di DIY, baik negeri maupun swasta, memberikan sumbangan pemikiran berupa kebijakan dan strategi agar bisa menurunkan angka kemiskinan lebih optimal,” ujarnya.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Untung Nugroho menambahkan, pertumbuhan kredit perbankan di DIY saat ini berada di kisaran 11% dengan target ekspansi sebesar 10%. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) diperkirakan kisaran berada di kisaran 10%, dengan target ekspansi sebesar 10%.

“Industri keuangan nonbank tumbuh moderat. Industri pasar modal diperkirakan untuk total nilai emisi mencapai Rp 170 triliun hingga Rp 200 triliun dengan target tambahan 70 emiten baru,” tuturnya.

Kepala OJK DIY juga menjelaskan tentang kebijakan startegis OJK 2020. Kebijakan strategis tersebut adalah peningkatan skala ekonomi industri keuangan; mempersempit regulatory & gap antarsektor jasa keuangan; transformasi digital sektor jasa keuangan; mempercepat penyediaan akses keuangan serta mendorong penguatan penerapan market conduct dan perlindungan konsumen; serta pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.

Dosen FEB UAD Agus Siswanto mengatakan, 2020 merupakan tahun yang cukup berat bagi sektor riil, karena adanya resesi ekonomi global dan pertumbuhan ekonomi nasional yang stagnan. Menurut Agus, sektor yang paling terdampak bisnis adalah sektor usaha yang padat karya, padahal sektor tersebut berkontribusi nyata dalam menciptakan lapangan kerja.

“Di sisi lain, ada kabar baik, yaitu pemerintah tengah menyusun ombibus law,” kata Agus. Dengan omnibus law tersebut, ujarnya, pemerintah berusaha menata ulang regulasi yang saling tumpang tindih. Dengan regulasi yang lebih tertata diharapkan investasi asing dan domestik akan meningkat dan akan lebih banyak menyerap tenaga kerja.

Sekretaris ISEI cabang Yogyakarta, Y Sri Susilo menjelaskan, seminar nasional tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orangg. “Peserta merupakan perwakilan perguruan tinggi, pemda, perbankan, swasta, guru SMA, dan media,” ungkap Sri Susilo yang juga selaku humas panitia.



Sumber: Suara Pembaruan