Pekan Depan Diumumkan Nama Tersangka Kasus Tambang Emas Ilegal di Lebak

Pekan Depan Diumumkan Nama Tersangka Kasus Tambang Emas Ilegal di Lebak
Ilustrasi tambang emas ilegal. ( Foto: ANTARA FOTO )
Laurens Dami / JEM Rabu, 29 Januari 2020 | 19:27 WIB

Serang, Beritasatu.com - Tim dari Polda Banten secara intensif telah melakukan penyelidikan kasus penambangan ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Lebak.

Berdasarkan hasil penyelidikan tersebut, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten memastikan pekan depan akan dilakukan gelar perkara dan penetapan tersangka.

“Calon tersangka sudah ada. Minggu depan akan ditetapkan melalui gelar perkara. Potensi tersangka ada dua. Saya meminta penyidik untuk segera gelar perkara,” ujar Kepala Bagian Pengawas Penyidikan (Wassidik) Ditreskrimsus Polda Banten, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Dadang Herli Saputra, kepada wartawan, Rabu (29/1/2020).

Dadang tidak merincikan identitas kedua calon tersangka dimaksud dengan alasan demi kepentingan penyidikan. “Tunggu gelar perkara pekan depan,” ujarnya.

Dadang mengatakan, kasus tambang ilegal di kawasan TNGHS telah menjadi sorotan banyak pihak sejak Presiden Jokowi berkunjung ke Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Selasa (7/1/2020) lalu.

Pada saat itu, Presiden Jokowi mengatakan bahwa penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Lebak adalah rusaknya hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

"Di Kabupaten Lebak, Banten, kita lihat ini karena perambahan hutan, karena penambangan emas secara ilegal," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga meminta kepada Gurbernur Banten Wahidin Halim, dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya untuk segera menghentikan aktivitas tambang di daerah ini terutama di wilayah Kabupaten Lebak. Menurutnya, aktivitas tambang emas liar ini sangat merugikan masyarakat

"Gak bisa lagi, karena keuntungan satu dua tiga orang, kemudian ribuan lainnya dirugikan dengan adanya banjir bandang ini," ujarnya.

Sampai saat ini, penyelidik Polda Banten telah memeriksa lebih dari 12 saksi terkait kasus tambang emas ilegal di kawasan TNGHS tersebut. Beberapa diantaranya yakni 8 gurandil dan 4 saksi ahli telah diperiksa oleh tim penyelidik.

“Saat ini penyidik Polda Banten sedang menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik Mabes Polri terkait zat kimia yang sampelnya telah diambil dari kawasan TNGHS. Zat kimia yang diduga sianida tersebut masih diteliti di laboratorium,” ujar Dadang.

Lebih jauh Dadang menjelaskan, penertiban penambangan emas tanpa izin (PETI) telah dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) gabungan Polda Banten, TNI, Pemkab Lebak dan Pemprov Banten.

Sebanyak 26 lubang tambang emas ilegal ditutup dan dihancurkan oleh Satgas PETI. Personel Satgas PETI membongkar kayu yang menjadi penyangga tanah di mulut lubang. Selanjutnya mulut lubang tersebut kemudian ditutup dan dipasang garis polisi (police line).

Direktur Reskrimsus Polda Banten Kombes Pol Rudi Hananto menjelaskan, tim Satgas PETI gabugan pada saat melakukan penyisiran di sejumah titik di kawasan TNGHS, menemukan ratusan lubang bekas tambang.

“Kalau dihitung ada ratusan bekas lubang tambang. Namun, kami berhasil mengidentifikasi 26 lubang tambang yang masih digunakan. Karena itu, kami memasang police line dan menutup 26 lubang tersebut ,” kata Rudi.

Lebih jauh Rudi menjelaskan, tim gabungan tidak hanya melakukan penghancuran lubang galian, tetapi juga menghancurkan gubuk atau tenda yang digunakan para gurandil (penambang).

“Tenda-tenda atau gubuk para gurandil kami bongkar dan bakar. Selain menutup lubang kami juga menghancurkan gubuk atau tenda mereka dengan cara dibakar karena bangunan tersebut dibangun menggunakan kayu dan papan,” kata Rudi.

Tidak hanya itu, sebanyak empat lokasi pengolahan emas juga telah ditutup oleh petugas.

Keempat lokasi pengolahan emas yang ditutup tersebut yakni dua lokasi pengolahan emas di Kampung Cikomara RT04/02, Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebakgedong.

Selain itu, lokasi pengolahan emas di Kampung Hamberang RT04/06 Desa Luhur Jaya, Kecamatan Cipanas. Kemudian, di lokasi pengolahan emas di Kampung Tajur RT06/04 Desa Mekarsari, Kecamatan Cipanas. 



Sumber: Suara Pembaruan