Tak Hanya Rano Karno, Suti "Atun" Karno Disebut Tercatat di Proyek Pemprov Banten

Tak Hanya Rano Karno, Suti
Rano Karno (tengah) saat mengunjungi warga di Kabupaten Serang, Jumat 23 Desember 2016. ( Foto: PR )
Fana Suparman / CAH Selasa, 28 Januari 2020 | 07:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Hudaya Latuconsina mengaku pernah mengantarkan uang tunai kepada mantan Wakil Gubernur Banten Rano Karno. Diduga uang berkaitan dengan salah satu proyek di lingkungan kerja wilayah tersebut. Hudaya menuturkan uang sebesar Rp 250 juta yang dibungkus koran dan plastik tersebut diperolehnya dari Dadang Prijatna, salah satu staf Wawan.

Hal ini dikatakan Hudaya saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi dan pencucian uang dengan terdakwa bos PT Bali Pacific Pragama Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (27/1/2020) malam.

"(uang Rp 250 juta) diberikan kepada saya tahun 2013 untuk disampaikan ke Rano Karno, (uang itu) dari hasil pekerjaan 2012," ujar Hudaya Latuconsina saat bersaksi.

Hudaya mengklaim tidak membuka bungkusan koran dengan plastik berisi uang tersebut. "Saya tidak membuka, cuma menjinjing saja, langsung saya bawa," katanya.

Saat menerima uang, kata Hudaya, Dadang tidak menyebut secara spesifik uang itu dari proyek Dinas Pendidikan atau dinas yang lain. Yang jelas, kata Hudaya, mengklaim hanya diperintah untuk mengantar uang itu ke Rano Karno.

Tak hanya uang untuk Rano Karno, dalam sidang kali ini juga terungkap Suti Karno, adik dari Rano Karno pernah tercatat sebagai pihak yang mendapatkan proyek pengadaan di lingkungan kerja Pemprov Banten. Nama Pemeran Atun dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan itu tercantum dalam catatan Dadang Prijatna sebagai pihak yang mendapat salah satu proyek.

"Kalau Suti Karno nampaknya dengan daftar yang di proyek," ucap Hudaya.

Hudaya menyebut nama Suti terdapat dalam list proyek di Dinas Pendidikan Pemprov Banten. Namun, Hudaya mengakui tidak mengonfirmasi soal Suti Karno kepada Rano Karno saat menjabat Wakil Gubernur Banten.

"Tidak konfirmasi (ke Rano Karno)," jelas Hudaya.

Diketahui, Wawan didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi dengan mengatur proses pengusulan anggaran Dinas Kesehatan Provinsi Banten pada APBD TA 2012 dan APBD-P TA 2012 dan mengarahkan pelaksanaan Pengadaan Alat Kedokteran Rumah Sakit Rujukan Provinsi Banten pada Dinas Kesehatan Provinsi Banten TA 2012 serta mengatur dan mengarahkan pelaksanaan Pengadaan Alkes Kedokteran Umum Puskesmas Kota Tangerang Selatan APBD-P TA 2012.

Atas tindak pidana tersebut, Wawan didakwa menguntungkan diri sendiri orang lain dan korupsi yang merugikan keuangan negara sekitar Rp94,2 miliar. Selain itu, Wawan juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari hasil korupsinya dengan nilai mencapai lebih dari Rp 500 miliar.



Sumber: Suara Pembaruan