BMKG : Waspadai Potensi Hujan Lebat di Indonesia

BMKG : Waspadai Potensi Hujan Lebat di Indonesia
Ilustrasi prakiraan cuaca. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / DAS Sabtu, 25 Januari 2020 | 15:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah wilayah Indonesia diprakirakan akan dilanda hujan lebat disertai angin kencang hingga esok, Minggu (26/1/2020). Potensi hujan lebat tersebut akan terjadi di Sumatera Barat, Lampung, Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat.

Sedangkan hari ini, Sabtu (25/1/2020), potensi hujan lebat dapat terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Untuk wilayah Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Papua diprediksi masih berpeluang terjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir pada Minggu (26/1/2020).

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo mengatakan, saat ini faktor pengaruh eksternal dari luar wilayah Indonesia tidak ada. Namun tetap waspada potensi hujan lebat.

Meski begitu, tentu kondisi hujan di setiap wilayah akan berbeda. Sebab di Indonesia memiliki 342 zona musim (zom), di mana periode musim hujan ataupun musim kemaraunya bisa berbeda dalam setiap periodenya.

"Misalnya saja pada periode musim hujan atau musim kemarau meski periodenya sama namun intensitasnya akan bisa berbeda di setiap wilayah. Bisa saja ada yang lebih basah saat musim hujan, atau lebih kering saat musim kemarau," katanya di Jakarta, Sabtu (25/1).

Untuk itulah lanjutnya, BMKG terus melakukan monitoring prakiraan cuaca jangka pendek (cuaca harian) 1-3 hari dengan tingkat akurasi (validasi) 80 persen.

Bahkan untuk memperbarui prakiraan tersebut, BMKG juga memonitor dengan skala yang lebih singkat tiga jam sebelum kejadian berupa peringatan dini dengan tingkat akurasi 90 persen.

Hal ini kata Prabowo harus dilakukan karena dari prakiraan cuaca itu bisa berubah cepat karena faktor alam. faktor yang mempengaruhi berupa faktor global hingga lokal.

"Kita akan monitoring faktor global, regional, meso (skala di atas lokal) dan lokal. Kalau keempat-empatnya muncul maka akan memberikan sinyal yang kuat terhadap prakiraan cuaca," ucapnya.

Namun jika tidak muncul keempat faktor tadi, maka akan dilihat faktor mana yang lebih dominan.

Oleh karena itu makin cepat periode perubahan, maka kondisi akan berubah cepat sekitar 3-5 jam. Oleh karena itu diperlukan sistem peringatan dini.

Ia menambahkan, saat ini yang teramati dari keempat faktor itu perubahannya sangat cepat.

Fenomena global seperti madden julian oscalliation (MJO) atau gangguan awan, hujan, angin dan tekanan udara yang melintasi kawasan tropis, La Nina (kondisi banyak hujan), El Nino (kondisi minim hujan) yang biasanya muncul tujuh tahun, kini bisa muncul dalam kurun waktu 4-5 tahun.

Prabowo mencontohkan, tahun 1997-1998 hanya satu tahun berselang El Nino diikuti La Nina terjadi lebih cepat dari peluang kemunculannya dalam periode tiga tahunan. Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi kembali di tahun 2015-2016 meski intensitasnya tidak sekuat tahun 1997-1998, tapi periode musim hujan memanjang di tahun 2016, setelah sebelumnya di tahun 2015 terjadi El Nino.

Dari monitoring BMKG  diperkirakan fase basah MJO akan kembali terjadi di akhir Januari hingga awal Februari 2020. Kondisi monsoon Asia atau fenomena perubahan iklim secara ekstrem yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara secara ekstrem di kawasan daratan India dan Lautan Hindia dan seruakan dingin (cold surge) akan muncul. Kondisi ini tentu akan menambah curah hujan di wilayah yang dilaluinya.

"Saat hujan lebat pada 1 Januari 2020, pada 28 Desember 2019 teramati ada lonjakan cold surge. Kemudian juga teramati pada 11 Januari dan muncul pada 15 Januari 2020. Kemarin, Jumat (24/1/2020) juga muncul tapi tidak dominan," paparnya.

Dari kondisi prakiraan cuaca saat musim hujan, BMKG juga mengingatkan perlunya mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi (banjir, longsor dan puting beliung).

Ditambah lagi adanya faktor perubahan lingkungan yang terjadi hampir merata di sejumlah wilayah. Penebangan pohon yang berfungsi sebagai resapan air turut mempengaruhi sulitnya air hujan terserap ke dalam tanah dan justru menjadi air limpasan run off.



Sumber: Suara Pembaruan