BNPT: Kikis Benih Radikalisme dengan Tingkatkan Wawasan Kebangsaan

BNPT: Kikis Benih Radikalisme dengan Tingkatkan Wawasan Kebangsaan
Suhardi Alius. ( Foto: Antara )
/ BW Kamis, 23 Januari 2020 | 22:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius mengingatkan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran benih-benih radikalisme dan terorisme di lingkungan sekitarnya. Caranya, dengan meningkatkan wawasan kebangsaan dan kearifan lokal.

Mahasiswa sebagai kaum intelektual muda dan agen perubahan sudah seharusnya membawa perubahan yang baik bagi bangsa Indonesia, kata Suhardi, saat memberikan kuliah umum Universitas Telkom, Bandung, Kamis (23/1/2020).

Dalam kuliah umum terkait penanggulangan radikalisme dan terorisme ini, Kepala BNPT mengatakan, penyebaran radikalisme begitu masif di kalangan milenial. Diharapkan, mahasiswa yang menjadi tumpuan masa depan bangsa tidak terpapar oleh radikal terorisme karena dapat menyebabkan disintegrasi bangsa.

Kepada sekitar 1.000 orang yang terdiri dari para dosen, pegawai, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) serta himpunan mahasiswa yang ada di lingkungan Universitas Telkom Bandung, Suhardi meminta mereka dapat mengidentifikasi, cara menghadapi, dan mengatasi paham-paham tersebut muncul di lingkungannya.

"Dan satu-satunya jalan adalah kita mengenal bangsa kita sendiri dengan wawasan kebangsaan dan kearifan lokal yang kita miliki. Karena sekarang ini banyak orang yang tidak mengenal jati diri bangsa, budaya dan nilai-nilai yang kita miliki," kata Suhardi Alius.

Lebih lanjut Kepala BNPT menyampaikan perlunya imunitas dan daya tahan terhadap perkembangan dinamika global dengan menggunakan kearifan lokal. Karena kearifan lokal tidak hanya sekedar budaya, tetapi juga nilai (value).

"Sekarang kita coba untuk kembali merajut itu kembali. Karena itu, saya minta Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di masing-masing provinsi untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat. Tujuannya untuk menginventarisasi kembali, karena betapa kayanya budaya kita itu. Kalau itu sampai tidak dipelihara dengan baik, itu bisa hilang,” tutur mantan Kabareskrim Polri ini.

Menurut alumni Akpol tahun 1985 ini, saat ini sudah banyak masuk nilai dari luar yang tidak sesuai dengan karakter dan jati diri bangsa Indonesia, yang telah menyebabkan lunturnya nasionalisme para generasi muda.

"Untuk itu pendidikan karakter harus kita mulai dari usia dini, diinternalisasi lalu implementasinya saat mereka dewasa. Jika tidak terserap dengan baik, jangan salahkan nanti kalau mereka keluar jalur. Dan tentunya ini adalah tanggung jawab kita semua," ujar Kepala BNPT.

Mantan Sekretaris Utama (Sestama) Lemhannas ini juga mengatakan, berdasarkan penelitian yang dilakukan FKPT selaku mitra strategis BNPT di daerah, kearifan lokal ini juga bisa digunakan untuk mereduksi penyebaran paham radikal.

"Bangsa kita terdiri dari hampir lebih 700 etnik dan hampir 1.000 bahasa. Yang namanya kearifan lokal itu bukan hanya budaya, tetapi itu nilai atau value kita sebagai bangsa. Bayangkan kita punya hampir 500 lebih kabupaten dan kota seluruh Indonesia. Masing-masing punya kearifan local, itu kekayaan yang tidak bisa hilang, nah sekarang harus kita kembalikan itu,” katanya.



Sumber: ANTARA