Dugaan Kasus Korupsi Jiwasraya

Jaksa Agung Akui Kerugian Negara Belum Nyata

Jaksa Agung Akui Kerugian Negara Belum Nyata
Jaksa Agung ST. Burhanuddin ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
/ YS Rabu, 22 Januari 2020 | 12:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Agung ST Burhanuddin mengakui belum ada kerugian negara yang nyata dalam kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya. Kerugian negara kasus itu baru sebatas pernyataan dari Badan Pemeriksaan Keuangan Negara (BPK).

"Saat ini sedang berjalan perhitungan kerugian negaranya," ujar Burhanuddin menjawab wartawan di Kejagung, Selasa (21/1/2020).

Jaksa Agung dikonfirmasi terkait ada tidaknya hasil audit BPK secara nyata bahwa kasus Jiwasraya telah merugikan negara.

Hal itu merujuk kepada putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2017 lalu bahwa aparat penegak hukum harus membuktikan kerugian negara sebelum penyelidikan perkara korupsi.

Sebelumnya, tim penyidik Pidsus Kejaksaan Agung menetapkan lima tersangka dan melakukan penahanan terhadap Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputra, Komisaris PT Trimegah Heru Hidayat, Direktur Keuangan PT Jiwasraya Harry Prasetyo, mantan Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim, dan karyawan Jiwasraya Syahmirwan.

Burhanuddin menyatakan, pihaknya siap menghadapi perlawanan pihak tersangka, termasuk jika ada yang mengajukan gugatan praperadilan. "Kita akan lawan," ujarnya.

Sementara itu, Kapuspenkum Kejaksaan Agung Hari Setiyono menyatakan, tim penyidik terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Kemarin, tim penyidik Kejagung memeriksa 13 saksi.

Mereka adalah, Noni Widya, Yudith Deka Arshinta, Ghea Laras Prisma, Lisa Anastasia dan Cyndi Violeta Ismedi kelimanya karyawan PT Bumi Nusa Jaya Abadi yang berperan sebagai pengelola saham milik Benny Tjokrosaputro.

Saksi selanjutnya, Sugianto Budiono sebagai Dirut PT Dhana Wibawa Artha, Jenifer Handayani, Susan Hidayat sebagai Dirut PT Inti Agri Resources, Meitawati Edianingsih, dan Soehartanto, kelimanya merupakan pihak-pihak yang namanya dipakai untuk proses transaksi pinjam nama. Lalu ada Erda Dharmawan Santi, Djulia, dan Leonard Lontoh, ketiganya merupakan pengelola Apartemen Shorthills.

"Pemeriksaan saksi masih terus dilakukan untuk mencari serta mengumpulkan bukti agar membuat terang tindak pidana yang terjadi serta mengungkap peristiwa yang sebenarnya," ujarnya.



Sumber: PR/Suara Pembaruan