MWA ITB Lantik Perempuan Pertama Jadi Rektor

MWA ITB Lantik Perempuan Pertama Jadi Rektor
Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2020-2025, Reini Djuhraini Wirahadikusumah (kanan) berbincang dengan Ketua Majelis Wali Amanah ITB Yani Panigoro (tengah) yang didampingi anggota ex officio MWA ITB, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam acara Pelantikan Rektor ITB di Aula Barat ITB, Senin (20/01/2020). Reini, 51 tahun menjadi perempuan pertama yang memimpin ITB sejak lembaga pendidikan tinggi teknik itu berdiri 100 tahun lalu. ( Foto: Suara Pembaruan / Adi Marsiela )
Adi Marsiela / LES Senin, 20 Januari 2020 | 19:59 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Memasuki usianya yang ke-100 sebagai lembaga pendidikan tinggi teknik, Ketua Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Bandung (MWA ITB), Yani Panigoro melantik Prof. N.R. Reini Djuhraini Wirahadikusumah menggantikan Kadarsah Suryadi sebagai Rektor ITB periode 2020-2025. Pelantikan perempuan berusia 51 tahun itu berlangsung di Aula Barat ITB, Bandung, Senin (20/1).

Guru Besar dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB ini tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin ITB sejak berdiri tahun 1920 dengan nama Technische Hoogeschool. Yani mengungkapkan, banyak kemajuan yang sudah dicapai ITB dalam lingkup internasional serta entrepreneurial university semasa kepemimpinan Kadarsah. “Kontribusi anda (Kadarsah) luar biasa, selayaknya akan berkesinambungan dengan rektor 2020-2025,” kata Yani.

Dalam sambutannya, Yani optimistis kepemimpinan Reini dapat membawa ITB maju ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu amanatnya adalah menginterpretasikan visi Presiden Joko Widodo terkait penciptaan sumber daya manusia unggul. “Tentu ITB harus tetap mengedepankan jati diri kampus yang menjunjung tinggi akses dan kemerdekaan bagi warganya buat belajar dan menuntut ilmu. ITB seyogyanya punya lingkungan yang dukung konsep merdeka belajar. Paradigma ini diterjemahkan sebagai prinsip merdeka menuntut ilmu pengetahuan, merdeka dalam meraih prestasi akademik, merdeka untuk jadi warga ITB yang berbudi pekerti Pancasila,” tutur Yani.

Rencana Induk
Dalam sambutanya Reini menyatakan, dia bakal menjalankan rencana induk pengembangan ITB 2020-2025 yang sudah disusun Senat Akademik ITB. Arahannya untuk mengembangkan dan mewujudkan “a globally respected and locally relevant university”.

Reini memaparkan, lima langkah mewujudkan strategi itu, mulai dari penataan struktur organisasi agar bergerak gesit, adaptif, dan efisien. Kedua, peningkatan pendapatan melalui cara-cara kreatif dan inovatif dengan penekanan pada berbagai kegiatan yang relevan dengan implementasi transformasi. Ketiga, konektivitas dalam pembelajaran, perluasan pengalaman belajar hingga lebih boarderless dengan disertai penguatan kemampuan mahasiswa dalam critical thinking, complexity atau non-linear thinking, inter disciplinary thinking, independent learning dan collective learning.

“Empat, penguatan sistem atau ekosistem inovasi ITB dengan pondasi budaya ilmiah yang unggul. Berkaitan dengan hal ini, perumusan agenda riset unggalan perlu dipertajam dengan lintas atau trans disiplin agar lebih mampu merespons kepentingan nasional dan dinamika ilmu pengetahuan global. Lima, manajemen perubahan,” ujar Reini.

Secara terpisah, Kadarsah Suryadi menekankan kelanjutan pembangunan ITB sebagai entrepreneurial university. “Hal ini baru bisa diwujudkan jika teaching and learning university berjalan baik,” ungkapnya.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir, Kadarsah menandatangani sedikitnya 750 memorandum of understanding dengan berbagai institusi pendidikan, pihak swasta, pemerintah, serta lembaga riset di dalam dan luar negeri. “Kerja sama ini penting karena kami tidak ada dana yang cukup buat research and development,” ungkap Kadarsah.

Dalam penganggaran ITB tahun 2020, Kadarsah mengalokasikan dana Rp 1 miliar untuk setiap kelompok keahlian yang ada di kampusnya. Total ada 110 kelompok keahlian di ITB. Pada periode sebelumnya, dana itu mencapai Rp 500 juta per kelompok keahlian. “Pada tahun 2019, biaya research and development itu sekitar Rp 300 miliar datang dari hasil kerja sama dengan pihak lain,” terang Kadarsah.

Secara umum, perencanaan anggaran ITB pada tahun 2020 ini mencapai Rp 2,2 triliun untuk kebutuhan operasional hingga research and development. Sumber pendanaannya berasal dari pemerintah, masyarakat, serta kerja sama dengan industri dan pihak ketiga. “Pada tahun 2015 alokasi anggaran total itu sekitar Rp 1,2 triliun,” kata Kadarsah.



Sumber: Suara Pembaruan