PVMBG: Pergerakan Tanah Penyebab Bencana Sukajaya

PVMBG: Pergerakan Tanah Penyebab Bencana Sukajaya
Longsor di akses jalan di Pasirmadang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. (Foto: Beritasatu.com / Vento Saudale)
Vento Saudale / FMB Minggu, 19 Januari 2020 | 18:11 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) merilis laporan pemeriksaan gerakan tanah atau longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Hasilnya, longsor disebut karena interaksi kondisi pergerakan tanah dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Laporan PVMBG merupakan pemeriksaan di beberapa lokasi. Di antaranya Jalur jalan Cigudeg-Sukajaya. Desa Harkat Jaya yang meliputi Jalur Jalan Harkat Jaya–Urug dan Kampung Sinar Harapan, jalur Jalan Sukajaya–Pasir Madang yang meliputi wilayah Desa Sukajaya, Sipayung, Jayaraharja, Sukamulih, Pasir Madang dan Desa Pasir Madang.

Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Bogor, lokasi gerakan tanah di Kecamatan Sukajaya termasuk dalam zona kerentanan gerakan tanah menengah–tinggi.

“Artinya daerah ini mempunyai potensi menengah hingga tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali,” kata Kepala PVMBG, Kasbani, Minggu (19/1/2020).

BNPB: Bencana Longsor di Bogor Disebabkan Ulah Manusia

Dalam laporan, disebutkan secara umum longsor di Kabupaten Bogor terjadi karena interaksi kondisi geologi dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi.

Pertama, tanah pelapukan yang bersifat sarang dan mudah meloloskan air. Longsoran terjadi pada Batuan Gunungapi Endut (Qpv), tuf dan breksi terdiri dari tuf batuapung, breksi tufan, batupasir tuf, lempung tufan dan batupasir berlapis silang(Tmtb), batuan gunungapi yang tak terpisahkan terdiri dari breksi dan aliran lava (Qvu), Tuf batuapung pasiran (Qvst).

Kedua, bidang lemah berupa kontak antara tanah pelapukan batuan yang lebih segar sebagai bidang gelincir. Ketiga, kelerengan yang curam, bahkan beberapa tempat hampir tegak.

Keempat, di beberapa tempat terlihat kontak endapan gunungapi dengan batulempung (formasi Bojongmanik) dengan bidang perlapisan yang searah dengan kemiringan ke arah sungai. Longsor di Harkat Jaya, Sipayung, Jayaraharja, Sukamulih, Pasirmadang masuk ke dalam DAS Sungai Cidurian sehingga dampaknya banjir membawa material longsor dan batu di sepanjang Sungai Cidurian dan melanda pemukiman di kanan kiri Sungai Cidurian dan terakhir, curah hujan 301.6 milimeter dalam satu hari sebagai pemicu.



Sumber: BeritaSatu.com