Tok Panjang, Makan Bersama Menyambut Imlek di Pasar Semawis

Tok Panjang, Makan Bersama Menyambut Imlek di Pasar Semawis
Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di meja panjang yang diikuti oleh banyak orang, yang digelar menyambut datangnya Hari Raya Imlek. ( Foto: Suara Pembaruan / Stefi Thenu )
Stefi Thenu / FMB Sabtu, 18 Januari 2020 | 16:00 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Enam meja sepanjang hampir dua ratus meter disusun berjajar.

Di atasnya terhidang beragam kuliner lezat, mulai dari sup lobak, kue keranjang, acar, nasi goreng khas Tionghoa sampai yang paling lezat, ikan dori.

Di sudut lain, belasan orang meliuk-liukkan tongkat panjang penyangga Nnaga-nagaan, memeragakan tari Liang Liong.

Rancaknya gerakan mereka sampai-sampai membuat masyarakat yang memadati Pasar Semawis histeris karena seolah-olah hewan mitologi itu benar-benar hidup dan melayang di atas kepala mereka.

Layaknya memberi penghormatan, kepala naga Liang Liong yang diangkat setongkat penuh itu, menukik dan menggeliat di depan dada Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, yang hadir mengenakan pakaian tradisional Tionghoa berwarna merah.

Setelah hentakan musik pengiring membuncah, sang naga berputar arah membukakan jalan bagi Ganjar dan tamu undangan lainnya, menuju salah kursi di deretan meja panjang tersebut.

Kemeriahan itu terjadi di ujung jalan Wotgandul Timur, kawasan Pecinan Semarang, Jumat (17/1/2020) malam, saat menggelar tradisi Tok Panjang.

Tok Panjang merupakan tradisi makan orang Tionghoa di meja panjang yang diikuti oleh banyak orang, yang digelar menyambut datangnya Hari Raya Imlek.

Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Wisata (Kopisemawis), Harjanto Halim, menuturkan, di Semarang, tradisi itu dipoles jadi perayaan meriah yang dibuka selebar-lebarnya untuk siapapun.

Karenanya, halal menjadi syarat dan jaminan khusus pada seluruh makanan yang disajikan di Tok Panjang. Berbagai tokoh dari etnis, suku maupun agama berbeda, hadir menikmati beragam hidangan khas Tionghoa tersebut.

Saat Ganjar dan juga Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dan para tokoh menempati kursi masing-masing, suara perkusi pengiring Liang Liong segera berganti dengan alunan erhu, guzheng dan dizi yang mengiringi gadis berjilbab menyanyikan lagu Mandarin.

Lagu-lagu tersebut mendendangkan syair-syair kebahagiaan menjelang Tahun Baru Imlek.

"Selain lewat lagu, kebahagiaan itu kami luapkan dengan menggelar Tok Panjang ini," kata Harjanto Halim.

Telah 17 kali Tok Panjang digelar di Kawasan Pecinan Semarang. Selama 17 kali pula acara yang digelar selama tiga hari itu tidak pernah sepi pengunjung.

Gaungnya pun telah didengar bukan hanya warga Jawa Tengah, namun hampir seluruh penjuru Tanah Air dengan memanfaatkan ikatan persaudaraan maupun penyebaran informasi di berbagai media.

Woro Mastuti, misalnya. Dia rela menempuh perjalan sekitar delapan jam dari Depok, Jawa Barat, hanya ingin duduk di jajaran kursi dan menikmati sajian di Tok Panjang Semawis.

"Luar biasa sekali acaranya, apalagi hidangannya ini. Lobak yang asal rasanya hambar bisa jadi enak begini. Harus dilestarikan ini, makanan dan terutama acaranya," kata perempuan paruh baya yang menjadi dosen di Universitas Indonesia (UI) itu.

Sebenarnya, tradisi makan di meja panjang menjelang Imlek itu bukan hanya dilakukan di Semarang, tapi di juga di tempat lain. Bahkan di Singapura ada beberapa resto yang memiliki tema tradisi makan ini. Bukan hanya itu, di Malaysia bahkan ada museum yang memamerkan tradisi ini.

Ganjar mengaku terlalu sayang memang untuk melewatkan momen itu. Saat memberi sambutan, dia mengatakan sengaja memesan baju khusus ke penjahit untuk menghadiri acara itu.

"Tapi sayang, meski sudah memakai baju khusus ini saya tidak bisa menghabiskan ikan dori yang sangat lezat itu karena dipaksa naik panggung ini. Kamu (MC) harus tanggung jawab. Tapi kok bisa ya masak seenak itu," seloroh Ganjar yang membuat ribuan pengunjung tidak bisa menahan tawa.

Tapi penyesalan Ganjar yang tidak bisa menghabiskan hidangan ikan dori itu, terbayar tuntas ketika dia menikmati kue keranjang. Berbeda dengan kue keranjang pada umumnya, di Tok Panjang, tersaji kue keranjang kukus santen yang menurut Ganjar sensasi rasanya luar biasa legit.

Kebahagiaannya semakin lengkap ketika nonton adegan peperangan di pertunjukan wayang potehi. Saking tertariknya, Ganjar mengeluarkan souvernir wayang potehi yang dia terima di atas panggung, kemudian turut nimbrung dalam adegan peperangan itu.

"Inilah kekayaan kita. Acara yang sangat unik dan ditunggu-tunggu banyak orang. Kulinernya enak-enak. Tidak ada ruginya liburan ke sini," tandasnya.



Sumber: Suara Pembaruan