Guru di Sleman Jadi Tersangka Pelecehan Seksual 12 Siswi

Guru di Sleman Jadi Tersangka Pelecehan Seksual 12 Siswi
Ilustrasi pelecehan anak ( Foto: Istimewa )
Fuska Sani Evani / CAH Rabu, 8 Januari 2020 | 13:13 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman menetapkan seorang guru Sekolah Dasar (SD) Negeri di Seyegan Sleman berstatus guru PNS, sebagai pelaku pelecehan seksual.

Oknum guru berinisial SU (48) tersebut, yang juga wali kelas 6 diduga telah melakukan perbuatan tercela kepada 12 anak didiknya sepanjang tahun 2019. Terakhir, dilakukan kepada siswi-siswi perempuan di dalam tenda saat perkemahan hari Pramuka, 13 Agustus 2019 silam.

Kanit PPA Satreskrim Polres Sleman Iptu Bowo Susilo, Rabu (08/01/2020) membenarkan, guru SD terduga pelaku pencabulan sudah melangsungkan aksinya kepada belasan siswi.

"Oknum guru ini melakukan perbuatan cabulnya terakhir dilakukan pada tanggal 13 Agustus 2019 pada saat siswa saat melakukan kemah kemudian oknum guru ini masuk ke tenda perempuan kemudian melakukan perbuatan cabul terhadap empat siswa perempuan yang sedang tidur di tenda," terang Iptu Bowo.

Selaian di tenda kemah, SU juga melakukan pelecehan seksual kepada siswinya di ruang Usaha Kesehatan Siswa (UKS) di sekolah, dengan pura-pura mengajarkan mata pelajaran IPA, tentang reproduksi.

Selain melakukan pelecehan seksual, SU juga mengancam siswinya, agar tidak penceritakan perbuatan kepada siapapun. Jika siswinya menceritakan perbuatannya, maka guru tersebut, memberikan ancaman tidak akan meluluskan atau akan diberikan nilai C.

Beberapa siswi korban pelecehan seksual, sempat trauma dan ketakutan jika melihat sosok guru SU. Beberapa diantaranya mengadu kepada orangtua masing-masing dan empat wali murid melaporkan tindak asusila tersebut ke Polres Sleman.

Atas perbuatannya itu SU, diamankan dan Polisi saat ini sedang meminta keterangan dari 12 saksi korban.

Namun Iptu Bowo menyatakan, dengan pertimbangan psikologis korban siswi yang bisa dimintai keterangan sebagai saksi dan saksi korban di unit PPA hanya enam orang. "Enam lainnya tidak karena orangtua masing-masing tidak berkenan,” katanya.

Penetapan tersangka sudah dilakukan sejak tanggal 8 Desember 2019. Setelah penetapan tersangka, SU langsung ditahan. Dikatakan, laporan kasus pelecehan seksual oleh guru SU, berawal dari aduan dari orang tua korban.

Proses penyelidikan diakuinya relative lama, karena yang dilaporkan merupakan oknum guru. Upaya visum psikiatrikum juga dilakukan kepada korban dengan dibantu oleh psikiater dan berdasar pemeriksaan psikiatri, anak mengalami kecemasan, sedih dan ada perasaan ketakutan yang berlebihan.

Sedang motif pelaku, ujar Iptu Bowo, semata-mata karena diri sendiri. “Kasus sudah hampir di tahap P21. Kami menargetkan bulan ini bisa dilakukan sidang," tuturnya.

Atas tindakan pelecehan seksual dan ancaman kepada siswinya SU, terancam dikenakan pasal 82 ayat 1 dan 2 juncto pasal 76 e UU no. 17/2016 tentang perlindungan anak. Karena statusnya sebagai guru PNS, maka ancaman hukuman diperberat, berdasarkan klausul di pasal 82 ayat 2, ancaman penjara diperberat sepertiganya, atau maksimal hukuman penjara 15 tahun minimal 5 tahun penjara. 



Sumber: Suara Pembaruan