Lokasi Ibu Kota Negara Baru Disebut Tidak Pernah Banjir

Lokasi Ibu Kota Negara Baru Disebut Tidak Pernah Banjir
Presiden Joko Widodo bersama dengann Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor, saat meninjau lokasi rencana ibu kota baru di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa 17 Desember 2019. Titik yang ditinjau Jokowi berada di Kecamatan Sepaku, Penajam Passer Utara, Kalimantan Timur, tepatnya di wilayah perhutanan yang konsesinya dikuasai oleh PT ITCI Hutan Manunggal. Lokasi ini akan dibangun kluster pemerintahan, termasuk Istana Kepresidenan. (Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao)
Carlos KY Paath / FMB Senin, 6 Januari 2020 | 09:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Lokasi ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur (Kaltim) tidak pernah mengalami kebanjiran. Sebab, daerah tersebut berada di ketinggian. Demikian disampaikan Anggota Komisi V DPR Irwan Feccho, Senin (6/1/2020).

“Lokasi IKN itu enggak pernah banjir. Selain karena berada di daerah ketinggian, juga tidak ada sungai-sungai besar di lokasinya,” kata Irwan yang berasal dari Daerah Pemilihan Kaltim.

Politisi Partai Demokrat tersebut menilai keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memindahkan IKN dari DKI Jakarta ke Kaltim sangat tepat, melihat kondisi Jakarta yang kerap dilanda banjir setiap musim hujan.

“Keputusan Jokowi memindahkan ibu kota sangat tepat dengan apa yang dialami Jakarta saat ini. Biaya untuk menyelesaikan masalah banjir Jakarta dari hulu sampai hilir hingga tuntas, sama dengan biaya memindahkan ibu kota negara,” ujar Irwan.

Irwan menambahkan, seluruh pihak kini sepatutnya segera mendukung percepatan pembahasan dan pengesahan regulasi mengenai IKN. Dengan begitu, segala perencanaan pembangunan di IKN sudah dapat dilaksanakan pada 2020.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono juga memastikan IKN baru bebas dari banjir. Basuki menjelaskan, wilayah yang ditentukan yaitu Penajam Paser Utara memang tak pernah dilanda banjir.

“Secara paleohidrologinya dari sejarah hidrologinya enggak ada (banjir). Bencananya juga minim," ujarnya.

Akan tetapi, menurut Basuki, potensi banjir tentu muncul apabila ekosistem berubah. Pemerintah telah memitigasi persoalan ini. Misalnya dengan membangun ruang terbuka yang luas untuk dijadikan daerah serapan air ketika musim hujan. Teknologi untuk mempercepat genangan air surut juga dirancang di IKN baru. 



Sumber: Suara Pembaruan