PGRI Siap Bantu Kemdikbud Rancang Cetak Biru Pendidikan

PGRI Siap Bantu Kemdikbud Rancang Cetak Biru Pendidikan
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia(PB PGRI) Prof Unifah Rosyidi. ( Foto: Suara Pembaruan/Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 30 Desember 2019 | 14:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rosyidi mengatakan, PGRI menyambut baik niat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyusun cetak biru pendidikan. Pasalnya, hingga kini Indonesia belum pernah memilikinya.

Selain itu, cetak biru pendidikan merupakan salah satu kebijakan yang selama ini selalu digaungkan oleh PGRI. Bahkan, PGRI sejak 2014 lalu sudah merancang fokus utama cetak biru pendidikan Indonesia.

"Secara makro, Indonesia belum ada grand design atau cetak biru pendidikan. Jadi apa yang dipikirkan Mendikbud Nadiem itu saya kira sangat baik karena pemikiran pembelajaran sepanjang hayat ini selalu digaungkan PGRI," kata Guru Besar bidang Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini kepada SP, Minggu (29/12/2019).

Untuk itu, Unifah menuturkan, PGRI bersedia diajak untuk bekerja sama merancang cetak biru pendidikan. Pasalnya, hasil cetak biru pendidikan yang digaungkan oleh PGRI ini adalah hasil pemikiran para ahli di bawah naungan PGRI yang terdiri dari guru besar bidang pendidikan dari perguruan tinggi dan pengelola Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Semuanya menetapkan tiga fokus utama yang meliputi konsep pendidikan untuk semua, pendidikan vokasi, dan pendidikan akademik atau pendidikan untuk guru.

Unifah menyebutkan, konsep pendidikan untuk semua yang terkait dengan program wajib belajar 12 tahun itu bukanlah sekadar kewajiban tetapi harus benar-benar dibenahi. Dengan demikian, terbentuk konsep belajar sepanjang hayat dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) selama dua tahun lalu dilanjutkan ke sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

"Konsep seperti ini telah diterapkan di negara dengan pendidikan maju seperti Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan Polandia. Konsep ini pembentuk pembelajaran sepanjang hayat," ujarnya.

Unifah menyebutkan, untuk pendidikan akademik, pemerintah harus fokus mengubah konsep pemahaman guru tentangan pengajaran yang dimulai dari literasi dasar, yakni menanamkan calismaturtung (membaca, menulis, menyimak, menutur, dan berhitung) sebagai sebuah kebiasaan. Dengan begitu, pemerintah akan berhasil ketika menerapkan 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation).

Selanjutnya, Unifah menuturkan, dasar literasi ini penting karena apabila tidak dipersiapkan dengan baik, maka tujuan pendidikan dirancang akan sia-sia dan sulit tercapai karena dasarnya tidak kuat. "Literasi dasar ini sangat penting karena ada keterkaitan penuh dengan semua kecakapan hidup yang harus dimiliki peserta didik," ujarnya.

Lebih lanjut, literasi dasar sangat dibutuhkan karena menyiapkan masa depan anak itu bukan hanya terkait pendidikan digital, melainkan kemampuan dan kesiapan anak yang dipupuk dari tingkat PAUD hingga SMA. Unifah menuturkan, kurikulum pendidikan sebaiknya jangan hanya fokus pada mata pelajaran, akan tetapi juga pada kemampuan calismaturtung.

Lanjut dia, literasi dasar ini berkaitan erat dengan vokasi. Maka, dalam merancang cetak biru pendidikan, pemerintah harus benar-benar memikirkan sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan di masa yang akan datang. Selain itu, cetak biru juga harus sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan bagian dari Undang-Undang Dasar sehingga apa yang dirancang tidak akan bertentangan.



Sumber: Suara Pembaruan