Korban Montara di NTT Puji Greenpeace Australia

Korban Montara di NTT Puji Greenpeace Australia
Anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor meledak pada 21 Agustus 2009 dan mencemari pantai selatan pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur. ( Foto: perthnow.com.au )
Heriyanto / HS Senin, 16 Desember 2019 | 17:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Warga Nusa Tenggara Timur (NTT) korban pencemaran minyak mentah akibat meledaknya anjungan minyak Montara pada 21 Agustus 2009 di Laut Timor memberi apresiasi khusus kepada Greenpeace Australia Pasifik. Organisasi yang banyak memperjuangkan kepentingan lingkungan hidup itu dengan tegas mempermalukan Pemerintah Federal Australia dan PTT Exploration and Production (PTTEP), perusahaan minyak Thailand yang hendak menghindar dari tanggung jawab atas musibah pencemaran tersebut.

Demikian dikemukakan Ketua Tim Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni dalam keterangan tertulis akhir pekan lalu, setelah mengutip pernyataan pers Greenpeace Australia yang menyambut baik klaim hak asasi manusia PBB untuk komunitas Timor Barat di NTT yang terkena dampak tumpahan minyak Montara 2009.

Tumpahan minyak Montara adalah salah satu bencana lingkungan terburuk di Australia. Hal itu karena menghasilkan tumpahan minyak sebanyak 90.000 kilometer persegi dan 220 km di lepas pantai Australia Barat yang kemudian mencemari hampir 90 persen wilayah perairan Indonesia di Laut Timor pada saat itu.

Selain itu, Greenpeace Australia Pasifik juga menyambut baik berita bahwa klaim hak asasi manusia telah diajukan ke Pelapor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melawan Persemakmuran Australia.

Baca : Warga NTT Ajukan Klaim Kompensasi Pencemaran Montara ke PBB

"Klaim semacam itu sudah lama ditunggu. Kami berharap bahwa klaim ini pada akhirnya akan memberikan keadilan bagi masyarakat Timor Barat yang lingkungan, kesehatan dan mata pencahariannya telah rusak parah akibat dampak kebocoran minyak tahun 2009," kata Tanoni.

Sementara itu, pemerintah Australia dan perusahaan PTTEP terus berjuang untuk menghindari kompensasi masyarakat NTT yang mengalami kehancuran akibat tumpahan Montara.

Petaka tumpahan minyak dari anjungan Montara ini terjadi lebih dari satu dekade yang lalu dan baru sekarang ditangani di PBB karena dampaknya yang menghancurkan masyarakat NTT yang bermukim di wilayah pesisir.
Tanoni mengatakan selama 10 tahun ini, pihaknya terus mengadakan pendekatan dan pertemuan dengan Pemerintah Australia untuk segera menyelesaikan urusan tersebut.

"Akan tetapi, selama 10 tahun lamanya ini, Australia dan PTTEP terus berkelit untuk menghindar dari kompensasi. Atas dasar itulah, kami terpaksa ajukan gugatan ini ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)," demikian Tanoni.



Sumber: Suara Pembaruan