Akses ke YIA Dongkrak Wisatawan ke Yogyakarta dan Jateng

Akses ke YIA Dongkrak Wisatawan ke Yogyakarta dan Jateng
Foto bersama narasumber dan moderator "focus group discussion" (FGD) bertema "Key Success Factor Optimalisasi YIA Adalah Aksesibilitas yang Baik" yang diselenggarakan "Investor Daily" di Yogyakarta, Jumat 13 Desember 2019. (Foto: Istimewa)
Primus Dorimulu / AB Senin, 16 Desember 2019 | 16:33 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Pembangunan akses jalan dari Yogyakarta International Airport (YIA) atau Bandara Kulonprogo ke Kota Yogyakarta, Solo, Candi Borobudur, Semarang, dan ke berbagai konsentrasi permukiman sekitarnya akan mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan, domestik dan mancanegara, ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng).

Menjelang pengoperasian penuh YIA pada 29 Maret 2020, akses jalan tol dan kareta api--yang langsung ke terminal YIA--perlu dipercepat agar kehadiran bandara internasional itu memberikan harapan baru dan dampak nyata terhadap peningkatan pariwisata dan ekonomi masyarakat di dua provinsi.

Mesin pertumbuhan ekonomi DIY dan Jateng ke depan adalah sektor pariwisata karena dua provinsi ini memiliki kekayaan budaya dan alam yang indah. Penetapan Borobudur sebagai satu dari lima daerah tujuan wisata superprioritas di Indonesia akan menempatkan DIY dan Jateng dalam radar daerah tujuan wisata (DTW) internasional. Kehadiran YIA tidak hanya untuk menopang Bandara Adisutjipto yang sudah kelebihan beban, melainkan juga untuk menggerakkan roda perekonomian DIY dan Jateng lewat pariwisata. Hingga saat ini, jumlah wisman yang mengunjungi Yogyakarta selalu di bawah target. Oleh karena itu, aksesibilitas dari YIA dan menuju YIA sangat penting demi kemudahan pergerakan penumpang.

Demikian kesimpulan focus group discussion (FGD) tentang "Key Success Factor untuk Optimalisasi YIA Adalah Aksesibilitas yang Baik" yang diadakan Investor Daily di Swissbell Boutique Hotel Yogyakarta, Jumat (13/12) siang. FGD yang dipandu Pemred Investor Daily Primus Dorimulu menghadirkan Dirjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Sugiyartanto, Dirut PT Angkasa Pura TAP) AP I Faik Fahmi, Wakil Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Koentjoro Pamboedi, Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP I Devy Suradji, Kadaops 6 PT Kereta Api Indonesia (KAI) Eko Purwanto, Kasubdit Penataan dan Perkembangan Jaringan, Ditjen Perkeretapian Kementerian Perhubungan (Menhub) Ikhsandy, Kasubdit Lalu Lintas dan Angkutan Kareta Api, Ditjen Perkeretapian Kemenhub Setyo, Wakil dari Ditlantas Polda DIY Purwanta, Kepala Bidang Sarana dan Perasana Bappeda DIY Aris Prasena, Kadishub Kulon Progo Lucius Bowo Pristyanto, GM DAMRI DIY, Sekjen Organda Ateng Aryono, pengamat kebijakan publik Edie Haryoto dan Agus Pambagio.

Pada 29 Maret 2020, penerbangan di Bandara International Adisutjipto akan dialihkan sepenuhnya ke YIA. Bandara Adisutjipto masih tetap beroperasi, tetapi terbatas hanya untuk pesawat propeler atau pesawat yang menggunakan baling-baling, pesawat carter, pesawat pribadi, dan pesawat militer.

Pada 29 Maret 2020, kata Devy Suradji, akan ada 150 penerbangan domestik dan delapan penerbangan internasional yang beroperasi di YIA. Dengan demikian, pada musim panas, YIA akan beroperasi penuh selama 24 jam dengan jumlah flight 184 domestik dan delapan penerbangan internasional.

Saat ini, pergerakan penumpang di Bandara Adisutjipto sudah menembus 8,4 juta orang per tahun atau 22.000 per hari, jauh di atas kapasitas yang hanya 1,8 juta per tahun atau 5.000 per hari. Pergerakan pesawat sudah di atas 85.100 setahun atau rata-rata 170-an per hari, menempatkan Adisutjipto International Airport sebagai bandara terpadat di Indonesia.

"Setiap Jumat hingga Minggu, calon penumpang sulit mendapatkan tiket pesawat ke Yogyakarta," kata Faik.

YIA dibangun dengan kapasitas 20 juta penumpang per tahun atau 60.000 per hari. Target penumpang bandara dengan landasan pacu 2.350 meter ini bukan hanya penumpang dari Yogyakarta, juga Solo, Semarang, permukiman di DIY, Jateng, serta wilayah timur Jabar. Kawasan di Pantai Selatan Jawa (Pansela) yang selama ini tertinggal dari Pantai Utara Jawa (Pantura), kini tengah berbenah dan ke depan akan menjadi kawasan wisata karena ada jalan tol.

Pada tahap awal, YIA dibangun untuk menampung 14 juta penumpang per tahun. Saat ini, kapasitas YIA mampu menampung 20 juta penumpang setahun. Ke depan, bandara ini sudah disiapkan untuk perluasan agar mampu mendukung 25 juta penumpang setahun.

Dengan kehadiran YIA, Yogyakarta dan Jateng kini memiliki empat bandara, yakni Adisutjipto, YIA, Bandara Adisumarmo Solo, dan Bandara Ahmad Yani Semarang. Semuanya di bawah pengelolaan AP I.

"Warga DIY dan Jateng akan mendapatkan banyak alternatif," ujar Faik.

Dampak Awal
Dalam tiga bulan ke depan, pembangunan akses dari YIA dan menuju YIA harus perlu dipercepat. Pengamat kebijakan publik Edie Haryoto mengatakan masalah aksesibilitas YIA adalah pada awal operasi, bukan pada jangka menengah dan panjang. Pada 29 Maret 2020, saat YIA mulai beroperasi, tol dan jalur KA yang khusus ke bandara belum dibangun.

"Di sini masalahnya," ujarnya.

Edie mengusulkan agar PT KAI dan Perum Damri mengoptimalkan armadanya. Frekuensi keberangkatan ditingkatkan agar semua pelaju yang membutuhkan angkutan umum terlayani. "Manajemen transportasi menjadi kunci. Ada kepastian jadwal keberangkatan kereta dan Damri, apakah setiap jam, setengah jam, atau seperempat jam," papar mantan dirut PT KAI itu.

Dalam jangka menengah-panjang, tol dan KA yang langsung ke YIA akan dibangun pemerintah. Namun, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, BPJT, Kementerian Perhubungan, Pemprov DIY-Jateng perlu memprioritaskan penyelesaian jalan tol dan KA bandara agar pembangunan dan penyelesaiannya tidak meleset dari rencana.

Belajar dari sistem transportasi di negara maju, transportasi udara di YIA sebaiknya terkoneksi dengan transportasi darat guna memudahkan pergerakan penumpang. Di terminal bandara juga ada stasiun kereta dan bus. Penumpang dari YIA dan menuju diberikan kemudahan untuk memilih moda angkutan umum. AP I perlu berkoordinasi dengan PT KAI, Perum Damri, dan perusahaan bus lainnya untuk menyusun jadwal yang disesuaikan dengan jadwal penerbangan.

Lokasi city check in dan titik pemberangkatan dari Bandara Adisutjipto juga perlu dipersiapkan. Begitu pula dengan titik pemberangkatan dari kota-kota lain ke YIA. Penumpang bisa check in dari titik pemberangkatan dan setibanya di bandara, tinggal menunggu jadwal boarding.

Tarif angkutan umum sesuai harga keekonomian pasti mahal. Oleh karena itu, diperlukan pola subsidi. Angkutan bus dari Adisutjipto ke YIA akan dilakukan oleh AP I--melalui kerja sama--agar akses angkutan publik ke YIA dapat dikendalikan sepenuhnya oleh AP I. Solusi itu, kata Edie, merupakan bentuk pertanggungjawaban AP I terhadap pemindahan bandara dari Adisutjipto ke YIA. Proses subsidi dilakukan hingga transportasi kereta dan tol sudah beroperasi penuh dan dimungkinkan usulan melalui skema PSO dan atau bagian komponen PSC.

Saat ini, demikian Direktur Marketing dan Pelayanan AP I, Devy Suradji, moda transportasi darat yang bisa digunakan penumpang YIA adalah bus Damri, minivan Damri, SatelQu, taksi, KA bandara. Selain itu, penumpang juga bisa menggunakan kereta api. Frekuensi keberangkatan KA akan diperbanyak. Jadwal keberangkatan bus dan kareta api akan disesuaikan dengan jadwal penerbangan.

Tol dan Kereta
Posisi DIY dan Jateng yang berada di tengah Pulau Jawa, kata Dirjen Bina Marga Sugiyartanto, akan mudah tersambungkan tol Trans-Jawa. Dalam jangka panjang harus ada tol yang malewati YIA. Saat ini, sudah ada akses jalan ke YIA, yakni jalan raya Yogyakarta-Kulonprogo yang tinggal diperluas. Selain itu, ada jalan nasional yakni jalan selatan dan jalan lintas pansela yang melewati YIA. Dalam jangka pendek, jalan ini akan diperlebar. YIA terletak di Pansela. Untuk mendarat, pesawat memiliki keleluasaan untuk bermanuver dari laut.

"Untuk akses ke YIA, sudah ada jalan nasional. Kami rencanakan, pelebaran yang akan selesai tahun 2020," ungkap Sugiyartanto.

Akses ke Bandara YIA akan dilakukan lewat underpass yang sedang dibangun. Setahun ke depan, underpass selesai dibangun.
Semarang-Yogyakarta sudah terhubungkan oleh tol. Jalur tol Solo-Yogyakarta-Purworejo akan dibangun. Purworejo hanya berjarak 6 km dari YIA. Sudah pasti, tol akan melewati bandara. Kemudian, kata Sugiyartanto, ada tol dari Semarang-Bawen menuju Yogyakara, melewati Magelang. Ujung dari tol adalah YIA.

"Akan ada tol yang menghubungkan segitiga emas, yakni Kota Semarang-Solo-Yogya melewati YIA," kata Dirjen Sugiyartanto.

Sejumlah ruas tol kini sedang dalam proses lelang. Kemampuan teknis tidak ada masalah. Jika ada dana dan lahan yang sudah dibebaskan, pembangunan jalan tol akan berjalan lancar.

Jarak antarkota bakal diperpendek oleh kehadiran tol. Mengingat DIY dan Jateng adalah provinsi seni, demikian Sugiyartanto, setiap jalan yang dibangun akan diberikan sentuhan seni.

Seperti Pantura, jalur Pansela juga akan dibangun tol. Saat ini, bagian selatan Jabar sudah mulai dibangun tol, Cilacap-Garut-Tasik. Di wilayah selatan Jatim pun akan dibangun tol. Dari Purworejo, tol akan sambung ke Pacitan, Jatim.

Saat ini sedang dibangun underpass YIA dan pendukung jalan menuju Kulonprogo, pelebaran simpang Bandara YIA, dan akses menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga membangun jalur Pansela DIY, mengawal pembangunan underpass Kentungan (Kaliurang), dan rencana Jembatan Kretek II.
Ruas jalan Pansela, yakni Karangnongko-Bugel-Ngremang sekitar 1 km bersinggungan dengan area YIA yang berlokasi di Kulonprogo. Untuk mempertahankan ruas jalan Pansela sebagai jalur strategis dan ada sinergi dengan YIA, solusinya adalah underpass.

Dalam jangka menengah-panjang, pemerintah membangun tol Solo-Yogyakarta-YIA, tol Yogyakarta-Cilacap-Ciamis-Tasikmalaya, tol Yogyakarta-Bawen, dan outer ring road Yogyakarta. Semarang-Solo sudah tersambung tol.

Untuk memperlancar akses di DIY dan Jateng dengan kehadiran bandara internasional, demikian Koentjahyo Pamboedi dari BPJT, tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulonprogo sudah pasti dibangun. Jasa Marga dan BPJT sedang mempersiapkan pembangunannya dan saat ini dalam proses tender dan pembebasan lahan. Sesuai dengan kondisi medan, ruas tol terbagi dalam beberapa paket. Pembebasan tanah belum 100% selesai.

Pada 2020-2024, pemerintah menargetkan untuk membangun 2.500 km tol di Indonesia, termasuk tol Solo-Yogyakarta-YIA sepanjang 93,14 km. Diharapkan, selambatnya, 2023 tol baru ini sudah dapat beroperasi.

Dalam jangka pendek, jalur kereta yang ada sudah bisa dipergunakan. Dari Stasiun Yogyakarta, kata Eko Purwanto, kepala Daops VI PT KAI, penumpang bisa menggunakan kereta ke YIA, tetapi hanya bisa sampai Stasiun Wojo yang berjarak 6,7 km dari YIA. PT AP I menyediakan bus Damri dan taksi bagi penumpang. Jarak Wojo-YIA hanya memakan waktu 10 menit.

Para penumpang dari Semarang, Solo, Yogyakarta, dan sekitarnya bisa menggunakan jalur kereta yang ada dengan berakhir di Wojo. Dalam jangka menengah-panjang, jalur kereta api ditambahkan di samping jalur yang sudah ada. Para peserta FGD menyarankan ada KA, khusus Yogyakarta-YIA. Kereta harus langsung masuk stasiun YIA. Hanya dengan cara ini, YIA akan menjadi bandara modern yang setara dengan bandara di negara maju.

Sudah 91%
Pembangunan bandara, terminal bandara, dan berbagai fasilitas penunjang di YIA, kata Devy Suradji, sudah mencapai 91%. Ini adalah progres pembangunan hingga minggu ke-73, periode 2-8 Desember 2019.

Luas kawasan Bandara YIA mencapai 587 hektare, di antaranya 3.350 meter runway dan terminal seluas 2,190 hektare atau 219.000 meter persegi.

"Saat ini, terminal yang sudah beroperasi 12.920 meter persegi atau sekitar 6% dari keseluruhan luasan terminal," papar Devy.

Terminal Bandara YIA.

Pembangunan airport city dilakukan semua oleh PT AP Property berpotensi menciptakan kota sekitarnya yang disebut aerotropolis. Pembangunan aerotropolis masih pada tahap perencanaan bersama Pemprov DIY. Pembangunan kota ini di disesuaikan dengan rencana detail tata ruang (RDTR) DIY yang meliputi radius 8 km dari Bandara YIA.

Total investasi YIA mencapai Rp 11,8 triliun dan sepenuhnya menggunakan dana investasi AP I. Investasi besar ini menjadi salah satu faktor pendongkrak pertumbuhan DIY hingga melaju di atas pertumbuhan nasional.

Sejak YIA beroperasi Mei 2019, sudah terdapat 34 rute dengan 17 flight. Maskapai penerbangan yang diizinkan Kementerian Perhubungan untuk beroperasi di bandara baru ini ialah Batik Air dengan rute Samarinda (APP), Jakarta (CGK dan HLP), Palangkaraya, dan Denpasar. Batik Air melayani 10 flight.

Kemudian, Citilink dengan rute Denpasar, Halim Perdanakusumah, Banjarmasin, dan Palembang, dengan total sebanyak delapan flight. Ada juga Lion Air dengan rute Makassar, Kualanamu, Tarakan, Balikpapan, Banjarmasin, Batam, dan Pontianak dengan total sebanyak 14 flight, serta Garuda dengan rute Bandara Soekarno-Hatta sebanyak dua flight.

Pada Maret 2020, selain existing flight, ada tambahan penerbangan sejumlah maskapai, yakni Nam Air, Sriwijaya Air, Wings Air, Express Air, dan Silk Air.

Pariwisata
Keberadaan Bandara YIA akan membuat DIY benar-benar menjadi lebih istimewa, karena meningkatkan aksesibilitas untuk wisatawan domestik dan turis asing yang datang.

Secara nasional, pemerintah memiliki target untuk meningkatkan kunjungan pariwisata. Keberadaan Bandara YIA yang lokasinya hanya berjarak enam kilometer dari Purworejo bakal membuka akses yang lebih luas ke Jawa Tengah, sehingga destinasi pariwisata di Jawa Tengah diharapkan akan ikut berkembang.

Sementara itu, kunjungan wisatawan ke Yogyakarta diprediksi bakal meningkat karena Bandara YIA memiliki kapasitas yang lebih besar dari Bandara Adisutjipto.

Berdasarkan data yang diperoleh Investor Daily, total kunjungan wisatawan ke Yogyakarta menunjukkan peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Pada 2018, jumlah kunjungan wisatawan ke Yogyakarta mencapai total 5.689.093 kunjungan, masing-masing 5.272.719 kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) dan 416.374 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai total 5.229.298 kunjungan (4.831.347 kunjungan wisnus dan 397.951 kunjungan wisman).

Sementara itu, jumlah kunjungan wisman ke Jawa Tengah pada 2018 mencapai 677.168 kunjungan, atau turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 781.107 kunjungan.

 



Sumber: BeritaSatu.com