Mimpi Billy Mambrasar, Penjual Kue yang Jadi Staf Khusus Presiden

Mimpi Billy Mambrasar, Penjual Kue yang Jadi Staf Khusus Presiden
Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Billy Mambrasar ( Foto: Suara Pembaruan / Robert Isidorus Vanwi' )
Robert Vanwi Isidorus / JEM Kamis, 12 Desember 2019 | 16:11 WIB

Papua, Beritasatu.com – Terpilih sebagai staf khusus (stafsus) Presiden Joko Widodo (Jokowi), bukan sekadar sebuah prestise tapi adalah tanggung jawab besar bagi Billy Mambrasar, anak Papua yang mendapat kepercayaan ikut terlibat langsung dalam menata pemerintahan Indonesia.

“Saya bertanggung jawab terhadap 260 juta rakyat Indonesia. Saya berutang janji bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat bangsa ini,” kata Billy, Stafus Presiden Jokowi dari kalangan milenial.

Billy mengatakan, jabatan bukanlah privilese, tapi tanggung jawab dan amanah. “Karenanya jabatan harus diikuti dengan komitmen tinggi ikut membangun negara lebih cepat maju dari sekarang,” ujar Billy dalam perbicangan dengan Suara Pembaruan di sebuah kafe di Jayapura, Papua, baru-baru ini.

Billy Mambrasar yang lahir di Serui, Biak, Papua, memang sejak lama sudah menggeluti perjuangan mengatasi kesenjangan dalam bidang pendidikan dan ekonomi di Papua.

Dengan dukungan kuat dari orang tuanya, Billy mendirikan lembaga yang diberi nama “Kitong Bisa” artinya “kita bisa”. Melalui lembaga ini, Bill mengaplikasikan ide-ide dan gagasannya membangun rakyat Papua sehingga meraih kemajuan.

Bersama ayahnya, Isaskar Mambrasar, mendirikan Kitong Bisa Cabang Yapen. Rekan-rekan Billy seperti Meyrlin Anggai mendirikan Kitong Bisa Cabang Jayapura, Andre Sehralawan, Deisya Alhamid, dan Sakeos Iha (Kitong Bisa Cabang Fakfak), Sonya Uniplaita dan Michael Kambu (Kitong Bisa Cabang Merauke), dan Koirun Nissa Sri Mumpuni (Direktur PT Kitong Bisa Enterprise).

Melalui lembaga-lembaga tersebut, ratusan relawan anak muda Papua dan dari berbagai daerah lainnya di Indonesia, bekerja dengan hati memberikan akses pendidikan bagi anak-anak Papua yang kurang mampu secara gratis.

“Organisasi ini telah memberikan akses pendidikan cuma-cuma bagi ratusan anak Papua yang kurang mampu sejak 2009,” ujar Billy.

Karena kegigihannya itulah maka Billy menjadi magnit Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Bersama 118 pemimpin muda lainnya dari seluruh dunia, pada November 2018, Billy diundang untuk menyampaikan pidato terbuka di Gedung Pusat PBB di New York, Amerika Serikat. Pidato terkait gagasan dan idenya dalam mengatasi masalah aksesibilitas pendidikan dan kesenjangan ekonomi yang terjadi di seluruh dunia.

Dalam pertemuan itu, para pemuda-pemudi pemimpin dunia yang hadir mengkritik keras tatanan pemerintahan yang korup dan tidak memerdulikan kebutuhan dasar masyarakatnya dalam bidang pendidikan dan kesempatan kerja.

Sebagai salah satu anggota delegasi, Billy dengan bahasa Inggris yang fasih juga berdebat keras dengan Pemimpin Kepemudaan Pusat PBB, terkait fokus PBB yang bagi Billy masih sekadar “kosmetik” belum menyentuh permasalahan utama pemuda-pemudi di seluruh dunia.

Billy dan seluruh delegasi muda itu pun memberikan masukan untuk perbaikan ke depannya. “Esensinya adalah bahwa para pemuda harus mengesampingkan kebiasaan “banyak bicara” saja, tetapi harus memulai langkah nyata untuk menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat,” ujar Billy.

Selain aktif di Organisasi Sosial Kitong Bisa, Billy Mambrasar juga adalah salah satu penasihat di Unit Hubungan Pusat dan Daerah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, staf ahli Social and Papuan Content di Proyek BP Tangguh di Papua Barat.

Besar sekali harapan Billy bisa mewujudkan visi menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua yang masih tertinggal di banding daerah lain di Tanah Air.

Salah satu motivasi Billy yang terus hidup dalam dirinya adalah karena didikan keras kedua orang tuanya yang meski hidup pas-pasan tapi bisa mendorongnya untuk bersekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi dan berhasil meraih beasiswa karena prestasinya yang bagus.

“Saya memang bekerja keras untuk meraih pendidikan setinggi- tingginya. Saya sendiri adalah anak Papua yang lahir dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, bisa dikatakan sangat miskin," kata Billy.

Lanjut Billy, "Saya jualan kue dan hidup di rumah tanpa listrik sampai saya duduk di bangku SMP. Orang tua saya sampai berlinang air mata, ketika mengetahui mimpi besar saya untuk berkuliah ke ITB, karena terinspirasi kisah Presiden Soekarno yang sukses menjadi insinyur sipil setelah berkuliah di ITB,” ujar Billy.

Billy mengulang pesan ibunya, “Nak, mama hanya jual-jual kue di pasar, penghasilan setiap hari tidak sampai Rp 50 ribu. Bagaimana mungkin mama dan papa sanggup membayar uang sekolah kamu untuk kuliah lagi?” kenang Billy.

Namun Billy tetap nekat ingin sekolah ke Jawa. Untuk memenuhi ambisi Billy, ayahnya menemui para pimpinan kantor di Papua, dari satu dinas instansi ke dinas instansi lain, memohon bantuan agar Billy bisa dibantu dana untuk biaya sekolah ke Tanah Jawa.

“Tuhan menjawab doa kami, saya dibantu oleh Dr James Modouw, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua saat itu dengan uang Rp 5 juta, untuk menerbangkan saya bisa berangkat kuliah ke Bandung,” ujar Billy.

Di Bandung, Billy ia ikut tes di ITB dan berhasil lolos. Akan tetapi tidak ada biaya untuk makan, kecuali uang SPP sudah ditanggung oleh beasiswa Otonomi Khusus dari Pemerintah Provinsi Papua.

“Saya berjualan-berjualan kue dan mengamen dari kafe ke kafe, dari acara pernikahan ke acara pernikahan lainnya untuk dapat uang buat makan. Saya berusaha keras untuk bisa selesaikan pendidikan,” kata Billy.
Akhirnya ia bisa menyelesaikan pendidikan di ITB dan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi dengan meraih predikat master dari Universitas Oxford, Inggris dan lulus terbaik tahun 2015 dari The Australian National University dengan beasiswa penuh.

Banyak prestasi yang ditorehkan Billy dalam usia masih sangat muda saat ini. Ia memohon dukungan kita semua agar bisa meraih mimpi menyejahterahkan kehidupan rakyat Indonesia.

“Mohon doa dan dukungannya,” kata Billy Mambrasar.



Sumber: Suara Pembaruan