Untuk Generasi Z, Kolaborasi Bikin Belajar Jadi Menyenangkan

Untuk Generasi Z, Kolaborasi Bikin Belajar Jadi Menyenangkan
Kultur kolaborasi ini bisa ditanamkan pada generasi Z dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yakni dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik. (Foto: GSM / Dokumentasi)
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 10 Desember 2019 | 18:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Gen Z ini terlahir di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang demikian pesat. Oleh karena itu, cara ajar untuk mendidik anak-anak ini pun harus dibedakan dari sistem yang terdahulu. Bagi generasi Z, gaya kolaborasi akan membikin belajar jadi menyenangkan.

Generasi Z adalah anak-anak Gen Z ini lahir di tahun 1995 ke atas dan generasi yang lahir di zaman teknologi dan informasi. Jika generasi sebelumnya cocok dididik dengan pola otoriter, maka generasi Z ini justru sebaliknya.

“Pendidikan selalu menjadi sendi krusial dalam kebangkitan atau kemajuan suatu bangsa. Jika semangat yang dibangun di pendidikan adalah kompetisi berorientasi nilai, bangsa ini akan terjebak dalam kultur saling mengalahkan. Padahal, untuk menghadapi tantangan masa depan yang kian rumit, kita harus bekerja sama, berkolaborasi,” ujar Muhammad Nur Rizal, pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Jakarta, Selasa (10/12).

Generasi Z dibesarkan dengan pola-pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Dengan demikian, generasi ini cenderung lebih suka kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan, rasional.

“Kultur kolaborasi ini bisa ditanamkan dalam aktivitas sekolah sehari-hari, yakni dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik. Penyediaan ruang semacam ini akan memungkinkan anak untuk tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial. Ketimbang mementingkan ego, generasi muda akan terbiasa untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah bersama. Keterampilan semacam inilah yang dibutuhkan generasi muda,” tandasnya.

Perubahan pola perilaku pada generasi Zseperti kritis, kreatif, terbuka, mandiri, suka tantangan, adalah beberapa hal penting yang kerap menjadi batu sandungan bagi para pengajar kolot.

Tak Perlu Disuapi

Kini bukan zamannya lagi seorang guru “menyuapi” seluruh materi yang ada di buku, tanpa siswa perlu tahu apa manfaatnya untuk mereka. Genereasi Z tidak perlu lagi disuapi dengan pelajaran teoritis. Mereka sudah pandai membaca melalui media dan punya wawasan yang luas.

Sebagai generasi multimedia, mereka lebih suka diberikan kesempatan kolaborasi, berbicara, bertindak, dan terlibat. Peran multimedia, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri memungkinkan generasi ini untuk mengkritisi pengajar.

Karena terbiasa kemudahan teknologi, Gen Z cenderung tidak fokus, ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan mudah bosan. Hal ini juga menjadi tantangan bagi pengajar. Masa-masa yang produktif bisa menjadi solusi bagi anak-anak jenis ini.

Melibatkan siswa dalam satu tugas atau proyek sekolah secara langsung bisa jadi cara untuk melatih ketelatenan kaum muda. Berbagai proses yang mereka jalani menjadikan generasi ini juga sadar kalau tidak ada sesuatu yang instan dan tidak semuanya harus bergantung pada teknologi.

Kunci pengajaran adalah pahami, kenali, dan sabar. Pengajar harus sabar dan pandai berinteraksi dengan anak-anak generasi Z. Karena selain pandai, generasi ini juga cenderung kritis dan realistis.

Untuk menyikapinya, guru mesti banyak memberikan kelonggaran berpikir pada anak didik. Biarkan mereka berpendapat dan bertanya sesuai dengan pengetahuanya. Bila ada hal yang kurang tepat, ada baiknya jika pengajar membuka ruang diskusi.

Di sinilah kemudian tugas para pengajar harus mulai diubah. Melalui GSM semua itu dapat terwujud. Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) melakukan transformasi pola pendidikan formal menjadi lebih kolaboratif, inklusif, dan menarik guna mendorong kemampuan diri siswa.

GSM merumuskan konsep sekolah masa depan yakni sekolah menyenangkan yang memberi ruang tumbuhnya keunikan potensi setiap anak. GSM mengubah peran seorang pengajar dari yang biasanya sebagai pendikte, berubah menjadi fasilitator.

Aspek Dasar

Terdapat tiga aspek dasar keterampilan manusia era digital yang dibangun melalui program GSM ini yakni: (1) pola pikir terbuka, (2) kompetensi abad 21 berupa berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif dalam menemukan cara mengatasi masalah, serta (3) karakter moral dan etos kerja. Ketiga poin tersebut sangat cocok dengan karakteristik generasi Z yang kritis, kreatif, terbuka, dan bebas.

Anak-anak Generasi Z butuh diberikan kebebasan dalam berpikir dan mengelola informasi. Memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk melakukan riset mandiri, tidak sama dengan lepas tangan. Di sinilah letak peran pengajar, yaitu sebagai fasilitator. Tugas Fasilitator adalah memberikan klarifikasi dan mencegah siswa agar tidak sesat pikir, dan salah logika dalam mengambil satu kesimpulan dari proses belajar.

Pengajar diharapkan dapat menjalin komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa agar proses belajar-mengajar terwujud dengan baik dan menyenangkan. Perubahan pola pengajaran ke sistem yang lebih menyenangkan tersebut diharapkan dapat membuat generasi Z ini semangat untuk sekolah.

Berdasarkan hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA), sekitar 88% siswa di Indonesia setuju atau sangat setuju jika guru mereka menunjukkan kegembiraan dalam mengajar. Di sebagian besar negara, siswa sekolah mendapat nilai lebih tinggi ketika mereka memiliki guru yang antusias dan pro aktif.

Pola pengajaran oleh guru yang mengajak siswa berinteraksi dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang menyenangkan inilah yang pada akhirnya cocok dengan generasi Z yang aktif dan kritis. Diharapkan dengan pola pembelajaran yang menyenangkan, generasi Z dapat semakin bergairah saat belajar dan menghasilkan ide-ide yang baru.



Sumber: Suara Pembaruan