Nadiem Sempat Pesimistis Urus Masalah Guru

Nadiem Sempat Pesimistis Urus Masalah Guru
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (kiri). (Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 2 Desember 2019 | 11:00 WIB

Cikarang, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, momen peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2019 dapat menjadi semangat bagi para guru sebagai penggerak Indonesia maju untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing. Ini sesuai dengan tema HGN 2019 yakni “Guru Penggerak Indonesia Maju”.

Ia mengaku, sebelumnya sempat pesimistis bahwa tantangan yang ia akan hadapi sebagai Mendikbud dalam mengurusi masalah guru sangat berat.

“Saya yakin banyak yang mungkin sudah baca pidato saya, saya ingin memberitahu pidato itu hasil perbincangan dengan guru se-Indonesia. Sebelum saya mulai bicara dengan guru-guru, saya pesimistis bahwa tantangannya terlalu berat. Namun setiap kali saya berbincang dan mendengar dari pikiran dan nasihat guru, maka saya langsung optimistis,” ujar Nadiem di hadapan 37.756 guru yang hadir dalam peringatan HGN 2019 yang sekaligus bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT PGRI) ke-74 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Sabtu (30/11).

Ia bercerita, dirinya sempat berbincang-bincang dengan para guru yang berkunjung ke Jakarta maupun yang ia temui di daerah. Nadiem mengaku, perbincangan dengan guru menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Buah pikiran dan nasihat para guru seolah mengubah tantangan yang ia rasakan menjadi lebih ringan dan berujung pada optimisme.

“Ada guru di Sulawesi yang mengajak murid-muridnya keluar kelas ke perkebunan untuk mengenali kata-kata, mengenali benda-benda alam dengan kosakata adat dan kosakata Indonesia untuk meningkatkan ilmu bahasanya. Ada guru di Jakarta yang telah mencetuskan program informatika melalui mainan-mainan yang sifatnya mendidik, walaupun itu bukan dari kurikulum. Ada sekolah di Kalimantan yang setiap minggunya dan setiap bulannya mengatur orangtua murid datang ke kelas, bukan hanya untuk belajar tetapi juga ikut berpartisipasi dalam kurikulum. Ini adalah langkah-langkah nyata yang sudah terjadi di Indonesia,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan inisiatif para guru untuk mulai mengambil peran perubahan yang didukung oleh kepala sekolah, pengawas sekolah, dinas pendidikan, dan pemerintah daerah (pemda). Pasalnya, dalam menjawab tantangan reformasi pendidikan di tengah keberagaman budaya hingga birokrasi di Indonesia, harus ada keselarasan dalam satu gerakan yang didukung dari atas ke bawah untuk menciptakan Indonesia unggul.

"Saya ingin mengajak mengubah paradigma kepemimpinan yang tadinya itu sebagai sebagai penguasa, atau pengendali, atau regulator, menjadi paradigma kepemimpinan yang melayani. Mulai minggu depan saya berharap sekali kepsek dan pengawas kita menanyakan apa yang bisa saya lakukan untuk guru sehingga bisa bertugas lebih baik. Dengan begitu, kita bisa mengubah paradigma kepemimpinan, yakni paradigma kepemimpinan yang membantu,” ujarnya.

Untuk memerdekakan guru sesuai janjinya, Nadiem akan menyederhanakan berbagai macam aturan, administrasi, kurikulum, dan berbagai macam asesmen. “Dari atas kami akan mulai bergerak, tapi mohon berikan kami berbagai macam input, dan berikan waktu untuk melakukan itu,” ujarnya.

Kesejahteraan
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PGRI, Unifah Rosyidi menuturkan, tema HGN tahun ini sejalan dengan tema yang diangkat Kemdikbud yaitu “Peran Strategis Guru dalam Menggerakkan Perubahan”.

"Intinya, kita semua menyambut perubahan dan sama-sama berkomitmen memajukan pendidikan nasional, berintegritas, dan sungguh-sungguh," terangnya saat menyampaikan sambutan.

Unifah menuturkan, PGRI akan selalu menjadi organisasi guru yang bermitra strategis dengan pemerintah pusat maupun pemda dalam meningkatkan pendidikan nasional. Untuk itu, PGRI menuntut pemerintah untuk segera menyederhanakan administrasi guru sehingga tidak membelenggu guru serta memperhatikan kesejahteraan guru.

“Mohon jabatan pengawas dipertahankan guna mengawal mutu pendidikan. Guru pendidikan formal, nonformal, para pengawas, dan tenaga administrasi adalah tulang punggung keberhasilan pendidikan,” ucapnya.

Unifah berharap kehadiran Mendikbud dapat membawa perubahan pada pola pelatihan guru. Pelatihan harus berkesinambungan agar guru tidak berhenti belajar.

"Kita mendorong guru untuk berubah tapi pemerintah juga harus semakin baik memperbaiki layanan pendidikannya, sehingga selaras nyambung satu sama lain. Kami mengajak daerah-daerah bersama-sama menyelesaikan permasalahan guru," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan