Rosan: Kadin Dukung Pemerintah Tingkatkan Perekonomian Nasional

Rosan: Kadin Dukung Pemerintah Tingkatkan Perekonomian Nasional
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P. Roeslani di sela-sela perhelatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bidang Industri Kreatif Kadin di Hotel Sultan, Jakarta (7/11/2019). ( Foto: Ismewa )
Novy Lumanauw / JAS Jumat, 29 November 2019 | 09:46 WIB

Nusa Dua, Beritasatu.com – Pelaku usaha tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyatakan tekadnya untuk bersama-sama pemerintah meningkatkan perekonomian nasional.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, fokus Kadin saat ini adalah berupaya meningkatkan kinerja perekonomian nasional agar makin berdaya saing dan berkeadilan, di tengah dinamika perekonomian global yang cenderung melemah serta dalam menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal.

“Pokok-pokok pikiran pada Rapimnas Kadin diarahkan untuk mengembangkan usulan-usulan konkret dalam mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dunia usaha serta menyusun rekomendasi untuk memajukan perekonomian nasional,” kata Rosan pada Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin di Nusa Dua, Bali, Jumat (29/11).

Pada acara Rapimnas, Kadin menandatangani nota kesepahaman dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) tentang pemberdayaan ekonomi daerah dan pelaku usaha di daerah, terkait pembinaan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) serta koperasi di daerah dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kualitas berbagai produk barang dan jasa, juga akses permodalan dan pasar.

Selain itu, Kadin juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan Australia-Indonesia Partnership for Economic Development (Prospera) di bidang pengembangan platform ekspor berbasis online.

Menurut Rosan, menurunnya daya saing nasional di bidang pengembangan industri menjadi salah satu faktor penyebab merosotnya kinerja sektor industri manufaktur. Disebutkan, deindustrialisasi dikhawatirkan akan mengakibatkan memperlebar defisit neraca perdagangan, karena impor berpotensi menjadi lebih besar dibandingkan ekspor.

“Jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan melebarnya defisit transaksi berjalan dan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat,” katanya.

Untuk itu, lanjut Rosan, dunia usaha akan bersama-sama pemerintah mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang makin berkualitas melalui penciptaan lapangan kerja, pemberantasan kemiskinan, dan mempersempit tingkat ketimpangan ekonomi antarwilayah, sehingga akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.

Apalagi, katanya, pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2018-2019 berada pada kisaran 5,1-5,2 persen, inflasi 3,1 persen, nilai tukar rupiah di kisaran Rp 14,400/dolar AS, dan suku bunga 5 persen.

“Kami berharap pertumbuhan ekonomi akan meningkat,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Rosan, selama ini penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional adalah konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan itu bila diukur berdasarkan harga konstan 2010, pertumbuhannya sebesar 5,17 persen atau menjadi Rp. 1.467,54 triliun.

Sedangkan, pengeluaran konsumsi terbesar terjadi pada Semester I-2019 untuk kebutuhan makanan dan minuman Rp 872,66 triliun (39,46 persen), transportasi dan komunikasi Rp 505 triliun (22,84 persen).

Lebih lanjut Rosan mengatakan, investasi pada Kuartal II-2019 melemah karena terjadi kontraksi pertumbuhan investasi barang modal, kecuali bangunan dan mesin. Sementara itu, Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat hanya tumbuh 5,01 persen, lebih rendah dari pertumbuhan investasi tahun yang lalu, yaitu sebesar 5,85 persen.

“Selain tantangan internal yang dihadapi, dunia usaha juga harus bersiap mengantisipasi tantangan dari luar seperti imbas perang dagang yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” kata Rosan.

Lingkungan eksternal saat ini diakui Rosan, diwarnai eskalasi perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok. Akibatnya perekonomian AS an Tiongkok sebagai pelaku utama perang dagang melemah, di mana tingkat pertumbuhan masing-masing negara dari 2,9 persen dan 6,6 persen pada tahun 2018 menjadi 2,3 persen dan 6,2 persen pada tahun 2019. Bahkan, diperkirakan pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi kedua negara akan turun menjadi 2,0 persen dan 6,1 persen.

“Kadin selalu memperhatikan dinamika ekonomi strategis yang terjadi. Kadin selalu konsisten melaksanakan kebijakan dan program kerja yang telah ditetapkan. Kami juga terbuka bagi perkembangan yang mengharuskan Kadin untuk melakukan penyesuaian sesuai dinamika yang terjadi,” katanya.



Sumber: Investor Daily