Kemdikbud Masih Kaji Penyederhanaan Beban Administrasi Guru

Kemdikbud Masih Kaji Penyederhanaan Beban Administrasi Guru
Ilustrasi belajar mengajar di sekolah. (Foto: Antara)
Maria Fatima Bona / IDS Rabu, 27 November 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, dalam sambutan tertulisnya pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) mengakui bahwa saat ini guru dibebani oleh tugas administratif. Mereka pun sulit untuk menjalankan peran yang seharusnya dalam membantu siswa dalam mengejar ketertinggalan dalam pembelajaran. Nadiem menyatakan ingin menyederhanakan proses administratif tersebut.

Merespons hal tersebut, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (GTK Kemdikbud), Supriano mengatakan, tata kelola guru ke depannya akan disesuaikan dengan janji Mendikbud, yakni memerdekakan guru.
Kemdikbud saat ini tengah mengkaji masalah administrasi yang menjadi beban guru dalam teknis pembelajaran seperti pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), silabus, hingga kisi-kisi soal. Pasalnya, selain ada aturan yang dimiliki Kemdikbud, guru sebagai aparatur sipil negara (ASN) juga harus menjalankan peraturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PAN dan RB) serta Badan Kepegawaian Negara (BKN).

“Semuanya itu kan ada peraturannya, ada Permendikbud-nya. Sekarang ini adalah tahap untuk proses pengkajian peraturan-peraturan mana yang menjadi penghambat. Itulah yang kita perbaiki, dikaji dulu, jadi tidak langsung membuat. Kita lihat dulu sekarang yang sudah jalan ini kan pasti ada rujukannya, yaitu itu tadi peraturan Menpan RB, BKN, dan Kemdikbud. Kita pelajari dan kita telaah, untuk mengarah ke sana. Kita lihat dulu apa yang perlu diperbaiki,” terang Supriano pada acara Simposium Nasional bagi Guru IPA tahun 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Kendati demikian, Supriano menuturkan, pelatihan guru ke depan masih fokus pada pedagogis. Menurut dia, masalah pedagogis guru perlu ditingkatkan terus hingga perbaikan tersebut sesuai dengan kebijakan Mendikbud.

Namun, ketika ditanya apakah pelatihan tersebut akan meneruskan pelatihan guru berskema zonasi yang saat ini sedang dijalankan, Supriano menuturkan, untuk teknisnya masih belum dapat dipastikan. “Kita belum berbicara sampai ke teknis. Nanti mungkin guru penggerak ini yang harus diperbanyak. Bisa saja satu sekolah ada lebih dari 1-3 guru penggerak. Itu yang kita lagi cari formulanya dan apa yang harus kita lakukan,” ucap Supriano.

Supriano menuturkan, guru penggerak yang dimaksud Mendikbud Nadiem bisa juga menggunakan guru inti. Namun skemanya belum dapat dirinci saat ini. Pasalnya, ada perbedaan guru penggerak dengan guru inti.

Dijelaskan dia, guru inti hanya fokus pada proses pembelajaran, sedangkan guru penggerak tugasnya akan lebih luas, yakni bisa mendorong sesama guru. Apalagi jumlah guru inti saat ini masih sangat sedikit hanya 25.000 orang, sedangkan jumlah sekolah mencapai 250.000 sekolah. Seperti diketahui, selama ini GTK melatih guru berbasis zonasi dengan mengandalkan guru inti, yakni guru yang dilatih oleh tim dari pusat untuk membina rekan guru lainnya di setiap zona.

Meski begitu, Supriano tidak menutupi kemungkinan jika guru inti yang ada saat ini akan menjadi embrio dari guru penggerak.

“Teknisnya bagaimana, nanti kita bicarakan. Kalau sekarang guru inti kan untuk membantu pembelajaran pusat belajar yang ada di zona. Nanti kita sinergikan saja. Siapa pun bisa jadi guru penggerak. Yang penting dia punya keinginan, motivasi, bisa melakukan perubahan,” paparnya.

Merdeka
Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim menyebutkan, ada dua poin penting untuk guru, yakni merdeka belajar dan guru penggerak.

"Guru merdeka itu artinya unit pendidikan atau sekolah, guru, dan muridnya punya kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif. Itu mungkin yang akan kita terus bantu. Saya sadar, saya tidak bisa hanya meminta dan mengajak guru-guru melakukan ini. Saya punya di Kemdikbud dan dinas pendidikan itu besar sekali juga untuk memberikan ruang inovasi kepada guru-guru. Itu PR (pekerjaan rumah, red) saya," ujar Nadiem saat ditemui media usai upacara Peringatan Hari Guru Nasional di Kemdikbud, Jakarta, Senin (24/11/2019).

Oleh karena itu, dia akan membentuk reformasi guru ini dalam bentuk gerakan, yakni guru menjadi penggerak di masing-masing sekolah atau guru penggerak. "Guru penggerak ini berbeda dengan yang lain. Saya yakin di semua unit pendidikan baik di sekolah, universitas ada satu guru penggerak," ujarnya.

Nadiem menyebutkan, guru penggerak adalah guru yang mengutamakan muridnya dari apa pun. Guru tetap mengutamakan murid dan pembelajaran murid. Ia akan mengambil tindakan tanpa disuruh dan tanpa diperintah untuk melakukan terbaik untuk muridnya.



Sumber: Suara Pembaruan