Densus 88 Amankan Bank Data Teroris

Densus 88 Amankan Bank Data Teroris
Ilustrasi penggeledahan rumah terduga teroris. ( Foto: Antara )
Arnold H Sianturi / CAH Selasa, 26 November 2019 | 09:19 WIB

 

Medan, Beritasatu.com - Pengembangan penanganan kasus terhadap 30 terduga teroris oleh Densus 88 Antiteror Mabes Polri bekerjasama dengan Polda Sumut, sampai Selasa (26/11/2019), masih berjalan. Selain memeriksa puluhan tersangka itu, petugas juga membongkar file dari sebuah laptop yang berhasil diamankan.

Sumber SP menyebutkan, di dalam laptop yang diamankan itu dicurigai sebagai bank data pergerakan kelompok radikal tersebut. Laptop ini menyimpan banyak informasi pergerakan organisasi terlarang itu. Oleh karena itu, petugas berusaha membongkar isi data maupun file di laptop itu.

Dalam melakukan pembongkaran file dari laptop yang diamankan itu, Densus 88 Antiteror melibatkan Tim Siber Mabes Polri dan Polda Sumut. Hasil sementara, ditemukan sejumlah fakta yang mencengangkan. Petugas menemukan akun media sekaligus pencucian otak oleh kelompok radikal itu.

Perwira polisi yang terlibat dalam pengungkapan kasus terorisme itu menyebutkan, dalam laptop itu juga menyimpan informasi menyangkut rencana serangan oleh jaringan terduga teroris tersebut. Rencana serangan itu diwujudkan kelompok ini bila pengamanan menurun.

"Kelompok ini juga mempelajari modus operandi sebelum melakukan serangan. Mereka menginginkan setiap teror bisa merenggut korban, baik itu dari aparat kepolisian maupun jemaat dari setiap rumah ibadah yang menjadi sasaran aksi. Itu termasuk teror bom bunuh diri," katanya.

Adapun pola dari rencana serangan itu, lanjut perwira itu, dari kelompok terduga teroris pria menghindari pola lama dengan mengenakan pakaian yang mencurigakan. Misalnya, menggunakan lobe, celana cingkrang maupun lainnya. Modus seperti itu dinilai sangat mencolok di Kota Medan.

"Termasuk untuk kelompok terduga teroris wanita, ada wacana pola penyerangan dengan tidak menggunakan cadar. Namun, pola serangan seperti ini masih menjadi pertentangan di kelompok itu. Yang pasti, rencana serangan itu tidak terwujud karena keburu ditangkap," ungkapnya.

Baca Juga: Istri Pelaku Bom di Polrestabes Medan Diduga Otak Teroris Wanita

Di dalam laptop itu, juga terdapat sejumlah data dari anggota jaringan radikal itu. Kabarnya, kelompok Jamaah Ansarut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan Islamic State Irak and Syria (ISIS), itu juga berkomunikasi lewat media sosial dengan jaringan terduga teroris di Pulau Jawa dan dan lainnya.

Penggeledahan

Sementara itu, masyarakat di Jalan Marelan Raya Gang Wakaf, Lingkungan VIII, Kelurahan Tanah Enam Ratus, Kecamatan Medan Marelan mengungkapkan, Densus 88 Antiteror Mabes Polri bersama Polda Sumut dibantu pengamanan oleh Polres Belawan, melakukan penggeledahan di sebuah rumah yang dihuni oleh terduga teroris.

"Ada seorang pria terduga teroris yang dibawa oleh Densus 88. Wajah pria itu ditutup petugas menggunakan sebo. Dari dalam rumah terduga teroris itu juga ada dibawa sejumlah barang yang berkaitan dengan kasus ditangani. Ada juga sejumlah buku jihad yang dibawa petugas," ujar seorang warga Marelan Raya, Agus (45).

Agus mengatakan, penggeledahan oleh aparat dilakukan, Sabtu (23/11/2019) lalu. Petugas tidak lama berada di lokasi tersebut. Terduga teroris bersama barang bukti yang ditemukan langsung diamankan. Pelaku dikabarkan dibawa ke Markas Polda Sumut.

Sementara itu, rumah yang digeledah itu baru sebulan dikontrak dan ditempati oleh pasangan suami - istri berusia masih muda.

"Kami tidak mengenal orang baru yang mengontrak di rumah itu. Kabarnya masih pengantin baru. Mereka pindahan dari Belawan. Masyarakat di sini pun tidak mengenal karena mereka itu dinilai tertutup dan tidak pernah bersosialisasi. Kami mengetahui mereka terkait kasus teroris setelah melihat petugas Densus 88 datang melakukan penggeledahan," sebutnya.

Berbaiat ke ISIS

Sebelumnya, Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto menyebutkan, kelompok terduga teroris termasuk pelaku bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan, Rabbial Muslim Nasution, berbaiat dengan Islamic State Irak and Syria (ISIS).

"Mereka ingin menunjukkan eksistensinya setelah Abu Bakar Al Baghdadi meninggal dunia dan diganti pemimpin baru," ujar Agus Andrianto.

Agus memaparkan, sudah tiga orang dari kelompok radikal ini yang tewas setelah kejadian ledakan bom bunuh diri di Medan tersebut. Satu jenazah pelaku bom bunuh diri dan dua orang lagi yang tewas dalam penyergapan oleh petugas di Desa Kota Datar, Kecamatan Hamparan Perak.

Baca Juga: Kasus Terorisme di Medan, Pemimpin JAD dan Guru Ngaji Sudah Ditangkap

"Kita bersama Densus 88 masih melakukan pengembangan untuk mengusut tuntas jaringan ISIS di Sumut. Termasuk istri Rabbial Muslim Nasution sudah ditetapkan sebagai tersangka. Apa peranan, motif dan rencana ke depan, itu semua masih didalami dan ditangani Densus," jelasnya.

Mantan Wakapolda ini mengungkapkan, proses penanganan kasus ini masih panjang, sebab masih banyak terduga teroris berada di Sumut.

"Oleh karena itu, kami minta masyarakat untuk mewaspadai kehadiran kelompok ini. Tingkatkan kewaspadaan terhadap orang baru di lingkungan sekitar," imbaunya.

Diungkapkan, terduga teroris memanfaatkan tempat tinggal rumah kontrakan, tidak bersosialisasi dan selalu mengekslusifkan diri dalam pengajian kelompoknya dari masyarakat setempat. 

 



Sumber: Suara Pembaruan