Ini Pengakuan Orangtua 3 Teman Pelaku Bom Bunuh Diri

Ini Pengakuan Orangtua 3 Teman Pelaku Bom Bunuh Diri
Ilustrasi penggeledahan rumah terduga teroris. (Foto: Antara)
Arnold H Sianturi / DAS Sabtu, 16 November 2019 | 11:39 WIB

Medan, Beritasatu.com - Rudi Suharto (52), orangtua tiga anak yang diduga punya kaitan dengan kasus bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, menyatakan menyesal anak-anaknya terlibat dalam kasus terorisme.

Rudi yakin keterlibatan anaknya setelah Andri, anak kedua, kabur sesaat setelah mendengar berita ledakan pada Rabu (13/11/2019) lalu. Sampai saat ini keberadaan Andri belum diketahui. Andri dan dua anak Rudi lainnya yakni  Aris (28) dan Fadli (23), adalah  rekan pengajian  Rabbial Muslim Nasution alias Dedek (24), bomber bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.

"Jujur saya mengakui, anak saya Aris, Adri dan Fadli itu ikut dalam satu perkumpulan pengajian dengan temannya bernama Dedek itu. Kegiatan anak saya dalam pengajian itu berjalan sekitar satu tahun. Pelaku bom bunuh diri itu datang kemari dalam tiga bulan terakhir ini. Saya sangat terpukul, sedih dan malu atas kejadian ini," kata Rudi Suharto saat ditemui di rumahnya di Lingkungan 20, Jalan Sentosa Barat, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumut, Jumat (15/11/2019).

"Meski pandangan mata saya samar-samar, saat melihat berita ledakan bom bunuh diri di kantor polisi tersebut, saya sangat yakin bahwa pelaku itu adalah teman ketiga anak saya," ujar Rudi yang akrab dengan panggilan Ucok.

Rudi mengenali wajah pelaku bom bunuh diri itu setelah melihat berita televisi sekitar pukul 15.00 WIB. Beberapa jam sebelumnya Rudi sedang berada di ladang sembari memberi makan kambing peliharaannya.

Rudi  menaruh curiga atas keterkaitan anak-anaknya setelah melihat Andri yang pada sore hari itu pulang dari lokasi tambak untuk mengambil nasi. Sebelum Andri kembali  ke tambak, Rudi menyaksikan anaknya itu sekilas melihat siaran berita mengenai bom di televisi.

"Andri kemudian kembali ke rumah saat saya kembali mengurusi kambing di ladang. Dia mengambil pakaian dan sampai saat ini tidak lagi kelihatan. Saya semakin curiga ketika  Kepala Lingkungan (Kepling) Jehadun Bahar (52), datang menemui saya mencari keberadaan anak-anak," ungkapnya.

Kamis (14/11/2019), sekitar pukul 20.30 WIB, Rudi  menginterogasi Aris dan Fadli. Dia melarang kedua anaknya untuk keluar rumah. Rudi kemudian membawa kedua anaknya itu ke rumah Jehadun. Tidak lama kemudian, Jehadun menghubungi aparat kepolisian. Aris dan Fadli  pun akhirnya diboyong untuk menjalani proses pemeriksaan.

"Sebelum kubawa menemui kepling (Jehadun), saya tanya mereka (Aris dan Fadli), sebab Andri sudah kabur. Kok kayak begini jadinya kalian. Saya mendukung kalian mengaji bukan untuk berbuat seperti ini. Mereka hanya terdiam. Kemudian, saya tegaskan kepada mereka bahwa tidak ada guna kabur  sebab  tetap akan dicari polisi. Jadi, saya menyerahkan anak saya, dan bukan ditangkap," katanya.

Rudi tidak memungkiri, ketiga anaknya selain sering mengikuti pengajian tersebut juga sering berkumpul di tambak bersama rekan-rekan satu pengajiannya. Namun, dia tidak mengetahui secara pasti bahwa di lokasi tambak yang berada di hutan bakau tersebut, ternyata dijadikan tempat untuk merakit bom bunuh diri oleh Dedek.

"Polisi sudah memasang policeline di lokasi tambak. Polisi masih melakukan pencarian atas bahan peledak di tempat tersebut. Saya tidak mengetahui secara pasti apakah memang benar ada ditemukan bahan peledak di lokasi tambak. Memang ada sebuah gubuk di tambak tersebut," katanya.

Sampai berita ini diturunkan belum ada konfoirmasi dari pihak kepolisian terkait status Aris dan Fadli.



Sumber: BeritaSatu.com