Ritual Keagamaan Hindu Ditolak Warga Bantul

Ritual Keagamaan Hindu Ditolak Warga Bantul
Ilustrasi kerukunan rakyat Indonesia. ( Foto: Antara )
Fuska Sani Evani / FMB Rabu, 13 November 2019 | 10:16 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Upacara ritual keagamaan Hindul Odalan Maha Lingga Padma Buana di Dusun Mangir Lor, Desa Mangir, Kecamatan Pajangan, Bantul, Selasa (12/11/2019) terpaksa dibatalkan akibat desakan warga setempat.

Meski sudah pernah dilangsungkan beberapa kali di tempat yang sama, upacara keagamaan Hindu ini tetap ditolak warga.

Menurut pemilik rumah Ananda Ranu, Odalan adalah upacara yang mengakar kuat dalam tradisi Hindu Bali. Upacara tersebut sedianya digelar selama dua sesi sejak pukul 13.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Namun umat yang datang dari berbagai daerah dicegat warga dan diminta untuk kembali pulang.

Nanda mengatakan upacara dengan berbagai sesaji itu awalnya berjalan dengan baik sejak pukul 13.00 WIB yang diisi dengan doa-doa. Di sela-sela acara, warga berkumpul di sekitar jalan masuk lokasi acara dan mencegat tamu-tamu yang akan datang ke lokasi upacara.

Kapolsek Pajangan AKP Sri Basariah datang ke lokasi untuk menyampaikan keberatan warga dan meminta upacara dihentikan. Warga memprotes lantaran mengklaim upacara keagamaan tak boleh dilakukan di dalam rumah.

Pada mulanya, upacara keagamaan itu berjalan dengan lancar hingga pendeta selesai membacakan doa.

Kapolsek Pajangan yang saat itu berada di lokasi, sempat memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar. Namun, warga tetap mendesak agar kegiatan itu dihentikan.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekjen Forum Persaudaraan Umat Beragama (FPUB) DIY, Timotius Apriyanto menyebut insiden ini terjadi akibat pemahaman toleransi di masyarakat masih terlalu sempit.

Menurut dia, toleransi sejati berdasarkan spirit persaudaraan dalam ikatan kemanusiaan. Toleransi seperti itulah yang harusnya menjadi karakter DIY, dan bukan toleransi formalistik.

“Pendekatan yang dilakukan menggunakan budaya, bukan soal legal formalnya,” ujarnya.

Apriyanto juga menyebut, kekayaan kebudayaan di Yogyakarta terletak pada ritual-ritualnya. Namun seperti peristiwa sedekah laut atau labuhan yang juga dibubarkan massa, dengan penegakkan legal formal saja, kebebasan berkebudayaan di DIY akan hancur.

Terpisah, Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengatakan warga keberatan dengan upacara keagamaan Hindu di sebuah rumah dan polisi harus menjaga situasi.

“Kami tegaskan, polisi tidak membubarkan, tetapi justru mengamankan situasi, sebab protes warga semakin kuat. Kami hanya meminta upacara dilangsungkan lebih cepat,” katanya.

AKBP Wachyu Tri Budi Sulistiyono mengatakan, aparat Polres Bantul bersama TNI berada di lokasi kejadian untuk mengamankan semua warga masyarakat dan menjaga situasi tetap kondusif, sebab warga mempertanyakan kejelasan izin tempat ibadah dan izin kegiatan tersebut.

Dikatakan, usai kondisi mereda, Polres Bantul akan mengundang Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Bantul, Kementerian Agama, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), pemilik rumah, dan warga setempat untuk membicarakan persoalan tersebut.



Sumber: Suara Pembaruan