Hari Santri Nasional, Said Aqil: Pesantren Berjasa Cerdaskan Bangsa Indonesia

Hari Santri Nasional, Said Aqil: Pesantren Berjasa Cerdaskan Bangsa Indonesia
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma meresmikan penggunaan Kampus Unusia. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para tokoh NU, dan relawan Tzu Chi lainnya. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Selasa, 22 Oktober 2019 | 16:14 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Tanggal 22 Oktober menjadi hari istimewa untuk santri se-Indonesia. Tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Joko Widodo sejak tahun 2015 lalu. Perayaan Hari Santri Nasional 2019 yang mengusung tema “Santri Unggul Indonesia Makmur” itu dilaksanakan di Kampus Unusia, Parung, Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/10/2019).

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dan Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan Agung Sedayu Grup, Sugianto Kusuma meresmikan penggunaan Kampus Unusia. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh para tokoh NU, dan relawan Tzu Chi lainnya. 

Menurutnya, peran santri dan pesantren sangat besar dan menjadi sentral dalam mencerdaskan bangsa Indonesia. Keberadaan pesantren jauh lebih dahulu dibandingkan lembaga pendidikan lainnya.

"Jadi pesantren berjasa mencerdaskan bangsa Indonesia jauh sebelum berdirinya lembaga pendidikan yang lain. Ini diakuai oleh Pendiri Budi Utomo, Sutomo," ungkap Kiai Said dalam sambutan menjadi inspektur upacara.

Langkah yang diambil pesantren dalam berdakwah dengan cara menghormati kebudayaan setempat, pergaulan yang baik, dan bukan sebaliknya dengan kekerasan, Islam Nusantara dapat tersebar secara luas dengan menyebarkan hal yang baik.

Dalam menjaga kehidupaan berbangsa dan bernegara, NU menetapkan bahwa Indonesia bukan negara agama atau suku, melainkan negara damai. Indonesia berdiri di atas konstitusi yang disepakati bersama sehingga semua warga bangsa dapat hidup bersama dan damai.

"Negara yang damai, yang berdiri di atas konstitusi, kebersamaan, keadilan, bukan konstitusi agama, bukan konstitusi suku. Islam tidak boleh dibela dengan takbir di jalan, dengan bawa pentung, dengan kerumunan massa yang kibarkan bendera tauhid, dengan caci maki dan sumpah serapah. Islam harus dibela dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Itulah cara bela Islam yang benar.Karna itu kebangkitan Islam ditentukan oleh peranan kaum santri. Selamat hari santri 2019, Santri unggul,” papar Kiai Said dalam sambutannya.

“Sekarang kita buktikan NU bekerjasama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Kita semua sama. Ke depan Indonesia, Umat Islam ini menjadi sentral peradaban. Umat Islam di Indonesia, kita Indonesia menunjukkan Islam yang ramah, toleran dan penuh persaudaraan,” sambung Kiai Said.

Ditambahkan Sugianto Kusuma yang juga Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, dirinya mengapresiasi dan sangat senang bisa bekerjasama dengan PBNU dalam melaksanakan visinya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas untuk Santri Indonesia.

“Kita bisa saling besinergi, Yayasan Budha Suci berbagi kasih dan peduli dengan santri, sehingga kita bisa sama-sama melaksanakan dan mewujudkan cita-cita mendirikan Lembaga Pendidikan Islam dengan kualitas terbaik,” singkat Sugianto Kusuma.

Diketahui bahwa Pembangunan Kampus Unusia dimulai sejak setahun lalu (9 Oktober 2018). Kampus seluas 6.300 meter2 ini dibangun dalam 4 (empat) lantai, terdiri dari 46 ruang kelas belajar, perpustakaan, musala, ruang rapat, dan gedung serbaguna. Kampus ini diperkirakan dapat menampung 1.050 mahasiswa, di mana di dalamnya juga akan ada studi yang berbasis riset, mulai dari argo industri, IT, Ekonomi Islam, dan lainnya.



Sumber: BeritaSatu.com