Aktivitas Vulkanik Menurun, Status Gunung Tangkuban Parahu Jadi Normal

Aktivitas Vulkanik Menurun, Status Gunung Tangkuban Parahu Jadi Normal
Gunung Tangkuban Parahu ( Foto: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) )
Adi Marsiela / LES Senin, 21 Oktober 2019 | 22:00 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Badan Geologi, Kasbani menurunkan status Gunung Tangkuban Parahu dari level II atau Waspada jadi level I atau Normal pada Senin, 21 Oktober 2019. “Terhitung sejak pukul 9 pagi tadi diturunkan,” kata Kasbani di Bandung.

Penurunan status ini seiring hasil pemantauan di gunung api yang terkenal dengan Legenda Sangkuriang tersebut. Hasil pemantauan dan evaluasi tingkat aktivitasnya sejak 1 September hingga 20 Oktober 2019 memperlihatkan tidak ada lagi erupsi freatik berupa letusan abu dan lumpur. “Hembusan gas atau uap air dari dasar kawah aktif saat ini berwarna putih tipis hingga tebal dengan ketinggian rata-rata 50 meter,” tambah Kasbani.

Terkait pengamatan menggunakan alat, ungkap Kasbani, kegempaan di gunung itu sejak awal Oktober 2019 didominasi gempa hembusan. Namun demikian, masih terekam adanya gempa-gempa vulkanik dengan kecenderungan energi gempa yang terus menurun. Pengamatan menggunakan instrument pengamatan deformasi atau kembang kempis tubuh gunung memperlihatkan pola deflasi atau pengempisan. “Mengindikasikan saat ini tidak ada pergerakan magma ke permukaan,” terang Kasbani.

Sementara pengukuran konsentrasi gas sulfur dioksida dan hydrogen sulfide menunjukkan nilai di bawah ambang batas yang membahayakan. “Aktivitas lebih dominan berasal dari hydrothermal pada kedalaman dangkal,” kata Kasbani lagi.

Meski sudah dinyatakan menurun statusnya, Kasbani tetap melarang masyarakat dan wisatawan turun ke dasar Kawah Ratu atau kawah-kawah lain di gunung tersebut. Gunung yang terlihat seperti perahu terbalik dari arah Kota Bandung ini merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan di kawasan Bandung utara.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan area steril sekitar 1,5 kilometer dari bibir kawah akibat erupsi pada 26 Juli 2019 lalu. Pemberlakukan area steril ini seiring peningkatan status gunung jadi level II atau Waspada sejak 2 Agustus 2019. Saat status Waspada itu, aktivitas vulkanil di gunung itu sempat menghasilkan erupsi dengan ketinggian antara 200-300 meter dari dasar kawah. “Tapi potensi bahaya masih di dalam radius steril tersebut,” imbuh Kasbani.

Direktur Utama PT Graha Rani Putra Persada, Putra Kaban sempat menggelar rangkaian doa bersama tatkala wisatawan dan pedagang direkomendasikan tidak memasuki radius bahaya.

Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu itu menyatakan doa bersama adalah satu-satunya upaya yang bisa mereka lakukan agar aktivitas gunung segera menurun dan usaha pariwisata bisa kembali normal. Setidaknya ada 5,000 pedagang yang menggantungkan pemasukan sehari-harinya dari aktivitas wisata di gunung tersebut.

 



Sumber: Suara Pembaruan