Peternak Sapi Perah Lokal Perlu Dukungan Semua Pihak

Peternak Sapi Perah Lokal Perlu Dukungan Semua Pihak
Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan IPB Epi Taufik (ketiga dari kiri) berbicara soal “Pemberdayaan Peternak Sapi Perah” didampingi Peternak Sapi Perah asal Tulungagung Mita Kopiyah (kiri), Fresh Milk Relationship Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfillah (kedua dari kiri), dan Ketua Koperasi Bangun Lestari Tulungagung Muntohin (kanan) dalam acara Bincang-bincang Bewara untuk memperingati Hari Pangan Sedunia di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (18/10/2019). ( Foto: Antara )
Aries Sudiono / LES Senin, 21 Oktober 2019 | 21:53 WIB

Tulungagung, Beritasatu.com - Tingkat konsumsi susu sapi Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN. Selain diterjang produk impor, produksi susu sapi lokal memang masih rendah. Kelak untuk mencapai target kesediaan pangan nasional, peternak sapi perah lokal perlu dukungan kolaborasi semua pihak.

“Impor susu kita luar biasa, hampir 80%, tapi masa konsumsinya enggak naik-naik? Kalau impor itu banyak kan memperkaya peternak di luar negeri. Di Sumatera Utara, ada satu perusahaan importir susu kental manis Malaysia dan jual di Medan. Waktu zaman Pak Harto (Presiden, Red), impor itu sudah 60%, sekarang naik jadi 80 %, itu artinya bukan kemajuan, tapi kemunduran,” papar Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan IPB Epi Taufik di Tulungagung, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

Paparan Epi Taufik tersebut disampaikan dalam acara Bincang-bincang Bewara yang diselenggarakan PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bekerja sama dengan Koperasi Bangun Lestari Tulungagung untuk memperingati Hari Pangan Sedunia.

Epi mengutip data terakhir dari Kementan dan BPS (2017), tingkat konsumsi susu Indonesia tahun 2016 hanya 16,5 kg per kapita per tahun. Bahkan tingkat konsumsi susu Indonesia itu masih kalah jauh dari negara ASEAN seperti Malaysia (50,9), Thailand (33,7), dan Filipina (22,1).

“Di Jepang, perusahaan-perusahaan diwajibkan pemerintah untuk membeli susu dari peternakan rakyat. Tidak ada perusahaan besar yang punya peternakan sapi perah. Di Thailand, 40% produksi susunya dibeli pemerintah untuk konsumsi anak sekolah. Dari anak TK hingga kelas 6 SD, semuanya gratis. Konsekuensinya swasta dapat kuota impor,” paparnya.

Epi Taufik mengatakan pengetahuan dan pemahaman para peternak sapi perah lokal harus terus diperbarui, sesuai dengan GDFP (Good Dairy Farming Practices) salah satunya melalui program kemitraan seperti yang dilakukan FFI. Saya berharap industri pengolahan susu lainnya dapat melaksanakan hal yang sama.

Fresh Milk Relationship Manager Frisian Flag Indonesia Efi Lutfillah berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang peranan penting peternak sapi perah lokal dalam ketersediaan susu nasional dan kontribusinya terhadap gizi nasional. Selain itu, melalui kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, diharapakan para peternak dapat menggenjot produksi sapi perah dan turut meningkatkan kesejahteraan mereka.

“Kami berharap masyarakat lebih menyadari kontribusi peternak lokal dalam penyediaan kebutuhan susu dan gizi nasional. Kegiatan ini juga merupakan salah satu wadah untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama peternak sapi perah lokal dengan ahli peternakan untuk meningkatkan produksi susu dan kesejahteraan peternak,” ujar Efi dalam keterangan tertulis, Senin (21/10/2019).

Efi menambahkan sebagai pelaku industri susu, peternak, dan stake holder yang terlibat memahami bahwa mereka dapat mencapai tujuan dengan berkolaborasi melalui kemitraan.

“Dengan berbagai tantangan yang ada, kami menyadari bahwa kami membutuhkan satu sama lain untuk mencapai tujuan itu. Kedepannya, FFI tetap konsisten dalam mengembangkan potensi para peternak sapi perah lokal di Indonesia melalui pendekatan kolaborasi atau kemitraan ini.” tambah Efi.


Ketua Koperasi Bangun Lestari Tulungagung, Muntohin mengapresiasi berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI terhadap peternak lokal. Ia mengakui adanya perubahan signifikan yang dialami oleh para peternak lewat berbagai inisiatif yang dilakukan oleh FFI.

“Kebanyakan peternak yang ada di koperasi ini adalah peternak turunan. Pengetahuan yang ada pun biasanya hanya didapatkan dari lingkup yang terbatas. Kami sebelumnya tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh industri dan begitu juga sebaliknya, industri tidak mengetahui apa yang dibutuhkan oleh peternak. Dengan adanya kemitraan antara FFI dan peternak lokal, ada dialog yang terjadi dan solusi-solusi yang bisa diambil terhadap tantangan ini. Hal-hal yang sebelumnya dianggap sederhana dan sepele seperti pemberian pakan atau tempat tidur para sapi ternyata berpengaruh besar terhadap kuantias dan kualitas produksi susu yang nantinya berimbas ke pendapatan peternak.” ujar Muntohin.

Kesuksesan itu juga disampaikan Mita Kopiyah, peternak sapi perah Tulungagung sejak 2005. Hingga saat ini, Mita dan suaminya mempunyai 15 sapi perah dengan produksi sekitar 75 liter/hari. Pada 2018, Mita resmi bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) melalui Koperasi Bangun Lestari, dengan mengikuti program Farmer2Farmer.

Pada tahun berikutnya (2019), Mita terpilih menjadi salah satu dari 4 peternak yang diberangkatkan ke Belanda dalam naungan program tersebut selama dua pekan untuk mengikuti berbagai pelatihan langsung dengan peternak Belanda. Di sana, Mita diajarkan manajemen kandang serta sistem pemeliharaan dengan standar “Good Farming Practices For Animal Production Food Safety” yang ditetapkan oleh FAO.

“Banyak pengetahuan yang didapatkan, terutama tentang kesehatan sapi, cara pemberian rumput, konsetrat dan air minum, hingga pola bentuk kandang yang tepat. Satu hal lagi yang paling penting adalah kebiasaan untuk mencatat atau diary sapi. Jadi kami tahu produksi dan perkembangan sapi setiap hari. Sebelum mengikuti F2F, produksi susu dari peternakan biasanya hanya di angka 8-12 liter/ekor/hari. Setelah program F2F, produksi sekarang biasanya stabil di angka 15-18/liter/ekor/hari. Bahkan beberapa hari bisa mencapai 26 liter. Secara pendapatan, kami juga mengalami kenaikan bahkan saat ini, anak saya tertarik untuk melanjutkan usaha ini,” ujar Mita.



Sumber: Suara Pembaruan