Kelompok Ini Mau Gagalkan Pelantikan Presiden Pakai Katapel Bola Peledak

Kelompok Ini Mau Gagalkan Pelantikan Presiden Pakai Katapel Bola Peledak
Ilustrasi kerusuhan. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / WBP Senin, 21 Oktober 2019 | 21:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Polda Metro Jaya membekuk enam tersangka yang tergabung dalam grup aplikasi percakapan, serta merencanakan menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden di Gedung DPR/MPR RI, menggunakan katapel bola berbahan peledak.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, enam tersangka yang ditangkap berinisial SH, E, FAB, RH, HRS, dan PSM tergabung dalam grup WhatsApp bernama "F".

"Kelompoknya berawal dari WA grup yang mengatasnamakan inisial F yang anggotanya 123 dengan lima admin. Di dalam grup itu membahas kegiatan yang akan dilakukan upaya untuk menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden. WA grup ini berkembang untuk perencanaan, makanya kita sudah menangkap enam orang, kita lakukan pemeriksaan," ujar Raden Prabowo Argo Yuwono di Jakarta, Senin (21/10/2019).

Dikatakan Argo, mereka akan membuat kerusuhan dengan menunggangi aksi unjuk rasa menggunakan katapel bola karet berbahan peledak. "Dari hasil pemeriksaan, akan dipakai di gedung DPR untuk menyerang aparat, akan diberikan ke demonstran. Ada juga ide dari kelompok ini yaitu, melepas monyet di gedung DPR. Sudah disiapkan delapan ekor, sudah dibeli, tapi belum dilepas. Tujuannya untuk membuat gaduh. Ada juga penjarahan toko-toko di daerah perekonomian," ungkap Raden Prabowo Argo Yuwono.

Argo menyampaikan, tersangka SH -pengacara- merupakan orang yang memiliki ide untuk membuat grup itu, dan memasukan sejumlah member dengan tujuan menggagalkan pelantikan. "Tersangka SH kami tangkap di Jatinegara, sedang merakit peluru katapel. Tersangka SH juga membuat grup dan mencari dana untuk membuat peluru katapel, menyediakan katapel kayu dan besi," kata Raden Prabowo Argo Yuwono.

Sementara tersangka E merupakan ibu rumah tangga, dan ditangkap di Jatinegara, Jakarta Timur. Ketika ditangkap yang bersangkutan sedang membuat peluru kaatapel bersama SH.

"Tersangka E bergabung di grup, membiayai pembelian katapel, menyediakan tempat untuk pembuatan katapel, kemudian juga membantu menyediakan bahan peluru katapel," jelas Raden Prabowo Argo Yuwono.

Argo melanjutkan, tersangka FAB -wiraswata-, juga ditangkap di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Dia turut membantu membuat peluru katapel, menyediakan tempat untuk membuat peluru dan memberikan dana Rp 1,6 juta kepada SH.

"Keempat, tersangka RH. Kita tangkap di Jagakarsa, perannya bergabung di grup WA, membuat katapel yang terbuat dari kayu, kemudian menjual ke tersangka SH. Jadi SH memesan 200 katapel, katapel yang sudah dijual 22, harganya sebuah Rp 8.000, total Rp 176.000," kata Raden Prabowo Argo Yuwono.

Menurut Argo, tersangka kelima berinisial HRS seorang perempuan, ditangkap di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Dia bergabung di dalam WA grup dan memberikan dana Rp 400.000 untuk membeli perlengkapan katapel.

"Keenam, tersangka PSM. Rumahnya di Cilandak, namun penangkapannya di Bungur. Pada saat ditangkap berusaha lari memanjat atap rumah belakang, namun yang bersangkutan berhasil ditangkap. Yang bersangkutan disuruh membeli katapel dan karet cadangan," sebut Raden Prabowo Argo Yuwono.

Argo menambahkan, para tersangka berkomunikasi dengan menggunakan sandi mirror atau huruf terbalik. Kemudian, mereka terdoktrin untuk melakukan kerusuhan karena meyakini komunis semakin berkembang.

"Ada tersangka FAB, kenapa dia ikut bergabung dan membantu karena dia menyakini komunis semakin berkembang. Indikatornya, pada saat unjuk rasa ada polisi Tiongkok yang diperbantukan untuk pengamanan dan disenjatai lengkap, padahal tidak ada. Ada juga tenaga kerja asing Tiongkok masuk ke Indonesia, anggapannya orang Tiongkok menguasai pemerintahan. Di-brainwash di grup, bahwa komunis sedang berkembang di Indonesia," jelas Raden Prabowo Argo Yuwono.

Argo mengungkapkan, peluru katapel berbentuk bola berbahan peledak itu berfungsi mirip seperti petasan banting. "Ini dibuat mirip dengan mercon banting, dilempar, ada perantara mudah terbakar biar cepat menyambar misalnya perantara bensin. Di dalam bola ada bahan peledak dan sejenisnya, nanti yang akan menerangkan Puslabfor. Ketika dites saat kena benturan akan meledak. Barang bukti ada gotri, plastik eksklusif yang bisa meledak, kelereng, ketapel," kata Raden Prabowo Argo Yuwono.

Argo menuturkan, kelompok ini masih ada hubungannya dengan kelompok dosen nonaktif IPB berinisial AB yang juga hendak membuat kerusuhan menggunakan bom rakitan sehingga berdampak mengganggu pelantikan presiden dan wakil presiden. "Tersangka SH sering komunikasi dengan tersangka AB, ada kaitannya untuk rencanana penggagalan pelantikan dengan mendompleng unjuk rasa," tandas Raden Prabowo Argo Yuwono.

Para tersangka dijerat Pasal 169 ayat (1) KUHP dan atau Pasal 187 ayat (1) KUHP, dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com