Pengamat: Mendikbud Baru Harus Melek Teknologi

Pengamat: Mendikbud Baru Harus Melek Teknologi
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia ( Foto: Istimewa )
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 21 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul, Presiden Joko Widodo (Jokowi) harus memilih Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang betul-betul memahami teknologi, yakni sosok yang bisa mengimplementasikan era digital seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Menurut Indra, pada era revolusi industri 4.0 ini, metode pengajaran harus mempertimbangkan materi yang diajarkan kepada peserta didik adalah sesuatu yang akan mereka gunakan di masa mendatang. Yang menjadi persoalan saat ini adalah terlalu banyak materi pelatihan yang tidak penting dan tidak tepat sasaran.

“Menjalankan pendidikan berbasis teknologi ini bukanlah sesuatu yang sulit jika dilakukan dengan perencanaan yang matang. Misalnya, melalui pelatihan Simdik (sistem informasi manajemen pendidikan, red),” kata Indra dalam pembukaan lomba tingkat nasional Wecode yang diselenggarakan di Raffles International Christian School di Jakarta, Minggu (20/10).

Indra menambahkan, Simdik ini merupakan sistem pelatihan digagas oleh pihaknya bersama tim untuk melatih para guru non-TIK (teknologi informasi dan komputer) agar mampu memahami pemanfaatan digital dalam dunia pendidikan, khususnya kejuruan. Diharapkan, mereka dapat menjawab tantangan dari dunia industri yang tidak hanya membutuhkan tenaga kerja terampil dan profesional, tetapi juga mampu berinovasi.

Indra menuturkan, para guru yang dilatih tiga bulan lalu dengan skema Simdik ini telah dapat menikmati hasilnya. Mereka berhasil menularkan ilmunya kepada peserta didik masing-masing. Bahkan, beberapa di antara siswa-siswa tersebut telah menghasilkan karya.

“Ini berarti sudah terjadi suatu proses, dan jangan bilang guru itu tidak bisa berubah untuk mengajarkan sesuatu yang baru. Saya bisa membuktikan sesuatu yang berbeda dengan hasil Simdik ini asal caranya tepat. Bukan sekadar pelatihan dan anggaran hilang hanya dibagi-bagi saja yang dilakukan dengan skema reborn seperti saat ini,” ucapnya.

Oleh karena itu, Indra mengharapkan Jokowi akan memilih Mendikbud yang memahami teknologi dan mempunyai perencanaan baik sehingga semua pelatihan tidak hanya reborn saja. Pasalnya, dia menilai pelatihan kepada guru yang dilakukan pemerintah hanya menghabiskan anggaran tanpa ada perubahan yang dapat ditularkan kepada siswa.

Indra menyebut, hal tersebut terjadi karena banyak materi pelatihan yang tidak penting. Sedangkan metode pengajaran yang diterapkan dalam Simdik mewajibkan materi yang diajarkan kepada guru merupakan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan peserta didik.

Bisa Berubah
Indra menegaskan, dengan memilih Mendikbud yang benar-benar paham teknologi, sekolah berbasis digital di Indonesia ini dapat terwujud, termasuk di daerah terluar, terpinggir, dan terdepan (3T).

“Bukan tidak mungkin guru-guru yang saat ini dikatakan guru tua, jadul, dan tidak bisa belajar ternyata bisa berubah dan melek teknologi. Guru-guru yang kami latih ini bukanlah guru IT. Ada guru BK (bimbingan konseling), guru bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Semua saya latih menjadi guru berbasis teknologi mengajar. Nah, mereka akhirnya bisa mengajarkan anak-anaknya coding, dan membuat program. Jadi tidak ada alasan lagi untuk membuat SDM unggul ini tercapai,” ujarnya.

Selanjutnya, Indra menuturkan, para siswa yang telah memiliki karya diberi kesempatan untuk mengikuti lomba tingkat nasional Wecode di Jakarta. Selanjutnya, mereka akan diseleksi untuk mewakili Indonesia tingkat internasional.
Indra menyebutkan, animo para siswa sangat tinggi. Tercatat ada 600 siswa dari tingkat TK, SD kecil kelas satu hingga tiga, SD besar empat sampai enam, SMP, dan SMA yang mengirim karya mereka.

“Jadi tiap jenjang itu beda ya tingkat kesulitan dan temanya. Yang TK bebas, SD kecil bentuknya animasi, SD besar bentuknya gim. Sedangkan SMP dan SMA itu bisa gim maupun aplikasi android, yakni sudah betul-betul pakai nyata,” ujarnya.

Karya-karya yang masuk akan diseleksi menjadi lima terbaik dan pemenang dari setiap jenjang akan dikirim untuk mengikuti lomba tingkat internasional di Guangzhou, Tiongkok pada 24 November mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan