Tak Antusias Ditelepon Istana, M Nasir Cerita Pengalaman Jadi Menristekdikti

Tak Antusias Ditelepon Istana, M Nasir Cerita Pengalaman Jadi Menristekdikti
Mohamad Nasir. ( Foto: Antara )
Maria Fatima Bona / CAH Senin, 21 Oktober 2019 | 09:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Profesor Mohamad Nasir adalah salah satu nama yang tidak pernah masuk dalam bursa calon menteri (camen) para kabinet kerja 2014-2019. Nasir adalah rektor terpilih Univeristas Diponegoro (Undip) Semarang untuk periode 2014-2018 dengan latar belakang sebagai guru besar bidang Behavioral Accounting dan Management Accounting Fakultas Ekonomi Undip. Sebelumnya, dia dikenal sebagai pakar anggaran dan akuntan profesional.

Nasir menuturkan, awal ditunjuk menjadi Menteri Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menrsitekdikti) bermula dari telpon nomor tak dikenal yang menghubunginya di tengah malam. Namun, dia tidak merespons dan memilih untuk tidur. Akan tetapi, nomor tersebut tidak menyerah menghubunginya.

“Pada saat itu ditengah malam, saya ditelepon. Nomor tidak jelas jadi saya tinggal tidur saja. Pagi saya mau salat subuh, ada telepon lagi. Saya biarkan lagi tetapi nomor sama ini terus-terusan hubungi saya. Akhirnya saya angkat, barangkali penting. Ternyata ketika saya angkat, penelepon mengatakan kalau dia adalah ajudan presiden dan bertanya apakah ini dengan Profesor Mohamad Nasir? Saya jawab betul. Lalu saya tanya ada apa? Beliau bilang, Bapak mohon ini perintah Presiden, Bapak diminta menghadap Presiden hari ini, jam 10.00 pagi,” kenang Nasir saat acara Perpisahan dengan Media di Kediaman Menrsitekdikti jalan Widya Chandra IV, Nomor 2, Jakarta, Sabtu (19/10/2019).

Meski ditelepon untuk menghadapi Presiden Joko Widodo(Jokowi), Nasir mengaku, saat itu dia menolak dengan alasan agenda padat karena harus membuka seminar internasional yang diadakan di Undip Semarang pada hari tersebut dan menawarkan pertemuan dengan Jokowi pada sore hari.

Menurut Nasir, tidak antusias menanggapi undangan Istana karena dia tidak pernah berpikir akan menjadi salah satu Menteri pada Kabinet Kerja 2014-2019. Selain itu, Nasir dengan kesibukan sebagai rektor terpilih mengurus Undip tidak pernah sempat membaca informasi terkini bahwa ada pembentukan kabinet.

Nasir menuturkan, untuk berangkat ke Jakarta ia harus mencari tiket dan memutuskan untuk membeli tiket langsung di bandara. Namun, ketika tiba di bandara Ahmad Yani, Semarang dan mencari tiket di loket maskapai Garuda Indonesia, ternyata namanya sudah dipesan dan dibayarkan tinggal menunggu jam terbang ke Jakarta.

Singkat cerita, Nasir mengatakan, ketika tiba di bandara Soekarno- Hatta, ia naik taksi untuk menuju Istana Presiden berdasarkan petunjuk dari penelepon yang mengaku ajudan Jokowi. “Saya itu belum pernah ke Istana, saya telepon ajudan tadi yang menghubungi saya. Saya harus turun di mana dan lewat mana untuk masuk Istana dan dikatakan pokoknya turun depan Istana Negara, ya udah saya ikut instruksi,” ujarnya.

Ketika masuk dalam Istana Negara, Nasir langsung ketemu awak media yang sedang berkumpul, akan tetapi dia tidak dihalangi media untuk diwawancara karena Nasir berpikir media tidak tahu siapa dirinya kala itu. “Media tidak tahu siapa saya. Saya bukan orang terkenal mungkin dengan penampilan saya yang hanya mengenakan baju batik lengan pendek disangka media juga,” ujar Nasir sambil tertawa.

Dengan begitu, Nasir tidak mendapat rintangan apapun bertemu Jokowi. Ia langsung masuk menghadap petugas dan ternyata namanya telah terdaftar sebagai tamu. Ia mengikuti prosedur Istana Negara ketika bertamu yakni tidak membawa alat komunikasi dan lainnya.

Nasir menuturkan, saat mengadap Presiden Jokowi, dia seorang diri tidak ditemani siapapun. Dia bertanya-tanya ada apa Presiden memanggilnya. Lanjut dia, pertemuan pertama dengan Presiden tidak membahas apapun hanya diajak makan dan bercerita hal-hal lain tidak sekalipun menyinggung akan diberi amanah menjadi Menristekdikti hingga pertemuan berakhir dan ia kembali ke Semarang.

Setelah balik Semarang, pada akhir pekan Nasir mengaku kembali ke Jakarta dalam rangka mencari dana untuk Undip melalui pembukaan lapangan golf di Sentul,Bogor. “Saya cari Rp 300 juta ternyata dapat Rp 1,2 miliar waktu itu,” terang Babeh sapaan akrab media kepada Nasir.

Ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta, nomor ajudan presiden kembali menghubunginya untuk ke Istana dengan memakai baju putih. “Mohan maaf saya lagi di bandara (Soekarno-Hatta,red) ini enggak bawa baju itu. Hanya pakai baju batik lengan pendek ini dan bawa baju kaos biasa. Terus dia menanyakan ukuran baju saya pakai dan saya bilang L. Lalu dia menanyakan saya tinggal di mana di Jakarta. Nanti diantarkan,” ujarnya.

Meski telah dihubungi sampai menanyakan ukuran baju. Nasir mengaku, saat itu dia tetap ke Sentul mencari dana sesuai tujuan awalnya datang ke Jakarta dan kira-kira pukul 12.00 WIB kembali ke Jakarta karena pada pukul 13.00 WIB dikabarkan oleh ajudan presiden untuk menghadap Presiden untuk kedua kalinya.

Nasir menyebutkan, ketika tiba di Istana Negara ternyata telah berkumpul banyak orang dan dari wajah-wajah ditemukan pada saat itu hanya satu dua orang yang ia kenal, seperti teman lamanya sesama akuntan, Ignatius Jonan. Saat itu, Nasir baru berpikir akan menjadi apa dengan kemeja putih tersebut.

“Jadi menteri, ah enggak. Enggak pernah ditawarin. Jadi saya masih berpikir saya ini mau jadi apa. Baru kira-kira jam 3 sore, baru dikasih tahu Mohamad Nasir menjadi Menristekdikti,” ujarnya.

Soal Reshuffle

Nasir menuturkan, setelah resmi menjabat sebagai Menristekdikti yang merupakan sebuah kementerian baru, hal pertama yang ditinjau adalah sistem laporan di Ristek dan Dikti yang ternyata tidak baik. Berkat pengalaman pernah memimpin perusahan dan seorang akuntan, maka diperbaiki sistem tersebut dengan berbasis digital. Kerja kerasnya itu diganjar Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada tahun kedua hingga tahun selanjutnya.

Nasir juga menuturkan, pada tahun pertama menjadi menteri. Dia tidak pernah merasakan bagaimana kenikmatan menjadi menteri. Pasalnya, banyak tekanan yang ia terima. Baik itu dari media, publik, dan dari manapun sehingga berat badannya turun drastis kala itu.

Namun setelah tahun pertama penyesuaian, Nasir menuturkan, selama dalam kabinet selalu ada isu reshuffle menteri dan dia tidak pernah berpikir diganti. Pasalnya, misinya hanya satu kerja dan kerja, jikapun direshuffle selalu siap dan kembali ke Semarang menjadi dosen.

Menristekdikti, M Nasir (kanan) dalam kunjungannya di Puspitek Serpong, 7 Juli 2015.

“Reshuffle pertama saat itu saya lagi di Pontianak, Kalimantan. Saya mau naik Helikopter, tiba-tiba ada berita tentang reshuffle kabinet di berita televisi. Saya tunggu sampai selesai jangan-jangan saya kena reshuffle karena saya tidak pernah pikirkan dan tidak pernah dihubungi dan sedang berada di luar kota dan ternyata saya tidak termasuk. Saya kembali ke Jakarta untuk pelantikan,”ujarnya.

Reshuffle jilid dua kembali terjadi, menurut Nasir saat itu semua menteri kabinet kerja telah dikabarkan untuk tetap di Jakarta. Akan tetapi dia tiba-tiba mendapat mandat untuk mendampingi Wakil Presiden(Wapres) Jusuf Kalla kunjungan kerja ke Makassar. Awalnya, Nasir enggan untuk pergi karena ada instruksi tersebut. Namun, Jokowi tetap memberi mandat dan mengatakan Nasir aman dari isu reshuffle tersebut. Sementara itu, untuk reshuffle tiga masalah partai otomatis ia merasa aman.

“Jadi setiap ada isu reshuffle itu, saya selalu siap untuk kembali ke kampus, enggak apa-apa. Ternyata Alhamdullilah lima tahun selesai mengurus tugas kementerian yang begitu berat ini,”ucapnya.

Ada pun tugas tersebut. Pertama, meningkatkan repustasi pendidikan Indonesia. Kedua, meningkatkan daya saing riset Indonesia. Ketiga, masalah start -up atau hilirisasi, dan keempat adalah bagiamana menangkal radikalimse dalam kampus. Ternyata oleh Presiden Jokowi penilaian kepada Kemristekdikti sebagai kementerian baru ini dinilai postif dengan apa yang dilakukan Nasir.

Pada kesempatan sama, Nasir juga mengenang kebiasaan Jokowi ketika kunjungan ke daerah. Menurut Nasir, ada keunikan tersendiri baginya. Pasalnya, Jokowi bisa tahan lapar sedangkan dirinya tidak demikian.

“Pada saat saya mendampingi Presiden kunjungan ke Sulawesi Tengah, saat itu ada dua tempat kita kunjungi dan selesai kira-kira jam satu siang. Lalu saya berpikir ini Presiden makan siang jam berapa ini karena sudah jam satu siang dan saya yang menjadi panitia dari pagi belum makan. Presiden masih berkunjung ke tempat pelelangan ikan. Saya pikir pulang langsung makan. Tetapi pergi lagi, saya berpikir ini makan jam berapa. Walaupun sudah makan snack banyak orang Jawa itu kalau belum makan nasi-kan belum makan. Itu suka duka berkunjung sama beliau,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kerja sama, Nasir menuturkan, Jokowi sosok luar biasa dalam memberikan arahan kepada para menterinya. Yakni, hal terpenting adalah melakukan perubahan, jangan sampai sama saja dengan sebelumnya. Misalnya, perizinanan lama harus diubah dan hal itu ia terapkan dalam Kemristekdikti termasuk membuka program studi (prodi baru) yang menjawab tantangan era globalisasi ini.

Menanggung Duka

Nasir juga menuturkan, menjadi menteri itu apabila dihitung mengunakan prosentase, sebetulnya 60 persen adalah duka, sedangkan sukanya hanya 40 persen, yakni bisa mendampingi Presiden ataupun Wakil Presiden dengan mengunakan pesawat negara.

Berkaca dari pengalamanya menjadi Menrsitekdikti yang banyak menanggung duka. Nasir mengaku hingga saat ini masih bertanya-tenya kenapa orang-orang pada berambisi menjadi menteri. “Saya itu bertanya-tanya kenapa orang ingin sekali jadi menteri. Heran aku tuh karena kerjanya kayak gini (berat,red). Saya ini jadi menteri dengan istri selalu pisah. Anak apalagi. Sampai anak saya itu pernah protes. Papa, kita itu jalan-jalan sekali-kali santai,”ucap Nasir.

Menurut dia, selama menjadi Menristekdikti, waktunya benar-benar difokuskan untuk mengurus Kemristekdikti. Bahkan, Nasir menuturkan, anaknya yang mengikuti ia pindah dan bersekolah di Jakarta. Mulai masuk sekolah hingga lulus dan saat ini telah masuk perguruan tinggi belum pernah diantar ke sekolah sekalipun. Malahan saking sibuknya ia sendiri kaget ketika anaknya telah lulus sekolah.

“Jadi sedikit berkorbanlah dan akhirnya anak-anak memahami. Sekarang anak saya yang tinggal di Semarang kalau kangen sama saya. Bukan saya yang datang ke Semarang tapi mereka datang ke Jakarta. Itupun hanya satu hari waktunya untuk mereka,”ujarnya.

Bahkan ketika anaknya kecelakaan, Nasir menuturkan, dia menitipkan tanggungjawab itu ke rektor Undip karena lagi ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan. Ia bersyukur anak dan istrinya mendukung dan memahami tanggungjawab yang jalankan selama lima tahun terakhir ini sebagai Menristekdikti. Meski begitu, ketika ditanya apakah masih siap kembali menjadi menteri jika dipercayakan oleh Jokowi. Nasir mengaku selalu siap.



Sumber: BeritaSatu.com