Wapres: Indonesia Perlu Terapkan Liberal Education dan Keterampilan

Wapres: Indonesia Perlu Terapkan Liberal Education dan Keterampilan
Wakil Presiden Jusuf Kalla menandatangani prasasti seusai memberikan kuliah kebangsaan di Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Kamis (10/10/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / SP/Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / RSAT Jumat, 11 Oktober 2019 | 09:53 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, Indonesia perlu menerapkan dua model pendidikan, yakni liberal education dan pendidikan berbasis keterampilan agar kualitas pendidikan di Indonesia meningkat.

Hal itu disampaikan Wapres Jusuf Kalla saat memberikan kuliah kebangsaan di Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa), Kamis (10/10/2019).

Wapres mengatakan dua sistem pendidikan tersebut perlu diterapkan, karena liberal education mengajarkan kebebasan berpikir, model ini dianut di Amerika Serikat. Tujuannya agar mahasiswa berpikir lebih cerdas. Di sana model pendidikan ini banyak melahirkan inovasi karena pendidikan mengajarkan filosofi dan kemampuan berpikir. Sedangkan pendidikan berbasis keterampilan dianut di Jerman, Prancis, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang yang mengasah kemampuan untuk membuat sesuatu. "Dua jalur pendidikan itu harus berjalan bersamaan," kata Jusuf Kalla.

Teknologi kata Wapres berasal dari penelitian serta pendidikan. Universitas memiliki tiga fungsi guna mewujudkan pemanfaatan teknologi yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian dan pengembangan yang dilakukan universitas harus bisa diimplementasikan pada kehidupan nyata.

Sedang kekayaan alam yang dimiliki suatu negara tidak menjamin kemajuan. SDM yang mumpuni dan memiliki semangat dalam berbagai bidang-lah yang lebih menentukan. “Semangat memiliki peranan penting untuk memajukan suatu negara. Semangat untuk maju, untuk berbudaya, dan untuk belajar mengembangkan SDM,” ujar Wapres.

Lebih lanjut Wapres menyampaikan, saat ini kemajuan Indonesia berada di tengah-tengah. Belum menjadi bangsa yang sangat maju, namun juga bukan bangsa yang tertinggal. Untuk itu, mengacu pada pengertian kemajuan menurut Wapres adalah meningkatnya nilai tambah kemampuan dan sumberdaya, sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan research untuk meningkatkan perkembangan teknologi.

“Lembaga pendidikan harus inovatif dan memiliki lembaga research yang dapat di implementasikan kepada pendidikan Pancasila. Dengan demikian, lembaga pendidikan akan menghasilkan generasi muda yang siap menghadapi masa depan. Cerdas saja tanpa inovasi tidak akan menghasikan kemajuan. Tanpa menyeimbangkan pendidikan, kita hanya akan mencetak pengangguran,” tegas Wapres.

Wapres juga menyatakan, sekitar 10% penduduk DIY adalah mahasiswa. Oleh karena itu, Yogyakarta bisa menjadi pusat inovasi menuju kemajuan. Unisa diharapkan akan menjadi salah satu penyumbang kemajuan Indonesia melalui pendidikan yang menghasilkan generasi unggul.

Kehadiran Unisa menurut Wapres adalah salah satu bentuk dukungan untuk mendukung visi misi negara Indonesia untuk menjadi negara yang maju.

Rektor Unisa, Warsiti melaporkan, acara ini merupakan puncak rangkaian milad ke-28 Unisa yang sekaligus puncak rangakian acara milad Unisa Yogyakarta ke-3. Selain itu juga merupakan bentuk penyambutan mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020. Unisa yang baru berusia 3 tahun ini telah memiliki 6.104 mahasiswa yang datang dari 34 provinsi di Indonesia.

Warsiti berharap, kuliah umum selain dapat mencerdaskan mahasiswa dalam bidang akademik, juga memiliki ketrampilan. Selain itu, diharapkan juga mampu menjadi generasi yang unggul serta mampu memberikan kontribusi bagi Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan