Istilah Revolusi Industri 4.0 Membuat Gagap Calon Wirausahawan

Istilah Revolusi Industri 4.0 Membuat Gagap Calon Wirausahawan
Ekonom dari University Surakarta, Agus Trihatmoko di sela-sela acara Wisuda STIE Assholeh, Pemalang, Jawa Tengah, Senin, 30 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Selasa, 1 Oktober 2019 | 18:52 WIB

Pemalang, Beritasatu.com - Munculnya istila Revolusi Industri 4.0 yang populer dalam 5 tahun terakhir di Indonesia justru membuat gagap para calon wirausahawan. Pasalnya, revolusi industri yang dimaksud belum menunjukkan adanya perubahan teknologi untuk menghasilkan proses produksi terbaru dan menghasilkan produk-produk terbarukan secara masif.

Hal itu dikatakan ekonom dari Universitas Surakarta, Agus Trihatmoko dalam orasi ilmiah yang disampaikannya pada acara wisuda STIE Assholeh, Pemalang, Jawa Tengah, Senin (30/9/2019). Inovasi dan mengembangkan bisnis di era teknologi digital di tengah keterbukaan pasar nasional dan global merupakan topik orasi ilmiah yang diangkat oleh STIE Assolleh.

"Fenomena yang sedang terjadi adalah pesatnya kemajuan teknologi digital berdampak pada pergeseran perilaku konsumen (consumer behavior exchange) dari transaksi konvensional menjadi transaksi elektronik atau digital secara terintegrasi di pasar," kata Agus.

Agus berharap agar para wisudawan/wati memperoleh pencerahan strategis agar siap hadir di dunia praktik bisnis, apa pun pilihan profesinya, memilih menjadi wirausaha mandiri atau sebagai profesional bisnis di perusahaan-perusahaan.

Modal intelektual tentang teknologi digital serta ilmu manajemen dan ekonomi memiliki implikasi langsung terhadap keberhasilan para sarjana dalam meniti karier ke depan di bidang bisnis. Para wirausaha, ujarnya, merupakan aktor utama dalam pembangunan ekonomi nasional di Indonesia.

Dikatakan, peran kemajuan teknologi digital dalam dekade terakhir menjadi satu peluang menarik bagi generasi muda atau milenial dan terlebih para lulusan perguruan tinggi untuk menjadi calon wirausaha. Keahlian dan intelektualitas mereka cukup sebagai modal awal untuk berwirausaha, yaitu modal intelektual atau human capital.

Para sarjana tidak hanya ahli dalam menggunakan atau mengoperasikan teknologi digital, tetapi juga harus memiliki pemahaman mumpuni tentang ilmu manajemen dan ekonomi.

Tinjauan teoritis yang dipaparkan oleh Agus adalah tentang potensi dan Kkperilakuan berwirausaha terkait dengan pesatnya integrasi teknologi digital. Lingkungan sosio-kultural serta perkembangan ekonomi dan pasar merupakan argumentasi teoretis sebagai faktor potensial berwirausaha. Selain itu, minat akan mendorong niat atau cita-cita seseorang untuk mencapai tujuan berwirausaha.

Agus menjelaskan, niat tersebut memunculkan sebuah kekuatan motivasi, sehingga akan memengaruhi sikap kemauan dan tindakan atau perilaku. Proses pengembangan diri dalam membangun motivasi serta dalam bersikap dan berperilaku akan menentukan kemampuan karakteristik berwirausaha, yaitu melekat pada keahlian dan personalitas seorang wirausaha.

"Perilaku wirausaha di era sekarang niscaya tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi digital. Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi digital harus mampu diekspektasikan untuk menghasilkan keuntungan usaha secara berkelanjutan," ujar Agus.

Dikatakan, sistem transaksional daring (digital) mempermudah para wirausaha untuk melakukan inovasi produk. Di sektor industri pabrikasi, pencarian pemasok bahan baku dapat menemukan banyak pilihan harga produk yang kompetitif dengan kualitas terbaik.

“Dalam sistem transaksi digital, saudara dapat memiliki sebuah produk atau bahkan banyak produk dengan merek milik anda sendiri, meskipun anda tidak memiliki pabrik sama sekali,” ujar Agus.

Inovasi produk oleh wirausaha di sektor perdagangan dan jasa adalah dengan melakukan penambahan item-item barang dagangan dari berbagai pemasok yang memasarkan produknya melalui sistem daring. Kemudahan memperoleh dana untuk pembiayaan modal bagi para wirausaha sangat besar dari sumber sistem financial technology (fintech) atau sistem keuangan konvesional.

"Perilaku konsumen modern dan kaum milenial telah meningkat untuk melakukan transaksi melalui sistem daring dalam pemenuhan kebutuhan barang atau jasa yang mereka perlukan. Fenomena menarik dan terus berkembang adalah kelompok UMKM yang telah memanfaatkan tenologi digital dengan mengintegrasikan sistem pemasaran mereka dengan sistem yang dimiliki oleh startup besar. Pemanfaatan teknologi digital dapat menjangkau jejaring pasar di dalam dan luar negeri," tuturnya.

Dikatakan pula, hal itu dimanfaatkan untuk kepentingan pasokan atau pemasaran barang pasar terbuka. Dalam hal ini, produk-produk unik dan komoditas khas Indonesia masih belum optimal untuk menjelajah ke pasar luar negeri. Jadi, ini menjadi perhatian dan sekaligus peluang ke depan bagi para calon wirausaha di Indonesia.

Agus juga mengkritisi bahwa Indonesia saat ini kebanjiran produk dari luar negeri, khususnya dari Tiongkok, sehingga pada 2018 telah mencapai titik terbesar defisit neraca perdagangan Indonesia dan Tiongkok. Oleh sebab itu, ujarnya, sangat lebih hebat jika para wirausahawan di Indonesia ke depan banyak melakukan inovasi pengembangan produk-produk dalam negeri, dan kemudian pemasarannya diutamakan menyasar ke luar negeri.

"Jadi, ini masalah dan peluang tentang keterbukaan transaksional pasar melalui teknologi digital yang sistemnya telah teringrasi antara pihak pemasok dengan konsumen mereka. Para sarjana seharusnya mampu dan mahir memanfaatkan aplikasi-aplikasi digital dalam bisnis, karena memiliki bekal teknis selama studinya," kata Agus.

Dia pun memberikan saran bahwa wirausaha tidak perlu sampai "demam", terlebih mengkhawatirkan terhadap istilah Revolusi Industri 4.0, karena sesungguhnya istilah itu memang belum hadir di Indonesia. Justru, kata Agus, menjadi sebuah tantangan baru bagi para ekonom untuk menggali kembali temuan-temuan para teknokrat dalam mendukung upaya mencapai efisiensi dalam rangka mengubah barang dan sumber-sumber daya menjadi komoditas terbaru dan terbarukan.

“Jika hal itu telah berkembang pesat dan dipraktikkan secara masif dalam dunia industri, maka akan lahir era revolusioner bagi industri di berbagai sektor. Untuk masa sekarang, yang perlu dijadikan perhatian adalah mencermati setiap perubahan situasi pasar dan perilaku konsumen atas produk-produk yang menjadi andalan usaha,” kata Agus Trihatmoko.



Sumber: Suara Pembaruan