Perubahan Paradigma Pendidikan Atasi Kelemahan Zonasi

Perubahan Paradigma Pendidikan Atasi Kelemahan Zonasi
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal, Innisiator GSM di SMAN 1 Sleman Fadmiyati, Wakil Bupati Sleman sri Muslimatun beramah tamah usai kampanye Kolaborasi Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) di Yogyakarta, Rabu (25/9/2019). ( Foto: GSM / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 25 September 2019 | 20:42 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kebijakan zonasi sekolah masih memiliki banyak kelemahan. Meskipun bertujuan untuk pemerataan pendidikan di Indonesia, beberapa masalah baru justru timbul. Zonasi seharusnya diwujudkan dengan membangun ekosistem sekolah yang memanusiakan, menyenangkan, aman, dan menghargai potensi serta keunikan siswa secara meluas.

“Zonasi ala GSM itu tidak bisa serta-merta tercipta dengan memaksa siswa sekolah di lokasi rumah terdekat. Jika pemerataan mutu sekolah belum tercipta, tujuan akhir dari kebijakan tersebut masih akan sulit tercapai,” ujar Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal, kepada wartawan, Rabu (25/9).

Kebijakan zonasi yang diterapkan belakangan ini mengarahkan para siswa untuk mendaftar ke sekolah yang berjarak tidak jauh dari tempat tinggalnya. Salah satu masalah yang timbul adalah siswa yang tidak mendapat sekolah karena persoalan administrasi maupun lokasi yang jauh. Ada pula kritik yang menyoroti “ketidaklayakan kualitas” sekolah terdekat untuk menjadi tempat menuntut ilmu.

"Masalah zonasi bisa diatasi dengan perubahan paradigma pendidikan. Ini harus diterapkan di seluruh sekolah, khususnya sekolah pinggiran, non favorit dan sekolah yang termarginalkan. Karena kesempatan untuk memperoleh pendidikan bermutu adalah hak seluruh anak bangsa, bukan hanya anak orang kaya berpangkat tinggi atau anak yang kebetulan bertempat tinggal di dekat sekolah favorit,” ujar pria yang juga menjadi dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada itu.

GSM sebagai gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma pendidikan. Dalam prosesnya, GSM berjuang untuk mengubah nalar standardisasi yang monoton, menjadi nalar personalized yang menghargai keunikan anak-anak.

Dengan menghargai keunikan anak-anak, kata Nur Rizal, GSM turut menegaskan bahwa orientasi kebijakan pendidikan tak seharusnya mengacu pada kejayaan masa lalu, melainkan dengan mengakomodasi kebutuhan anak-anak untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun, turut mendukung perubahan paradigma GSM ini. Sekolah tidak hanya harus jadi rumah kedua, tapi surga kedua agar anak-anak nyaman dan betah.

“Anak-anak tidak hanya harus cerdas akademi, namun juga spiritual, emosional, dan sosial. Jika model pendidikan menyenangkan ini bisa diterapkan ke semua sekolah di Indonesia, niscaya generasi anak-anak ini akan jadi generasi emas,” tambahnya.

GSM digagas pertama kali oleh Prof Muhammad Rizal dan Novi Poespita Candra pada September 2013.

Platform GSM terbukti mampu meningkatkan kualitas guru serta ekosistem pendidikan di sekolah-sekolah pinggiran. Sejauh ini, GSM telah menyebarkan pengaruh ke berbagai area di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Semarang, Tebuireng, Tangerang, hingga beberapa kota di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Di Sleman, terdapat 48 sekolah model yang sudah menyebarkan imbasnya kepada lebih dari ratusan sekolah. Dengan perluasan gerakan ini, ketimpangan kualitas pendidikan yang selama ini kasat mata pun pelan-pelan akan terkikis oleh transformasi akar rumput.



Sumber: Suara Pembaruan