Pencipta Gemu Fa Mi Re Dorong Karya Seni Harus Bangun Karakter

Pencipta Gemu Fa Mi Re Dorong Karya Seni Harus Bangun Karakter
Sejumlah anak-anak berlatih di Sanggar Benza, Maumere, NTT yang dipimpin Nyong Franco.
Heriyanto / HS Minggu, 22 September 2019 | 18:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bagi banyak kalangan tentu sudah sangat akrab pada lagu Gemu Fa Mi Re dengan gerakan Goyang Maumere. Penciptanya, Frans Cornelis Dian Bunda atau yang lebih dikenal Nyog Franco, berharap berbagai karya seni yang diciptakan harus berbasis budaya lokal dan membangun karakter.

Penegasan itu disampaikannya belum lama ini kepada SP terkait dengan banyaknya karya seni, terutama musik/lagu, yang minim orisinalitas. Orisinalitas atau keaslian karya itu merupakan hal yang sangat penting di tengah kemajuan teknologi saat ini. Sekarang ini, seniman sedang mengalami transformasi dalam proses berkarya karena dipengaruhi teknologi.

“Proses mencipta dalam karya seni itu semakin dimudahkan dengan teknologi yang semakin canggih. Sayangnya, kemudahan itu justru tidak memperkuat orisinalitas karya seni. Yang terjadi justru banyak sekali tiruan atau menjiplak karya orang lain,” ujarnya.

Di sisi lain, setiap karya seni yang dilahirkan juga perlu berakar dari budaya (kultur) lokal, tanpa harus mengadopsi semua pengaruh dari luar. Budaya dan warisan para leluhur atau orang tua dalam setiap komunitas masyarakat biasanya masih relevan dalam memperkuat karakter manusia. Berbagai masalah sosial kemasyarakatan harus menjadi bahan dasar dari para pencipta seni untuk memberikan solusi.

Baca : Menarik, Ini Lagu Lama yang Baru Dirilis Pencipta “Gemu Fa Mi Re”

“Penguatan karakter itu sangat diperlukan karena perkembangan dewasa ini begitu kompleks. Masyarakat harus tetap berpegang teguh pada akar budayanya. Kejahatan, radikalisme, korupsi, dan persoalan lainnya menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujar pendiri Sanggar Benza ini.

Nyong secara khusus menyinggung maraknya penjiplakan dan artis tiruan yang sangat dimudahkan dengan berbagai teknologi dan aplikasi. “Jadi kita tidak harus punya skill musik untuk ciptakan karya musik. Makanya sekarang ini musisi karbitan bertumbuh bak jamur di musim hujan. Ini bisa jadi bumerang karena sulit mendapatkan karya cipta yang orisinil,” jelasnya.

Secara khusus, Nyong terus berupaya agar musik dan lagu ciptaannya dipadukan dengan irama dan hentakan bernuansa Gong Waning (irama tarian khas Sikka, Flores, NTT). Selain lagu Gemu Fa Mi Re, hal ini bisa dilihat dalam beberapa lagunya yang sudah diciptakan, seperti lagu Gireng Gemu, Higo Hagong, serta lagu genre pop Twinge Star, Sahabatkah, dan Sore 5.



Sumber: Suara Pembaruan