PLTA Batang Toru Berkontribusi Kurangi Pemanasan Global

PLTA Batang Toru Berkontribusi Kurangi Pemanasan Global
Peta PLTA Batang Toru ( Foto: istimewa / istimewa )
Rangga Prakoso / FER Minggu, 22 September 2019 | 18:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru merupakan bagian dari komitmen Indonesia terkait perubahan iklim yang tertuang dalam Perjanjian Paris 2015. Proyek pembangkit yang terletak di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut) ini, ditargetkan rampung pada 2022. Menghentikan proyek berkapasitas 510 megawatt (MW) itu sama dengan menebang sekitar 12 juta pohon.

Baca Juga: Listrik Bukan Hanya untuk Penerangan

Pengamat lingkungan hidup, Emmy Hafild, menyayangkan sejumlah pihak yang menolak pembangunan proyek ini. Penolakan itu hanya berdalih mengancam kelestarian orangutan.

"Target memenuhi Paris Agreement dikritik dan diminta dihentikan. Kenapa orangutan diperlakukan lebih penting daripada mencegah perubahan iklim. Ini ada yang salah," kata Emmy dalam jumpa media di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Emmy menuturkan, telah melakukan penelitian dan langsung terjung ke lokasi proyek PLTA guna mendapatkan fakta-fakta. Dari hasil kajiannya itu, dia menegaskan, proyek pembangkit ini bisa berdampingan dengan keberlangsungan orangutan.

Pasalnya, PLTA ini memanfaatkan arus sungai Batang Toru. Artiannya PLTA berkepentingan menjaga ekosistem hutan. Dia bahkan menyebut pohon-pohon karet di area PLTA bisa diganti dengan pohon yang menjadi sumber panganan orangutan. Pohon yang dimaksud itu antara lain Durian, Rambutan, Jengkol dan lain-lain. Dengan begitu orangutan tak perlu lagi ke ladang kebun milik masyarakat untuk mencari makan.

"Dalam 10 tahun area bukaan yang digunakan PLTA bisa hijau kembali. Berbeda dengan tambang yang dalam 10 tahun semakin terbuka," ujar Emmy.

Baca Juga: PLTA Batang Toru Didesain Tahan Gempa

Di tempat yang sama, Communications and External Affairs Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), Firman Taufick, menerangkan PLTA ini memanfaatkan arus sungai (run off river) Batang Toru. Bukan menggunakan dam sebagaimana PLTA pada umumnya.

Mekanisme run off river ini menggunakan kolam tandon harian yang menampung air. Tandon itu kemudian dialirkan menuju terowongan bawah tanah menuju power house untuk memutar turbin dan menghasilkan 510 MW. Dengan begitu pihaknya berkomitmen menjaga hutan sebagai penyimpan air.

"Kami punya program biodiversity sehingga tidak mengganggu suplai air maupun menjaga habitat satwa. Bukan hanya orangutan, namun tapir, harimau, dan ikan endemik," terang Firman.

Firman mengungkapkan, kehadiran PLTA Batang Toru berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sekitar 1,6 juta ton CO2 per tahun. Kontribusi itu sekitar 4 persen dari target nasional atau setara dengan 12,3 juta pohon. Selain itu proyek ini menurunkan emisi nasional 29 persen pada 2030. "Proyek ini bagian dari upaya nasional dalam mengurangi pemanasan global," ungkap Firman Taufick.

Firman menambahkan, progres proyek ini sudah mencapai sekitar 11 persen. Nantinya PLTA Batang Toru bakal menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel di wilayah Sumatera. Dengan kapasitas 510 MW berarti ada penghematan dari pemakaian bahan bakar Solar senilai US$ 400 juta per tahun atau setara Rp 5,6 triliun.



Sumber: BeritaSatu.com