Imam Nahrawi Minta Maaf Kepada Jokowi, JK dan PB NU

Imam Nahrawi Minta Maaf Kepada Jokowi, JK dan PB NU
Imam Nahrawi berpamitan ke seluruh staf kemenpora setelah memutuskan mengundurkan diri sebagai menteri pemuda dan olahraga, Kamis, 19 September 2019. ( Foto: istimewa )
Aichi Halik / AHL Kamis, 19 September 2019 | 17:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Hal itu disampaikan Imam usai penetapan dirinya sebagai tersangka suap dana hibah KONI oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Permohonan maaf saya kepada Presiden dan Wakil Presiden, Ketua Umum PKB, Ketua Umum PB NU, dan seluruh rakyat Indonesia," kata Imam Nahrawi kepada wartawan di Kantor Kempora, Jakarta Selatan, Kamis (19/9/2019).

Selain meminta maaf, Imam juga berterima kasih kepada seluruh staf dan karyawan di Kementerian Pemuda dan Olahraga atas kerjasama mereka selama menjabat Menpora.

"Sekaligus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat saya, kolega saya di Kementerian Pemuda dan Olahraga, semua staf dan karyawan, honorer, mulai dari sekuriti sampai eselon satu bahwa pada hari ini Kamis 19 September 2019 saya Imam Nahrawi sudah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Jokowi," ujar Imam.

"Saya harus fokus menghadapi dugaan tuduhan KPK, dan sudah barang tentu saya harus mengikuti proses hukum yang ada," imbuh Imam.

Seperti diketahui, KPK menetapkan Menpora Imam Nahrawi sebagai tersangka kasus suap pemberian dana hibah KONI.

Imam diduga menerima uang sebesar Rp26,5 miliar sebagai bentuk commitment fee pengurusan proposal yang diajukan KONI kepada Kemenpora.

"Total dugaan penerimaan Rp26,5 miliar diduga commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI ke Kemenpora, terkait Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan selaku Menpora," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dalam konferensi pers di gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/9/2019).

Uang itu diterima secara bertahap yakni sebesar Rp14,7 miliar dalam rentang waktu 2014-2018 melalui asisten pribadinya, Miftahul Ulum, yang juga menjadi tersangka dalam perkara ini.



Sumber: BeritaSatu TV