Korupsi Bakamla, Pengacara: Erwin Keliru Sampaikan Pesan Percakapan dengan Fayakun

Korupsi Bakamla, Pengacara: Erwin Keliru Sampaikan Pesan Percakapan dengan Fayakun
Sidang pemeriksaan terdakwa kasus suap pengadaan alat satelit monitoring dan drone di Bakamla, Erwin Syaaf Arief di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin, 16 September 2019. ( Foto: Istimewa / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / AO Selasa, 17 September 2019 | 14:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ardy Susanto, penasihat hukum terdakwa kasus suap pengadaan alat satelit monitoring dan drone di Badan Keamanan Laut (Bakamla), Erwin Syaaf Arief mengaku bahwa kliennya hanya keliru menyampaikan pesan percakapan dengan mantan anggota Komisi I DPR, Fayakun Andriadi. Menurut Ardy, pesan tersebut bukan percakapan antara Erwin dan Fayakun, melainkan Erwin hanya meneruskan pesan.

"Itulah salah satu keteledoran Erwin. Dia teledor karena meneruskan ini. Jelas itu bukan percakapan Erwin Arief, tetapi itu percakapan yang dibuat dalam perbuatan pidana. Ini yang disangkakan kepada Erwin," ujar Ardy di sidang pemeriksaan terhadap Erwin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (16/9/2019).

Dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (17/9/2019), Ardy mengatakan, Erwin Arief hanya membantu mantan anggota Komisi I DPR, Fayakun Andriadi, pada proyek pengadaan alat satelit monitoring dan drone di Bakamla. Erwin memberikan bantuan karena faktor pertemanan dengan Fayakun.

Dia menegaskan, proyek tersebut sudah disiapkan oleh Fahmi Darmawansah, Direktur PT Merial Esa Indonesia, bersama dengan Fayakun. "Peran terdakwa produsen yang mempersiapkan barang. Sudah di-create bersama Fahmi Darmawansah dan Fayakun, kemudian mereka mencari terdakwa Erwin Arief," jelas dia.

Di persidangan sebelumnya terungkap bahwa Fayakhun disebut-sebut menerima Rp 12 miliar dari proyek pengadaan alat satelit monitoring. Penerimaan itu dilakukan sebanyak empat kali transfer. Fayakhun disebut memberikan sebuah akun perusahaan kepada Erwin sebagai realisasi komitmen fee dari proyek tersebut, antara lain Hangzhou Plastic co Ltd, Guangzhou Ruiqi Oxford, Cloth co Ltd, Omega Capital Aviation Limited, dan JP Morgan International Bank limited, Brussels.

Politisi Partai Golkar itu sempat mengaku akunnya diretas. Namun, belakangan dia mencabut laporan di kepolisian mengenai akunnya yang diretas. "Percakapan Erwin Arif dan Fayakun memang ada. Erwin tidak pernah mau menutupi. Itu karena fakta sudah ada bukti diambil penyidik mau bohong apa lagi," kata dia.

Pada persidangan tersebut terdakwa Erwin Arief mengaku sudah mengembalikan uang 35.000 Euro ke KPK. Uang itu berasal dari rekening pribadi yang diblokir KPK. "Saya menggunakan uang pribadi yang diblokir. Uang itu yang diblokir oleh KPK, dikembalikan pakai uang pribadi," tutur Erwin di sidang pemeriksaan tersebut.

Erwin mengaku sempat didesak Fayakhun bertemu Direktur Utama PT Merial Esa Indonesia, Fahmi Darmawansyah setelah anggaran proyek Bakamla disahkan DPR. Hal ini karena Fayakhun kesulitan menghubungi Fahmi Darmawansyah. Menurut dia, Fayakhun dan Fahmi Darmawansyah mempunyai kesepakatan di proyek itu.

Dia mengirimkan pesan singkat dari Fayakhun pada Fahmi melalui orang kepercayaannya Adami Okta. Akhirnya, Erwin mengetahui Fahmi memberikan uang fee sekitar USD 911 ribu kepada Fayakhun. Bukti transfer uang fee itu diperlihatkan dari Adami Okta.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK mendakwa Managing Director PT Rohde dan Schwarz Indonesia, Erwin Arief, menerima uang 35 ribu Euro. Uang tersebut merupakan selisih pembayaran pemesanan (Purchase Order) satelit monitoring produk Rohde & Schwarz pada tanggal 25 Juli 2016 oleh PT Merial Esa kepada PT Rohde & Schwarz Indonesia dengan nilai kontrak 11.250 Euro.



Sumber: BeritaSatu.com