PII Susun Basis Data Keinsinyuran Pertama di Indonesia

PII Susun Basis Data Keinsinyuran Pertama di Indonesia
Presiden Joko Widodo menerima penghargaan The AFEO Distinguished Honorary Patron Award dari ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) dalam acara Konferensi Organisasi Insinyur se-ASEAN ke-37 (CAFEO37) di Jakarta, 11 September 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / JAS Rabu, 11 September 2019 | 16:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Tahun 2019 ini menjadi tahun yang penting bagi insinyur Indonesia. Selain menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Organisasi Insinyur ASEAN ke-37 (CAFEO37) di Jakarta, tahun ini juga menjadi momentum Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Mereka memulai langkah pertama menuju era transformasi keinsinyuran, setelah disahkannya UU Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran serta Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019 yang merupakan peraturan pelaksana dari undang-undang tersebut.

Ketua PII, Heru Dewanto menyampaikan, perubahan ke depan diyakini akan semakin cepat. Revolusi teknologi juga bergerak melesat. Tidak ada pilihan lain, Indonesia harus berlari kencang mengejar gelombang perubahan tersebut. PII juga menyadari sumber daya manusia unggul menjadi kunci penting dari perubahan tersebut, karena inovasi yang hebat tidak akan lahir dari para medioker.

“Ini bukan hal mudah, mencetak SDM unggul harus dimulai dari sebuah data base (basis data) sehingga kita tahu peta kekuatan kita, sebelum membuat sebuah peta jalan yang terintegrasi menuju tujuan bersama. Bukankah data lebih mahal daripada minyak?” kata Heru Dewanto saat membuka CAFEO37, di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Heru melaporkan, PII saat ini juga tengah membuat basis data keinsinyuran, setelah Presiden menerbitkan PP 25 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Nomor 11 Tahun 2014. Menurut Heru, inilah pintu masuk untuk menyusun basis data keinsinyuran pertama di Indonesia. Data base ini diharapkan bisa menjadi sumbangsih PII yang nantinya bisa disinergikan dengan pusat manajemen talenta yang akan dibuat pemerintah.

“Diberlakukannya undang-undang keinsinyuran tahun ini melalui peraturan pemerintah yang dikeluarkan bapak Presiden, di mana setiap insinyur yang melakukan praktek keinsinyuran harus disertifikasi dan diregistrasi," papar Heru.

"Inilah pintu masuk kami untuk menyusun data base keinsinyuran pertama di indonesia yang akan berisikan lebih dari 1 juta talenta-talenta terbaik bangsa, tentu nama bapak Ir Joko Widodo ada di dalamnya, lengkap dengan klasifikasi dan standar kompetensinya,” ujar Heru.

Tidak hanya itu, Heru mengatakan standardisasi kompetensi ini juga memungkinkan diberlakukannya standardisasi remunerasi, termasuk untuk insinyur asing yang bekerja di Indonesia.

“Terobosan undang-undang ini bukan hanya milik insinyur dan sarjana teknik saja. Kini lulusan vokasi pun bisa bergelar profesi insinyur dan menjadi bagian dari data base keinsinyuran Indonesia. Inilah semangat baru keinsinyuran, insinyur untuk semua, dan menjadi kebanggaan semua,” tuturnya.

Heru menambahkan, sertifikasi yang dijalankan PII juga sudah disetarakan di tingkat ASEAN dan Asia Pasifik. Artinya mereka yang sudah mendapatkan sertifikat insinyur profesional madya dianggap setara dengan insinyur di ASEAN dan seluruh Negara Asia Pasifik.

Penghargaan untuk Jokowi

Terkait penyelenggaraan CAFEO37 di Jakarta, menurut Heru kegiatan ini lebih dari sekadar acara seremoni tahunan. Konferensi kali ini juga menjadi etalase kebanggaan yang menampilkan pencapaian pembangunan Indonesia kepada dunia internasional.

Dalam konferensi ini, organisasi insinyur dari 10 negara ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO) juga bersepakat untuk memberi penghargaan The AFEO Distinguished Honorary Patron Award kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Heru menyampaikan, penghargaan ini diberikan kepada Jokowi atas prestasinya membangun infrastruktur dalam lima tahun terakhir. Bahkan pembangunan yang dilakukannya ini telah melampaui pencapaian negara-negara ASEAN lainnya.

“Pembangunan infrastruktur yang dilakukan Presiden Jokowi telah memberikan dampak yang besar bagi Indonesia dan juga masyarakatnya. Hal ini terlihat dari beberapa peningkatan indikator, antara lain antara lain easy of doing business (kemudahan berbisnis) dan juga infrastructure index (indeks infrastruktur), sehingga ikut mendorong peningkatan competitiveness index,” ujar Heru.

Mengomentari penghargaan yang diterimanya ini, Jokowi mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang dijalankannya selama lima tahun terakhir ini merupakan hasil hasil kerja keras dari para insinyur Indonesia. Para insinur ini, ungkap Jokowi, tidak pernah lelah bekerja di daerah terpencil, daerah pedalaman, hingga daerah perbatasan untuk membangun Indonesia. “Sepatutnya merekalah yang berhak mendapatkan penghargaan ini,” kata Jokowi.

Jokowi juga mengaku senang karena insinyur se-ASEAN kini sudah memiliki standar kompetensi yang sama. “Saya senang muncul recognition agreement di antara insinyur-insinyur di ASEAN, sehingga terdapat standar kompetensi yang sama di antara negara,” kata Jokowi.

Perjanjian tersebut, kata Jokowi, memungkinkan mobilitas para insinyur lintas negara di ASEAN lebih mudah. Jokowi juga berharap AFEO bisa memfasilitasi anggotanya untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta saling bersinergi satu dengan yang lainnya.

“Kerja sama antarinsinyur di ASEAN ini penting untuk terus ditingkatkan dan saya yakin setiap negara ASEAN punya kekuatan masing-masing,” ujar Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com